Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEAGUNGAN TAKBIR

takbir bukan kalimat yang ringan, sebab takbir adalah kalimat yang menunjukan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala. Pengulangan berkali-kali kalimat takbir pada beberapa kondisi dan keadaan yang sudah dijelaskan sebelumnya, pasti memiliki pengaruh keimanan dalam kehidupan seorang muslim dan akan meninggikan kedudukan dan derajatnya di sisi Allah. Dengan catatan ucapan takbir ini dibarengi dengan kesadaran spiritual yang tinggi, yakni berupa kesadaran bahwa dibalik keberadaan alam semesta dan makhluk di dalamnya, ada Sang Khaliq yang menciptakan semuanya serta menurunkan aturan kehidupan syariah Islam demi keselamatan dunia dan akhirat. Allahu Akbar!

قول العبد الله أكبر خير من الدنيا وما فيها

“Ucapan Allahu Akbar seorang hamba lebih baik dari dunia dan seisinya.” (Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu).

Kalimat takbir “Allahu Akbar” memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam, ketika disebut “Allahu Akbar” seorang muslim memahami yang agung hanya Dia, tidak ada yang lebih besar dari-Nya, Allah adalah penguasa yang segala sesuatu tunduk pada-Nya. Takbir merupakan deklarasi keagungan Allah, sekaligus ketundukan hati akan kebesaran-Nya.

Takbir juga merupakan suara perjuangan, yang diserukan para mujahid di jalan Allah saat perjalanan di medan perang. Sehingga mereka merasakan keagungan, kekuatan, kebesaran dan kebersamaan Allah, yang melahirkan kekuatan, keteguhan, keikhlasan dan keperkasaan bagi para mujahid. Kalimat takbir bukan hanya ditakuti syaithan, bahkan sepanjang sejarah peradaban Islam syiar takbir memunculkan berbagai kejadian luar biasa tak terbayangkan.

Secara normatif takbir disyariatkan dalam berbagai momen besar dan agung, serta beragam keadaan lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah berkata mengenai hal ini:

ذكرٌ مأثورٌ عند كل أمرٍ مهُول، وعند كل حادِثِ سُرورٍ، شُكرًا لله تعالى، وتبرئةً له من كل ما نَسَبَ إليه أعداؤُه

Takbir adalah dzikir ma’tsur ketika menghadapi berbagai peristiwa getir dan berbagai momen bahagia; sebagai rasa syukur kepada Allah sekaligus pengingkaran dari segala tuduhan musuh Allah terhadap-Nya. (Fath al-Bari, II/438).

Karena itu jika dihitung, syiar takbir hadir di dalam enam belas kondisi dan keadaan seorang muslim, kurang lebih sebagai berikut:

Pertama, takbir yang berkaitan ibadah shalat; baik adzan, iqamat hingga akhir shalat, yang jika ditotal sesuai pendapat jumhur ada 447 takbir, sedangkan sesuai pendapat Hanafiyyah ada 457 takbir. (Lihat, ‘Abdus Sami al-Anis, at-Takbir: Mawathinuh wa Atsaruh fi at-Tarbiyyah wa al-Imaniyyah, 3/5/2016).

Kedua, takbir karena melihat hilal; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal, bertakbir:

‏اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنا بالأمْنِ والإِيْمَانِ والسَّلامَةِ والإِسلامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبُّنا وَتَرْضَى رَبُّنا وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allahu Akbar! Ya Allah, nampakkan hilal kepada kami dengan aman, iman, keselamatan, Islam dan taufik untuk melakukan apa yang dicintai dan diridhai Rabb kami. Rabb kami dan kamu adalah Allah.” (HR. ad-Darimi, 1729; dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma).

Ketiga, takbir di bulan Dzulhijjah, yang dianjurkan diperbanyak pada sepuluh hari di bulan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ والتحميد

“Tidak ada suatu hari yang lebih agung di sisi Allah dan tiada pula hari yang lebih Dia cintai untuk beramal daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad, 6154; Hasan menurut Ibnu Hajar rahimahullah).

Keempat, takbir yang merupakan ciri khas ibadah haji; baik saat melempar jumrah, saat beranjak dari Mina ke Arafah, ketika thawaf dan kegiatan rangkaikan manasik haji lainnya.

Kelima, takbir idul fithri dan idul adha; baik saat malam menjelang pelaksaan shalat id, termasuk pula takbir di dalam pelaksanaan shalat id.

عن عَمرِو بنِ شُعَيبٍ، عن أبيه، عن جَدِّه: أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كبَّر في عيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرةَ تَكبيرةً، سبعًا في الأولَى، وخمسًا في الآخرة، ولم يُصلِّ قَبلَها ولا بَعدَها

Dari ‘Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir sebanyak dua belas kali dalam shalat id, tujuh kali di rakaat pertama, dan lima kali di rakaat terakhir, dan beliau tidak melaksanakan shalat sunnah sebelumnya juga sesudahnya.” (HR. Ahmad, 6688; Isnad Hasan menurut Syaikh al-Arnauth).

Keenam, takbir ketika naik tunggangan atau kendaraan dan berangkat bepergian.

كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ...

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan hendak bepergian, maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali kemudian berdoa…” (HR. Muslim).

Ketujuh, takbir ketika menaiki tempat tinggi; selain disunnahkan takbir saat safar, disunnahkan pula takbir ketika naik atau turun dari tempat tinggi, supaya merasakan kebersamaan Allah, keagungan dan penjagaan-Nya, serta merenungi hamparan bumi yang antar tepian dan ufuknya saling berjauhan. Sabda nabi:

أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالتَّكْبِيرِ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ

“Bertakwalah kamu kepada Allah dan bertakbirlah ketika melalui tempat yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi, 3445; Ibnu Majah, 2771; dan Ahmad, 8310; Isnad Hasan menurut Syaikh al-Arnauth).

