Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Olimpiade Ramadhan Raih Takwa

Olimpiade umumnya diidentikkan dengan pertandingan olahraga internasional empat tahunan. Perlombaan sains, seni atau matematika juga sering diolimpiadekan. Peserta olimpiade bukanlah sembarang orang. Atlit handal dicabangnya atau siswa/mahasiswa cerdas di bidangnya. Kegigihan, keuletan, berjiwa saing tinggi adalah makanannya. Sudah terlatih teruji di banyak perlombaan sebelumnya. Melakukan banyak persiapan jauh hari, agar predikat juara diraihnya. Tak tanggung-tanggung hadiah besar (penghargaan/uang) menanti bagi pemenangnya

Oleh: Tri Melinda

Olimpiade umumnya diidentikkan dengan pertandingan olahraga internasional empat tahunan. Perlombaan sains, seni atau matematika juga sering diolimpiadekan. Peserta olimpiade bukanlah sembarang orang. Atlit handal dicabangnya atau siswa/mahasiswa cerdas di bidangnya. Kegigihan, keuletan, berjiwa saing tinggi adalah makanannya. Sudah terlatih teruji di banyak perlombaan sebelumnya. Melakukan banyak persiapan jauh hari, agar predikat juara diraihnya. Tak tanggung-tanggung hadiah besar (penghargaan/uang) menanti bagi pemenangnya.

Ada olimpiade yang jauh lebih agung hadiahnya dari di atas. Yang lebih baik dari bumi, langit dan seisinya. Yang menembus batas dunia fana dengan berbagai kenikmatan abadi. Olimpiade iman namanya. Hanya terjadi setahun sekali, pada penghulu bulan. Kesucian, keberkahan dan kemuliaan melingkupi bulan tersebut.

Ramadhan Olimpiade Orang Cerdas Sesungguhnya

Tak ada hal yang disukai dan dicintai ahli iman, kecuali pengampunan dosa-dosa dan taburan pahala berlipat ganda dari Allah SWT. Serta dibukakannya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka baginya. Semua itu tersedia saat Ramadhan. Hanya diperoleh melalui amal-amal shalih yang ikhlas karena Allah SWT. Seperti shaum, shalat tarawih, tahajud, infaq shadaqah, dzikir, tilawah Al Quran, jihad, thalabul ‘ilmi, berdakwah dan sebagainya.

Di dalamnya diturunkan kalamullah (Al Quran). Al huda (petunjuk) dan al furqan (pembeda antara yang haq dan batil), tak hanya bagi muslim tapi seluruh manusia. Sumber kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Tak akan tersesat manusia selama berpegang teguh padanya. Di sepuluh malam terakhirnya pun terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yaitu lailatul Qadar.

Merindunya ahli iman akan kehadirannya. Tak ingin terlewatkan kesempatan emas melakukan amalan terbaik. Berpacu dengan waktu untuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Sebagaimana firman Allah SWT :

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya : Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. Al Baqarah 148).

Kesabaran, ketaatan dan keyakinan dengan janji Allah menjadi poros pegangan. Tak mungkin berpegang pada poros tersebut kecuali orang cerdas. Yaitu yang paham hakikat tujuan hidupnya dan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW :

أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Artinya: Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang yang cerdas (HR.Imam At-Tirmidzi).




Takwa Tak Berbatas Waktu Tempat

La’allakum tattaquun. Frasa yang indah penutup surat Al Baqarah ayat 183. Allah menjanjikan bagi ahli iman mendapatkan predikat takwa dari puasa Ramadhan. Apa itu takwa ?

Banyak ciri yang dikemukakan Allah dalam Al Quran terkait orang-orang bertakwa. Antara lain orang yang mengimani hal ghaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian harta, mengimani Alquran dan kitab sebelumnya, serta meyakini alam akhirat (QS al-Baqarah ayat 1-4). Orang yang menginfakkan hartanya pada saat lapang ataupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, jika melakukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya serta tidak meneruskan perbuatan dosanya (QS. Ali ‘Imran ayat 133-135). Tentu masih banyak ciri lain dari orang bertakwa yang disebutkan dalam Al Quran maupun hadits.

Imam ath-Thabari dalam kitab Jâmi al-Bayân li Tawîl al-Qurân, menjelaskan orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang telah Allah haramkan atas diri mereka dan melaksanakan perkara apa saja yang telah Allah titahkan atas diri mereka.

Pesan mendalam yang Rasulullah SAW sampaikan kepada Muadz bin Jabal ra saat Beliau mengutusnya ke Yaman adalah اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ. Artinya: Bertakwalah engkau kepada Allah di manapun engkau berada.

Kata haytsu bisa merujuk pada tempat, waktu dan keadaan. Pesan Rasulullah SAW kepada Muadz ra tersebut mengisyaratkan agar ia bertakwa kepada Allah SWT tak hanya di Madinah, atau saat turun wahyu-Nya, atau saat bersama Beliau, atau saat dekat dengan Masjid Nabi SAW. Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT di mana pun, kapan pun dan dalam keadaan bagaimana pun (Athiyah bin Muhammad Salim, Syarh al-Arbain an-Nawawiyyah, 42/4-8).




Totalitas Takwa

Apabila takwa adalah buah dari puasa Ramadhan, idealnya usai Ramadhan setiap muslim senantiasa berupaya menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Karena dalam Alquran sendiri tak hanya ayat kewajiban puasa yang diakhiri dengan frasa la’allakum tattaquun. Tapi juga di ayat-ayat lain seperti :

Hai manusia, beribadahlah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah ayat 21).

Bagi kalian, dalam hukum qishash itu ada kehidupan, wahai orang-orang yang memiliki akal, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah ayat 179).

Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus (Islam). Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain hingga kalian tercerai-berai dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa (TQS al-Anam ayat 153).

Berdasarkan ayat-ayat mulia di atas, ibadah (totalitas penghambaan pada Allah SWT), pelaksanaan hukum qishash, dan istiqamah di jalan Islam, dapat mengantarkan muslim meraih derajat takwa.

Artinya tak cukup dengan puasa muslim bisa meraih derajat takwa. Tapi harus dengan mengamalkan seluruh syariah-Nya secara ikhlas. Baik terkait akidah dan ubudiah; makanan, minuman, pakaian dan akhlak; muamalah (ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, budaya, dan sebagainya); maupun uqubat (sanksi hukum) seperti hudud, jinayat, ta’zir maupun mukhalafat. Bukan takwa namanya jika muslim biasa melakukan shalat, melaksanakan puasa Ramadhan atau bahkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah; sementara ia biasa memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat dan menolak penerapan syari’ah secara kâffah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Post a Comment for "Olimpiade Ramadhan Raih Takwa"