Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DINAR DIRHAM ANATARA SOLUSI KRISIS DAN ISLAMOPHOBIA

Berbeda dengan Dinar Dirham, yang berbasis emas dan perak. Mata uang ini memiliki nilai intrinsik yang dijamin oleh dirinya sendiri, yakni logam emas dan perak. Dinar Dirham menciptakan keadilan transaksi baik lokal mapun internasional.

Oleh Andarwati

Netizen pekan kemarin digegerkan dengan berita bahwa saudara Zaim Saidi, penggagas Pasar Muamalah Depok ditangkap sebagai tersangka dalam kasus Dinar Dirham yang dijadikan alat tukar dalam pasar tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kabarnya Zaim Saidi dijerat dengan Pasal 9 Undan-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Yang pertama tentang pelarangan membuat benda yang difungsikan sebagai alat pembayaran yang sah dan diancam dengan hukuman 15 tahun penjara. Dan yang kedua tentang kewajiban menggunakan rupiah dalam bertransaksi di wilayah Indonesia dengan ancama hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp. 200 juta bagi yang melanggarnya.

Kalau dilihat dari prakteknya, apa yang dilakukan Zaim Saidi sebetulnya tidak ada bedanya dengan pemilik wahana permainan anak-anak di pasar malam, yang juga “mewajibkan” pengguna untuk menukar beberapa rupiah dengan koin yang kemudian dipakai untuk mengaktifkan alat permainan yang disukai anak-anak. Begitu pula system pembayaran ojek online yang pakai Gopay, E-tol dan lain-lain. Semua itu dilakukan dengan cara menukarkan Rupiah dengan Koin atau deposit, yang kemudian dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah. Karena itu, banyak kalangan yang menilai penangkapan Zaim Saidi itu konyol dan lucu, sehngga tidak salah jika ada yang memiliki persepsi dan dugaan bahwa kasus dinar dirham ini sangat kental dengan nuansa politik dan Islamo Phobia.

Lepas dari kasus penangkapan itu, diskursus dinar dirham sebagai solusi dari krisis ekonomi yang terus berulang sebagai dampak dari berlakunya fiat money (system uang kertas) yang nilai intrinsiknya sekedar sehelai kertas yang dikuatkan dengan beberapa aturan. Oleh karenanya, system uang kertas ini sangat rentan terhadap krisis. Bagi Negara pemilik mata uang yang digunakan bertransaksi secara internasional, seperti Dolar AS, bisa memainkan nilai mata uangnya untuk memenangkan persaingan dagang atau bahkan penguasaan sumber daya negeri-negeri yang mata uangnya lemah. Kurs mengambang bisa menjadi senjata mematikan bagi Negara-negara yang memiliki mata uang kuat. Mereka bisa saja menjadikan kurs mata uang untuk “menjatuhkan” rezim Negara tertentu. Krisis Moneter 1998 silam misalnya, telah menghantam Kurs rupiah dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 16.000 per per US $ yang berakhir dengan tumbangnya rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun itu.

Ketidakstabilan mata uang kertas ini juga melahirkan pola Spekulasi (Perjudian) yang legal, dan membahayakan perekonomian Negara di lantai bursa. Pada saat hutang pemerntah dan swasta jatuh tempo, maka kebutuhan dolar sebagai alat pembayaran meningkat tajam. Pada saat inilah para spekulan banyak berinvestasi disektor non riil yakni perdagangan valuta asing. Mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat dari selisih margin dari semakin melemahnya mata uang lokal. Pada saat yang sama kondisi perekonomian Negara menjadi sangat lemah. Seluruh produksi yang bahan bakunya impor, akan terdampak dengan kenaikan harga bahan baku, sehingga harga jual produk dalam negeri akan melambung yang pada giliran berikutnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Dampak berikutnya perusahaan akan lesu, dan langkah penyelamatan perusahaan dengan pemangkasan biaya operasional yang lazim adalah dengan pengurangan pegawai (PHK).

Berbeda dengan Dinar Dirham, yang berbasis emas dan perak. Mata uang ini memiliki nilai intrinsik yang dijamin oleh dirinya sendiri, yakni logam emas dan perak. Dinar Dirham menciptakan keadilan transaksi baik lokal mapun internasional. Coba bayangkan, adilkah transaksi menjual produk yang dibayar dengan setumpuk kertas? Bandingkan dengan transaksi perdagangan yang menjual produk dengan pembayaran mata uang emas dan perak. Dinar Dirham memiliki nilai nominal dan nilai intrinsik yang relative sama dan stabil. Misal, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah meminta kepada shahabat Urwah untuk membelikan seekor kambing dengan memberinya 1 dinar. Shahabat Urwah pergi ke pasar dan membelikan 1 dinar tersebut dengan 2 ekor kambing, kemudian belau menjual yang seekor dengan harga 1 Dinar. Shahabat Urwah menghadap Rasulullah SAW dengan membawa 1 ekor kambing dan uang 1 Dinar. Rasulullah mendoakan keberkahan pada transaksi muamalah yang dilakukan shahabat Urwah tersebut. Jika 1 Dinar emas setara dengan 4,25 gram emas, dan harga emas hari ini senilai Rp. 940.000 per gram, maka harga 1 ekor kambing pada masa Rasulullah adalah antara 2 hingga 4 juta Rupiah. Jadi harga kambing selama 1442 tahun lalu (mulai pada masa Rasulullah hingga hari ini) nyaris tidak mengalami perubahan. Bandingkan dengan nilai mata uang kertas kita hari ini, harga kue goreng seperti “onde-onde” pada tahun 1991 (waktu penulis kuliah) masih Rp. 50,- per biji, tapi hari ini tahun 2021 harganya menjadi Rp. 2.000,- per biji. Itu artinya harga onde-onde hanya dalam waktu 30 tahun mengalami kenaikan 40 kali lipat (mengalami kenaikan 4000%).

Jadi, standar moneter emas dan perak, sebenarnya menjadi solusi tuntas atas berbagai krisis ekonomi yang terjadi secara berulang. Mestinya Diskursus implementasi Dinar Dirham dalam transaksi muamalah perlu diapresiasi bukan malah diperskusi dan mendapatkan tindakan diskriminatif. [ ]

Wallahu A'lam.

Post a Comment for "DINAR DIRHAM ANATARA SOLUSI KRISIS DAN ISLAMOPHOBIA"