Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Vaksin Tak Menjamin Bebas Terinfeksi Covid-19 ?

pemerintah mengambil jalan keluar dengan vaksinasi. Upaya meyakinkan umat untuk percaya bahwa vaksinasi bisa mencegah agar jumlah korban tidak semakin tinggi. Adakah vaksinasi bisa diandalkan untuk menurunkan jumlah korban agar tidak bertambah tinggi?

Oleh : Lilik Yani

Ujian pandemi menimpa negeri tak kunjung henti. Berbagai kebijakan diterapkan demi mengatasi pandemi, namun hasilnya tak menunjukkan penurunan, justru korban semakin bertambah banyak harus dicarikan solusi.

Hingga pemerintah mengambil jalan keluar dengan vaksinasi. Upaya meyakinkan umat untuk percaya bahwa vaksinasi bisa mencegah agar jumlah korban tidak semakin tinggi. Adakah vaksinasi bisa diandalkan untuk menurunkan jumlah korban agar tidak bertambah tinggi?

Dilansir dari jpnn.com - Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D mengatakan, orang yang sudah disuntik vaksin COVID-19 harus tetap melaksanakan protokol kesehatan. Yakni menerapkan 3 M: memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak.

Meski sudah divaksin belum ada jaminan mereka menghasilkan antibodi yang cukup. Makanya perlu menjaga perilaku 3 M," kata Pandu Riono saat menjadi narasumber webiner bertema "Vaksinasi COVID19: Perspektif Klinis, Epidemiologis dan Etis" yang digelar Rotary Club of Surabaya dan Indonesia Bioethics Forum (IBF), Sabtu (16/1).

DetikHealth - Para ilmuwan berulang kali mengingatkan, vaksin Covid-19, yang ada saat ini tidak menjamin seseorang 100 persen kebal infeksi. Dalam uji klinis di Bandung, 25 relawan tetap terinfeksi, 8 di antaranya dari kelompok pemberian vaksin.

Uji klinis yang dilakukan di tempat lain, dengan berbagai jenis dan platform vaksin COVID-19, juga tidak ada yang mencapai efikasi 100 persen. Artinya tetap ada relawan uji yang tetap terinfeksi setelah disuntik vaksin.

Lalu apa manfaatnya divaksin? Menurut para ilmuwan, salah satu fungsi vaksin Covid-19 adalah meminimalkan dampak jika terinfeksi. Jika tanpa vaksin bisa sampai masuk ICU (intensive care unit), dengan vaksin gejala yang muncul bisa lebih ringan atau bahkan tanpa gejala.

Vaksin tidak menjamin akan kebal dari paparan virus Covid-19

Orang yang divaksin sistem tubuhnya membutuhkan waktu agar bisa memproduksi antibodi. Sementara jumlah korban banyak yang tidak terdeteksi. Dalam hal ini, banyak OTG yang berkeliaran karena tidak menyadari kalau mereka sakit. Artinya OTG bisa menjadi faktor terjadinya penularan tanpa disadari.

Kalau orang sudah divaksin kemudian hura-hura melupakan 3 M, maka tidak ada gunanya. Apalagi virus ini (corona) bisa bermutasi. Hingga hari ini diberitakan sudah lahir varian-varian baru yang ditemukan di Inggris dan berbagai negeri lainnya, termasuk negara tetangga. Varian baru dinilai lebih ganas dan lebih cepat penyebarannya.

Jadi perlu kesadaran diri dan terus ada sosialisasi bahwa mereka yang sudah divaksin pun, harus tetap menjaga protokol kesehatan.

Sedangkan tugas negara harus berusaha keras untuk menurunkan angka penularan dengan cara 3 M dan 3T (Tracing, Testing, Treatment). Ketika ditemukan korban Covid-19, maka harus segera ditindaklanjuti. Cek orang-orang yang berada di sekitar korban untuk dipastikan apakah positip terinfeksi atau tidak?

Jika tidak pun perlu karantina mandiri, dikhawatirkan masih dalam masa inkubasi. Sedangkan jika hasil positip maka segera dikarantina untuk mendapat penanganan yang baik. Jika tidak dilakukan pengecekan, bisa dibayangkan jika orang di sekitar korban itu bertebaran ke mana-mana. Akan menularkan kepada yang lain. Apalagi kalau jadi OTG akan sulit dideteksi jika tidak dilakukan pemeriksaan uji Covid-19.

Adanya varian baru yang lebih berbahaya dan lebih cepat penularannya, maka perlu diwaspadai. Sebagai masyarakat pentingnya 3M untuk menjaga diri masing-masing. Kesadaran protokol kesehatan inilah yang harus terus disosialisasikan. Bukan sekedar untuk kepentingan diri namun untuk kepentingan orang-orang sekitar.

Meskipun sudah diimunisasi, tetap perlu menjaga protokol kesehatan untuk diri masing-masing. Karena vaksinasi hanya upaya pencegahan bukan jaminan bebas terinveksi Covid-19 maupun varian baru lain yang bisa saja terus bermunculan.

Bagaiamana Islam Mengatasi Masalah Covid-19?

Corona atau Covid-19 menjadi pandemi di seluruh negeri. Tanpa melihat miskin atau kaya. Negara berkembang atau sudah modern secara tehnologi maupun pendapatan perkapita. Corona tak pilih kasih, semua kena paparan Corona hingga saat ini belum ada penyelesaiannya.

Kebijakan demi kebijakan pemerintah masing-masing negeri menjalankan upaya, ada yang hampir berhasil tapi ada yang semakin parah. Jumlah korban bukannya berkurang justru meningkat tak terkendali. Bahkan muncul varian-varian baru yang menambah kerisauan penduduk negeri.

Semua itu terjadi karena pemimpin negeri tidak menerapkan aturan Allah untuk mengatasi. Mereka justru sibuk membuat kebijakan sendiri sehingga hasil tak sesuai harapan. Bukannya mengatasi justru menambah masalah baru dengan jumlah korban tak terkendali.

Sedangkan pemerintah Islam, tak perlu repot membuat kebijakan sendiri. Tinggal menerapkan saja aturan yang diberikan Allah lewat teladan Rasulullah Saw. Saat itu ketika terjadi wabah, Rasul langsung memerintahkan untuk segera diisolasi. Penutupan seluruh pintu hingga penduduk yang diluar tak bisa masuk. Sedangkan yang di dalam tidak bisa keluar. Sehingga bisa menekan terjadinya penularan.

Umat yang sakit mendapat pengobatan memadai. Sedangkan yang sehat mendapatkan nutrisi bergizi untuk imunitas. Sementara wilayah yang tidak terkena wabah tetap beraktivitas seperti biasa, baik itu pendidikan, perkantoran, pemerintahan, perekonomian, hingga semua berjalan lancar tidak terjadi defisit maupun inflasi.

Jika mengikuti aturan dari Allah, maka semua akan menjadi mudah, tidak berbelit-belit seperti pemerintahan kapitalis yang ujung-ujungnya justru membawa pada kesengsaraan umat. Bukannya mengatasi masalah justru muncul masalah baru yang lebih rumit penyelesaiannya.

Sedangkan aturan Islam jika ditaati akan membawa pada keberkahan dan kesejahteraan. Jika demikian, masihkah menunda-nunda lagi untuk menerapkan aturan Islam?

Wallahu a'lam bish shawwab.

Surabaya, 21 Februari 2021

Post a Comment for "Vaksin Tak Menjamin Bebas Terinfeksi Covid-19 ?"