Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sekularisme Demokrasi Hilangkan Adab Generasi

Dalam sistem sekularisme, adab tidak lagi mendominan justru kepentinganlah yang telah mengambil alih peranan perbuatan manusia. Bahkan tidak lagi dipandang hal penting dan akhirnya mendahulukan nafsu dari akalnya. Inilah yang banyak terjadi pada keluarga ala sekularisme saat ini terutama anak, jerih payah orang tua saat hamil, melahirkan, bahkan membesarkannya tak lagi diingatnya, malah justru menggerus rasa cinta, dan memaafkan menjadi sulit dilakukan, terlebih hal sepele yang terjadi menjadi penting untuk dipermasalahkan

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. | Penulis dan Praktisi Pendidikan

"Oh bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku" lirik lagu karya Melly Goeslaw ini, menggambarkan betapa cintanya seorang anak pada ibunya. Agaknya, sangat sulit ditemukan anak seperti yang dimaksud, apalagi dalam sistem sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) saat ini, menjadi sebab banyaknya kasus yang menggambarkan hilangnya adab pada anak menghiasi berita, baik online maupun cetak.

Dilansir dari detik.com, Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dengan aduan penganiayaan. Sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota. Menurut keterangan sang ibu bahwa ia tidak sengaja menggores kening anaknya dengan kuku. (9/1/2021).

Kasus tersebut, menggambarkan krisisnya rasa empati, kasih sayang, bahkan rasa hormat pada orang tua yang telah mengikis adab anak kepada orang tuanya. Dimana adab adalah bagian penting yang wajib dimiliki manusia, sehingga menjadikannya mulia di mata Allah Swt.

Keluarga Ala Sekularisme

Dalam sistem sekularisme, adab tidak lagi mendominan justru kepentinganlah yang telah mengambil alih peranan perbuatan manusia. Bahkan tidak lagi dipandang hal penting dan akhirnya mendahulukan nafsu dari akalnya. Inilah yang banyak terjadi pada keluarga ala sekularisme saat ini terutama anak, jerih payah orang tua saat hamil, melahirkan, bahkan membesarkannya tak lagi diingatnya, malah justru menggerus rasa cinta, dan memaafkan menjadi sulit dilakukan, terlebih hal sepele yang terjadi menjadi penting untuk dipermasalahkan.

Senada dengan hal di atas, kejadian serupa terjadi di NTB, seorang anak berinisial M (40), hendak melaporkan ibu kandungnya K (60) ke polisi, terkait masalah motor. Tribunnews.com (29/06/2020).

Kejadian-kejadian di atas tidak kali ini saja terjadi, masih banyak kasus serupa yang tidak kalah mencengangkan seperti pembunuhan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya. Dalam sistem saat ini, yang membuka peluang hilangnya nilai moral sang anak sehingga, interaksi dalam keluarga akhirkya bernilai materi. Hubungan ibu anak diukur dengan untung rugi. Serta, nilai liberal gagal menghadirkan penghormatan terhadap ibu, dan gagal menyuguhkan ketenangan yang imbasnya menghasilkan generasi durhaka.

Kebebasan berprilaku atau berbuat dalam sistem demokrasi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM (Hak Asasi Manusia) menjadikan anak bebas bertindak tanpa peduli teguran orang tua, tidak lagi menjadi hal yang aneh justru telah dianggap lazim. Hal ini tentu menambah berat beban ibu dalam mendidik dan mengingatkan atau menasehati anak guna pengembalian moral generasi yang seharusnya. Alih-alih menurut, yang ada ibu justru dipenjara atas nama kebebasan berprilaku dan berpendapat, apalagi jika dianggap mengganggu eksistensi sang anak.

Sungguh miris dan sangat disesalkan. Inilah potret keluarga ala sekularisme, yang menjadikan asas kepentingan di atas segalanya. Alhasil tidak memandang ibu, ayah atau keluarga jika dirasa mengganggu kepentingannya maka akan disingkirkan tanpa ingat dosa.

