Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membentuk Ketakwaan Individu Setelah Ramadhan, Butuh Peran Negara

Takwa berarti melindungi. Yaitu melindungi dari murka dan azab Allah. Dengan cara menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Ramadan telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak takwa pada para mukmin. Rangkaian ibadah wajib dan sunnah dengan semangat berlimpah pahala menghiasi sepanjang hari-hari bulan keberkahan tersebut.

Oleh: Banowati

"Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa" (Terjemah QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa berarti melindungi. Yaitu melindungi dari murka dan azab Allah. Dengan cara menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Ramadan telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak takwa pada para mukmin. Rangkaian ibadah wajib dan sunnah dengan semangat berlimpah pahala menghiasi sepanjang hari-hari bulan keberkahan tersebut.

Ketakwaan itu seyogianya terpelihara dan terjaga sepanjang sebelas bulan berikutnya. Bagaimana caranya? Tentu dengan melanjutkan kebiasaan rutin Ramadan. Di antaranya dengan menyambung puasa 6 hari di bulan syawal. Hadis riwayat Muslim menyebutkan, "Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh."

Kebiasaan salat berjamaah dan salat sunnah menambah kekhusyukan ibadah salat. Tilawah dan tadabur Alquran mutlak harus lebih fokus untuk bisa memahami isinya dan bersegera melaksanakan dan menyebarkan berbagai ketentuan aturan Islam. Berikutnya juga menuntut ilmu di dalam majelis yang kini bisa mudah didapat dan diikuti baik yang online maupun offline, baik yang berbayar maupun yang bebas gratis. Saum sunnah, zikir, sedekah adalah amal yang akan menambah kedekatan kita dengan Allah.

Ketakwaan juga menuntun mukmin menjadi manusia yang berhati lembut kepada saudara sesama muslim dan tegas serta keras kepada musuhnya dan musuh Allah. Kalau saat ini banyak kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa negeri ini sehingga mengakibatkan kesengsaraan umat muslim khususnya, maka harus dipertanyakan, seberapa berpengaruhkah Ramadan bagi mereka? Ramadan demi Ramadan serasa lewat tak berbekas. Pajak yang semakin membelit rakyat, pendidikan yang belum mampu mengangkat taraf berpikir solutif, kesehatan yang belum merata, sementara korupsi malah merajalela. Para penguasa itu seolah lupa kalau mereka diberi kuasa oleh rakyat adalah untuk mengurusi dan melayani rakyat. Nyatanya justru mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan individu dan kroni-kroninya. Seakan mereka menegaskan kalau hanya mereka yang kuasa membuat aturan dan mereka pula yang kuasa menyelisihinya.

Ramadan hanya mereka maknai sebatas individu, salat puasa zikir hanya untuk kepuasan ibadah mahdoh, tanpa dikaitkan atau berdampak pada hubungannya dengan manusia lain atau di saat mereka membuat aturan sekalipun. Sekularisme telah memisahkan antara keyakinan individu beragama dengan kehidupan nyata di dunia.

Padahal takwa mengajak tunduk kepada seluruh aturan hukum syariat-Nya. Tentang ibadah individu dengan Allah, tentang bermuamalah dan sangksi, bahkan tentang jihad mengusir penjajah dari negeri muslim pun adalah bagian dari syariat Islam yang mesti diterapkan sempurna oleh orang-orang bertakwa. Keadilan hanya dapat diraih dengan diterapkannya syariat Islam, aturan yang berasal dari Allah pencipta manusia. Keserakahan penguasa dengan dalih melaksanakan undang- undang yang dibuatnya melahirkan kekacauan tatanan kehidupan, menjauhkan rasa aman dan keadilan rakyat. Pasti jauh pula dari Rahmat Allah.

Amar makruf nahi mungkar adalah karakter orang bertakwa. Orang yang menjaga agar senantiasa hukum-hukum Allah terjaga dan diterapkan di segala lini kehidupan. Mengajak selalu berbuat kebaikan agar terbentuk pribadi taat penebar manfaat. Mencegah kemungkaran hingga tercegah menjadi pribadi pembuat kerusakan. "Kalian adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar," (Terjemah QS. Al-Imran: 110)

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'anhu menyebutkan empat ciri takwa, yaitu 1) orang yang takut kepada Allah yang Agung, 2) orang yang menjalankan apa yang diturunkan oleh Allah, 3) orang yang rida terhadap yang sedikit, 4) orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penggiringan.

Istikamah dalam ketaatan hingga Allah janjikan surga, yang hanya bisa diraih oleh orang-orang bertakwa. Kesuksesan menjaga diri dari siksa api neraka tak cukup hanya dilakukan oleh individu per individu saja. Melainkan harus berjamaah. Dalam skala lebih luas, penjagaan itu dilakukan oleh institusi negara yang menerapkan aturan Islam yang paripurna. Karenanya untuk mewujudkan ketakwaan individu, dibutuhkan peran masyarakat dan negara yang menerapkan sistem Islam dalam sebuah institusi.

Wallahu a'lam bi ash-shawab

Post a Comment for "Membentuk Ketakwaan Individu Setelah Ramadhan, Butuh Peran Negara"