Kedelapan, takbir ketika menyembelih kurban. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang berkata:

ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dua ekor domba putih yang bertanduk.” Anas melanjutkan, “Saya melihat beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, dan menginjakkan kaki di pangkal leher domba itu, sambil membaca basmalah dan takbir.” (HR. Muslim).

Kesembilan, takbir ketika mendengar kabar menyenangkan dan baik. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَبْشِرُوا، فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا

“Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Ya`juj dan Ma`juj.”

Beliau lanjut bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ

“Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat penghuni surga.”

Maka kami bertakbir. Kemudian beliau bersabda lagi:

أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ

“Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga penghuni surga.”

Maka kami bertakbir lagi. Kemudian beliau bersabda lagi:

أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ

“Aku berharap kalian menjadi di antara setengah penghuni surga.”, Maka kami bertakbir sekali lagi. (HR. al-Bukhari).

Kesepuluh, takbir ketika ada musibah kebakaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْحَرِيقَ فَكَبِّرُوا، فَإِنَّ التَّكْبِيرَ يُطْفِئُهُ

“Jika kalian melihat kebakaran, maka bertakbirlah, karena sesungguhnya takbir dapat memadamkannya.” (HR. ath-Thabarani, al-Baihaqi dan Ibnu as-Sani; Lihat, al-Maqashid al-Hasanah, 63; Zad al-Ma’ad fi Hady Khair al-‘Ibad, IV/ 194).

Sehingga ketika kita sedang berupaya memadamkan api kebakaran, maka dianjurkan seorang muslim sambil mengumandangkan takbir dari hati yang ikhlas dan kekuatan keyakinan kepada Allah.

Kesebelas, takbir ketika merendahkan diri dalam shalat istisqa’ yakni shalat minta hujan. Siapa yang mengucapkan takbir, maka artinya berdalil berdasarkan hadits yang diriwatkan ad-Daruquthni (1800) dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau bertakbir dalam shalat istisqa’ tujuh dan lima kali, sebagaimana shalat id, lalu membaca surat al-A’la dan al-Ghasiyyah. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Diriwayatkan Ibnu ‘Abbas, beliau melakukan takbir sebagaimana shalat id.” (al-Istidzkar, II/428).

Keduabelas, takbir ketika adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, bagi anak yang baru lahir. Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (Dar al-Fikr, VIII/442) disebutkan:

السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف. قال جماعة من أصحابنا يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى

Sunnah mengumandangkan adzan di telinga bayi baru lahir, baik bayi laki-laki maupun perempuan, dengan redaksi adzan shalat sesuai hadits Abu Rafi’ yang disebutkan penulis al-Muhadzdzab. Sekelompok ulama kita menyatakan: disunnahkan mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.

Ketigabelas, takbir dalam shalat jenazah, yang berjumlah empat kali takbir sesuai keterangan as-sunnah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَعَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ النَّجَاشِيَّ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَفُّوا خَلْفَهُ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian an-Najasyi kepada para sahabatnya, kemudian beliau maju dan membuat barisan shaf di belakang, beliau lalu takbir empat kali.” (HR. al-Bukhari).

Keempatbelas, takbir yang diucapkan demi “membuka pintu langit” (yakni ucapan yang sampai ke langit dan diterima Allah). Dari Ibnu ‘Umar berkata: Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Mahabesar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertanya:

مِنَ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟

“Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?”

Seorang Sahabat menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:

عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ

“Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu.”

Kata Ibnu ‘Umar, “Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal itu.” (HR. Muslim).

Kelimabelas, takbir yang banyak diucapkan diluar keadaan sebelumnya. Sebab bacaan Allahu Akbar, pahalanya bisa memenuhi langit dan bumi. Dalam hadits disebutkan:

التَّسْبِيحُ نِصْفُ الْمِيزَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَمْلَؤُهُ وَالتَّكْبِيرُ يَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Bacaan tasbih adalah separuh timbangan, alhamdulillah memenuhinya, dan takbir memenuhi antara langit dan bumi,” (HR. Ahmad, dan at-Tirmidzi, menurut beliau hasan).

Keenambelas, takbir sebagai dzikir atau wirid amalan shalih, dan sebagai salah satu dari empat kalimat paling disukai Allah. Dalam hadits disebutkan:

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah subhanahu wa ta’ala: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, dan Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.” (HR. Muslim).

Khatimah

Menjadi jelaslah bahwa takbir bukan kalimat yang ringan, sebab takbir adalah kalimat yang menunjukan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala. Pengulangan berkali-kali kalimat takbir pada beberapa kondisi dan keadaan yang sudah dijelaskan sebelumnya, pasti memiliki pengaruh keimanan dalam kehidupan seorang muslim dan akan meninggikan kedudukan dan derajatnya di sisi Allah. Dengan catatan ucapan takbir ini dibarengi dengan kesadaran spiritual yang tinggi, yakni berupa kesadaran bahwa dibalik keberadaan alam semesta dan makhluk di dalamnya, ada Sang Khaliq yang menciptakan semuanya serta menurunkan aturan kehidupan syariah Islam demi keselamatan dunia dan akhirat. Allahu Akbar!

Oleh: Yan S. Prasetiadi

11 Dzulhijjah 1442 H

Post a Comment for "KEAGUNGAN TAKBIR"