Keluarga Ala Islam

Keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat. Namun kehidupan keluarga salah satu penentu utama keberhasilan seorang anak dan lahirnya generasi Islami. Karena begitu pentingnya keluarga, maka dari keluargalah anak mulai belajar tentang Islam untuk diterapkan di kehidupannya kelak. Dimana di dalamnya terdapat keharmonisan sebagai wujud keberhasilan membina keluarga, serta mampu menyejukkan pandangan sebagaimana harapan itu terdapat pada QS. Al-furqan:74 yang artinya

"Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (TQS. Al-furqan : 74).

Begitulah wujud keluarga dalam Islam, rasa hormat menunjukkan ketinggian adab. Sehingga, tak terbesit sedikutpun untuk menyakiti orang tua apa lagi mendurhakai mereka, karena memahami hakikat dosa bahwa berkata "Ah" saja pada orang tua sudah berbuah dosa. Inilah potret keluarga Islam, untuk membentuknya tentu perlu dasar interaksi dan sokongan supra sistem yaitu negara, guna dapat berjalannya fungsi keluarga sebagaimana yang diharapkan dalam Islam yaitu

Pertama, sebagai tempat untuk mengajarkan Islam. Ibu adalah madrasah al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Sebelum mendapatkan pengetahuan dari luar, ibu yang pertama kali mengajarkan banyak pengetahuan tentang Islam untuk diterapkan dalam kehidupannya, mengenalkan akidah, serta mengajarkan adab yang lebih dikenal dengan istilah akhlak.

Kedua, memberikan rasa tenang dan tentram. Keluarga adalah kerabat terdekat yang merupakan tempat untuk mencurahkan isi hati dan keluh kesah. Dalam Alqur’an sendiri disebutkan bahwa keluarga yang sakinah adalah keluarga yang dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan hati. Ini hanya dapat dicapai oleh keluarga Islami.

Ketiga, menjaga dan melindungi dari siksa api neraka. Allah Swt berfirman dalam surah Al-tahrim : 6 yang artinya:

Hai orang-orang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari (kemungkinan siksaan) api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (TQS. Al-tahrim : 6).

Ayat di atas memberi makna bahwa, saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain dari perbuatan maksiat dan menjalankan apa yang diperintahkan Allah Swt. Hal tersebut merupakan bagian dari misi keluarga dalam Islam, sehingga tujuan akhir keluarga adalah surga, selamat dunia dan akhirat, serta terhindar dari siksa neraka. Selain itu, keberkahan dalam keluarga merupakan tujuan dalam berumah tangga guna mendapatkan ketenangan.

Keempat, menjaga wibawa dan kemuliaan manusia. Ketika salah satu dari anggota keluarga melakukan kesalahan maka, akan membawa nama keluarga. Jika yang diperbuat adalah kesalahan maka akan mencemarkan nama baik keluarga dan sebaliknya. Anggota keluarga memiliki perannya masing-masing guna menjaga wibawa keluarga dan keselamatan serta kemuliaan satu sama lain.

Kelima, melanjutkan keturunan dan mendapatkan keberkahan. Tujuan pernikahan selain untuk menjaga marwah dan kemuliaan, juga untuk meneruskan keturunan. Kemudian, keberkahan dapat diperoleh dari jalan yang disyariatkan Islam dalam membangun biduk keluarga. Karena hanya keluarga ala Islamlah, yang proses pembentukannya dilakukan dengan jalan yang benar yaitu tidak melalui jalan pacaran atau mendekati zina, melainkan dengan cara ta'aruf (perkenalan melalui mahromnya) dengan tujuan yang jelas yaitu menikah.

Itulah lima point penting dalam sistem Islam untuk membentuk keluarga, yang melahirkan generasi penjaga adab dan terhindar dari krisis keluarga yang dekat dengan kedurhakaan. Sehingga, kejadian-kejadian yang banyak terjadi pads negeri ini, tidak akan terulang kembali. Sehingga, keluarga harmonis dan selamat dunia akhirat akan dapat diwujudkan. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Post a Comment for "Sekularisme Demokrasi Hilangkan Adab Generasi"