Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengembalikan Peran Mulia Ibu Sebagai Pencetak Generasi Tangguh

berikan para ibu peluang-peluang untuk menjadi ibu yang sabar dan pintar dalam mendidik anak-anaknya, bukan membebani mereka menjadi tulang punggung rumah tangga, apalagi sebagai penunjang komoditas penghasil perekonomian negara. Dengan demikian, bukan tidak mungkin akan terbuka peluang kerja yang lebih banyak untuk para suami/lelaki yang memang di pundak merekalah tugas mengemban mencari nafkah.

Oleh: Ratih Yusdar (Aktivis Muslimah)

Sudah menjadi ketetapan umum bahwa setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Pada Peringatan Hari Ibu ke-92 tahun ini diharapkan jadi momentum dalam membangkitkan semangat para kaum ibu untuk memaksimalkan potensi dan peran dalam pembangunan.

Harapan ini disampaikan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Sumatera Utara (Sumut) Nawal Edy Rahmayadi pada Puncak Peringatan Hari Ibu ke-92 Tahun 2020 secara virtual, dari Aula Tengku Rizal Nurdin. (suaratani.com, 22/12/2020).

Pemerintah berharap agar kaum ibu bisa memaksimalkan potensi dan perannya dalam pembangunan untuk memajukan dan meningkatkan perekonoian bangsa, bahkan mereka menghimbau kepada para suami untuk mendukung para istri dalam mengembangkan potensi yang ada agar kaum ibu dapat berperan aktif dalam pemberdayaan kaum perempuan.

Pemikiran seperti ini merupakan buah dari sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada kemajuan perekonomian semata. Bila kita tilik, mengikuti pemikiran seperti ini dengan memberdayakan kaum ibu untuk ikut andil dalam meningkatkan perekonomian bangsa dengan berkarya Bukan tidak mungkin si ibu malah meninggalkan tugas utama dengan berkarya di luar rumah yang akhirnya sedikit demi sedikit akan menggerus fungsi seorang ibu itu sendiri dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.

Pola pikir seperti ini hanya terfokus pada sudut perekoniman semata yang jelas tujuannya untuk lebih menguntungkan para pengusaha saja. Kenapa demikian? Sebagai contoh mengapa tenaga perempuan lebih banyak diterima untuk bekerja di pabrik-pabrik? Ya, karena tenaga perempuan pada umumnya memiliki tingkat ketelitian dan ketekunan lebih baik dibandingkan tenaga kerja pria, sedangkan masalah gaji kaum perempuan tidak begitu mempersoalkan besar kecilnya upah yang mereka terima, yang penting mereka bisa bekerja.

Fasilitas dan perlindungan yang didapat tidak sebanding dengan tenaga yang dipakai, belum lagi ketika mereka harus ikut bekerja shift malam hari. Kemudian bagaimana dengan nasib anak-anak yang ditinggal ibunya seharian karena harus bekerja? Seperti saat sekarang di masa pandemi banyak ibu-ibu yang meski hanya mengurus rumah tangga saja sudah banyak yang stress menyelesaikan tugas rumah sembari mengajari anaknya di rumah belajar dengan sistem daring, apatah lagi dengan ibu yang bekerja di luar rumah?

Jika ditinjau dari sudut pandang Islam, memang tidak ada larangan dalam agama Islam bagi kaum ibu melakukan aktifitas diluar rumah dengan berkarya untuk mencari nafkah sepanjang tidak melanggar hukum syara', karena tenaga perempuan juga memang dibutuhkan di dalam beberapa hal untuk menangani berbagai macam kasus yang memang membutuhkan tenaga perempuan, misalnya dalam bidang kedokteran/tenaga medis, guru, dan lain-lain. Namun, jangan bebankan para ibu dengan memberdayakan mereka untuk meningkatkan perekomian bangsa dan negara ini, karena ibu adalah sosok yang luar biasa di dalam sebuah keluarga.

Ibu bisa menjadi apa saja di dalam sebuah keluarga. Ibu memang tidak menghasilkan finansial yang berarti dalam melaksanakan tugasnya di dalam rumah, tetapi perannya sangat besar dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ibu itu mutifungsional dalam rumah tangga, ia adalah seorang pendidik yang sejati bagi anak-anaknya, sebagai pengayom, sebagai perawat, sebagai administrasi, sebagai bendahara, bahkan sebagai komunikator yang menjembatani komunikasi keluarga, misalnya komunikasi antara ayah dan anaknya, antara anak yang satu dengan yang lainnya.

Jadi, harus dicatat bahwa seorang ibu itu harus diberdayakan sesuai dengan fungsinya sebagai ibu atau istri dalam rumah tangganya. Peran strategis ibu dalam pembangunan adalah sebagai penghasil generasi-generasi tangguh berkualitas yang bertaqwa kepada Allah SWT sebagai dasar dan pengarah dalam perbuatannya. Generasi yang selain smart dalam berfikir dan bertindak tetapi memiliki ahlakul karimah, sehingga akan tercipta jugalah sumber daya manusia yang jujur, dan amanah.

Generasi yang merupakan cikal bakal menjadi pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya, pemimpin yang amanah dengan segala janji-janjinya, dan sebagai apapun generasi itu kelak dia akan tetap mengutamakan ketaqwaannya kepada Allah SWT, sehingga terhindar dari melakukan hal-hal yang bersifat zalim.

Maka, kembalikan ibu kepada fungsinya, berikan para ibu peluang-peluang untuk menjadi ibu yang sabar dan pintar dalam mendidik anak-anaknya, bukan membebani mereka menjadi tulang punggung rumah tangga, apalagi sebagai penunjang komoditas penghasil perekonomian negara. Dengan demikian, bukan tidak mungkin akan terbuka peluang kerja yang lebih banyak untuk para suami/lelaki yang memang di pundak merekalah tugas mengemban mencari nafkah.

Di dalam ajaran Islam, ibu adalah sosok yang mulia. Terdapat banyak surah alquran maupun hadist yang meriwayatkan tentang kemuliaan seorang ibu, di antaranya adalah sebagaimana rasulululloh saw bersabda yang artinya: "Sesungguhnya Allah berwasiat 3 kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian. Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat." (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya)

Sebegitu mulianya kedudukan seorang ibu hingga Allah berwasiat sebanyak 3x kepada hambanya untuk berbuat baik kepada seorang ibu. Di hadist lain diriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin ‘Atha’, Abu Al-Malih, Maimunah, dari Ibnu ‘Abbas r.a, ia berkata Rasulullah saw bersabda:

“Surga itu di bawah telapak kaki-kaki para ibu, siapa yang mereka kehendaki, maka mereka akan memasukkannya, dan siapa yang mereka kehendaki, maka mereka akan mengeluarkannya."

Dalam surah al-Ahzab ayat 33 Allah berfirman, "Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul- Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Jadi, jika kita memahami dan mengamalkan perintah Allah yang disampaikan melalui alqur'an dan hadist maka peran ibu harus dikembalikan kepada potensinya sebagai umun wa Rabbatul Bayt agar ketahanan sebuah bangsa dapat terjaga.

Wallahu'alam Bisshowwab

Post a Comment for "Mengembalikan Peran Mulia Ibu Sebagai Pencetak Generasi Tangguh"