Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meregang Nyawa Dalam Sunyi, Derita Isoman Tak Tertangani

Lonjakan kasus jangkitan Covid-19 mulai pertengahan tahun 2021 sudah dapat di prediksi sebelumnya. Mobilitas masyarakat yang tinggi pasca Idul Fitri lalu, dan Iklim pancaroba membuat daya imunitas menurun, menjadi faktor pendorong peluang meningkatnya jangkitan virus Covid-19. Peralihan Musim dari panas ke Hujan menyebabkan meningkatnya kelembapan udara, hingga potensi masyarakat terjangkit penyakit inveksius yang lain seperti demam berdarah, typus dan lain-lain juga meningkat.

Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd

"Naik-naik ke puncak Gunung"... Sepenggal Lagu tersebut nampaknya sedikit menggambarkan Angka jangkitan Covid-19 di Indonesia yang semakin hari semakin meningkat tak terkecuali daerah-daerah di Jawa Barat..

Lonjakan kasus jangkitan Covid-19 mulai pertengahan tahun 2021 sudah dapat di prediksi sebelumnya. Mobilitas masyarakat yang tinggi pasca Idul Fitri lalu, dan Iklim pancaroba membuat daya imunitas menurun, menjadi faktor pendorong peluang meningkatnya jangkitan virus Covid-19. Peralihan Musim dari panas ke Hujan menyebabkan meningkatnya kelembapan udara, hingga potensi masyarakat terjangkit penyakit inveksius yang lain seperti demam berdarah, typus dan lain-lain juga meningkat.

Harus kita pahami bahwa Ruang ICU diperuntukan bukan hanya untuk pasien covid saja, tapi juga untuk pasien dengan penyakit berat lainnya yang memerlukan penanganan khusus dan terpantau seperti diabetes, jantung, dan lain-lain.

Melonjaknya jangkitan Covid karna faktor-faktor tadi menyebabkan bad occupancy rate atau keterpakaian tempat tidur di RS tinggi, ICU penuh oleh pasien Covid. Pasien dengan penyakit berat lain yang membutuhkan penanganan khusus sulit untuk mencari kamar. Akhirnya no telepon rujukan sibuk, sementara tidak semua daerah mempunyai Rumah sakit Kelas A (rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis secara luas. Rumah sakit kelas A ditetapkan sebagai tempat pelayanan rumah sakit rujukan tertinggi atau rumah sakit pusat). Masyarakat sulit untuk mendapatkan akses pelayanan di Rs.

IGD penuh, Ruang ICU di peruntukan untuk gejala berat, Ruang rawat biasa untuk gejala sedang, gejala Ringan Isoman. Seharusnya yang melakukan Isoman adalah yang OTG. Imbas dari orang2 yg bergejala Ringan melakukan Isolasi mandiri di Rumah adalah semakin banyak munculnya cluster keluarga dan semakin luas lg jangkitan covid.

Keadaan di perparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang Isolasi mandiri di Rumah yang benar dan aman, tidak terpantau, dan tidak disertai dengan penanganan medis memadai. Akibatnya, nyawa pasien yang melakukan Isolasi mandiri (isoman) di Rumah terancam.

Banyak kasus pasien yg sedang melakukan Isoman meninggal dunia, kebanyakan dari kasus-kasus tersebut masih satu keluarga. Lapor Covid-19 melaporkan, sedikitnya ada 675 orang yang menjalani isoman karna terjangkit covid di nyatakan meninggal dunia per Juni lalu (DetikNews com, 18/7/2021).

Dapat di bayangkan bagaimana pilunya jika kerabat, sanak saudara atau keluarga kita tercinta termasuk salah satu dari pasien yang meninggal dunia saat Isoman. Dalam sunyi menahan sakit, saat malaikat maut datang menjemput. Angka tersebut tentu tidak bisa di anggap Remeh, karna itu Adalah nyawa. Lantas siapa yang paling bertanggung jawab?

Sayangnya, saat ini kita hidup di dalam sistem Pemerintahan Kapitalisme yang menstandarkan segala sesuatu berdasarkan untung Rugi, "gelagapan" karna tidak memiliki mekanisme pencegahan, penanggulangan dan pendanaan yang jelas saat menghadapi wabah. Solusi dan kebijakan yang di berikan pun terkesan setengah hati, plin-plan, tidak konsisten, tidak solutif, dan semakin menghilangkan kepercayaan Masyarakat terhadap Penguasa.

Itulah resiko hidup di atur dengan sistem Kapitalisme. Andai kita mau melirik Solusi Islam, berkaca dari bagaimana Rasulullah dan Kholifah terdahulu dalam menanggulangi wabah. Mengambil langkah Lockdown total di awal dan menjamin kebutuhan masyarakat dari Baitul Mall. Dalam Islam, Kesehatan merupakan kebutuhan Primer bagi Masyarakat. sehingga pemenuhannya, dr mulai Keterjaminan adanya Fasilitas kesehatan, kemudahan Akses, Pelayanan, hingga gaji tenaga kesehatan akan menjadi perhatian serius. Islam memandang bahwa nyawa seorang Mukmin itu sangat berharga. Sebagaimana hadist Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Semoga Adanya wabah Covid ini, bisa menjadi pengingat bagi kita semua agar jangan lagi berharap pada sistem buatan manusia. Sistem Kapitalisme selalu membawa kita kepada kerusakan dan kesengsaraan. Hanya kembali kepada Islamlah semua masalah kehidupan bisa teratasi. Solusi kaffah, yang berasal dari Allah SWT yang menuntun kita menuju Ridho-Nya. Sejahtera, bahagia, berkah Dunia Akhirat. Wallahu'Alam.

Post a Comment for "Meregang Nyawa Dalam Sunyi, Derita Isoman Tak Tertangani"