Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Haruskah Nakes Menjadi Tumbal Penguasa Mengatasi Pandemi?

Meningkatnya kasus kematian nakes sejak awal Desember lalu menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat dari ancaman virus covid-19 sudah sangat memprihatinkan. Jika nakes yang memenuhi protokol kesehatan saja dapat terjangkit hingga mengakibatkan kematian. Lantas, tentu virus ini sangat mengancam nyawa masyarakat umum, terutama masyarakat awam yang abai.

Oleh: Fadilah Rahmi, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Sejak awal pandemi covid-19 merebak di Indonesia, tingkat kematian tenaga kesehatan (nakes) terus meningkat setiap bulannya. Tercatat bulan Desember 2020 merupakan tingkat kematian nakes tertinggi selama pandemi terjadi di Indonesia.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia.

Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia (Kompas.com).

Meningkatnya kurva penderita covid-19 disinyalir karena diterapkan berbagai kegiatan tanpa memenuhi protokol kesehatan yang ketat, terlebih setelah new normal diberlakukan. Adib menuturkan, "Kenaikan ini merupakan salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi seperti berlibur, Pilkada dan aktifitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah."

Meningkatnya kasus kematian nakes sejak awal Desember lalu menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat dari ancaman virus covid-19 sudah sangat memprihatinkan. Jika nakes yang memenuhi protokol kesehatan saja dapat terjangkit hingga mengakibatkan kematian. Lantas, tentu virus ini sangat mengancam nyawa masyarakat umum, terutama masyarakat awam yang abai.

Meningkatnya kasus kematian nakes juga disebabkan oleh meningkatnya kasus pasien covid-19. Mahalnya tes deteksi covid-19 juga berdampak pada banyaknya masyarakat yang enggan memeriksakan diri. Serta kebutuhan ekonomi yang tidak dijamin membuat masyarakat harus bekerja di tengah pandemi dan banyak yang mengabaikan protokol kesehatan.

Ketersediaan rumah sakit yang tidak memadai, mengakibatkan membludaknya pasien disetiap rumah sakit yang berdampak mereka tidak mendapatkan pelayanan yang terbaik, serta membuat para tenaga medis dan kesehatan kewalahan dan kelelahan. Sebab, di Indonesia jumlah dokter tidak berbanding lurus dengan jumlah masyarakat yang harus dilayani.

Seperti diberitakan Kompas.com, 31 Agustus 2020, epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengungkapkan, berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk.

"Artinya, Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Sehingga, kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak punya dokter," kata Dicky.

Hal ini menunjukkan bahwa nakes telah menjadi tumbal yang diakibatkan oleh abainya penguasa menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelayan masyarakat. Nakes dipekerjakan dengan jam kerja yang tidak manusiawi, bahkan dengan pasien yang begitu banyaknya. Wajar saja banyak nakes yang lelah sehingga mengakibatkan mereka mudah terserang penyakit hingga menyebabkan kematian.

Hal ini wajar saja terjadi di sistem kapitalis sekuler yang mengkomersialkan layanan kesehatan yang terlihat dari banyaknya rumah sakit yang dikelola swasta dengan biaya yang sangat mahal. Penguasa telah gagal memberikan dan menyediakan layanan kesehatan yang memadai serta gratis. Penguasa negeri ini telah gagal menjaga nyawa rakyatnya. Padahal disisi Allah Swt. nyawa seseorang lebih berharga dibandingkan dunia dan seisinya.

Islam memandang nyawa satu manusia sangatlah berharga sehingga tak layak dijadikan tumbal dalam menutupi ketidakseriusan pemerintah dalam menangani pandemi. Nakes tidak seharusnya menjadi tumbal atas kelalaian pemimpin sebagai pelayan rakyat. Sebab, mereka adalah orang-orang yang selalu berada di garda terdepan dalam merawat pasien covid-19.

Untuk menekan angka kematian nakes maupun masyarakat umum, serta segera berakhirnya pandemi ini tidak lain harus kembali kepada sistem manusiawi yang berasal dari Allah Swt., yang juga mengembalikan fungsi pemimpin sebagai pengurus rakyat yang senantiasa akan menjaga nyawa rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Pelayanan Kesehatan dalam Sejarah Khilafah Islam dibagi dalam tiga aspek. Pertama, tentang pembudayaan hidup sehat. Kedua, tentang pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan. Ketiga, tentang penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan.

Rasulullah saw. banyak memberikan contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Salah satunya adalah dengan membudayakan hidup sehat, terlebih disaat pandemi seperti saat ini. Masyarakat haruslah selalu menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan mengganti pakaian setelah keluar rumah. Serta memakan makanan yang halal lagi baik, guna menjaga imunitas tubuh tetap kuat.

Sehebat apapun penemuan dalam teknologi kesehatan, hanya akan efektif menyehatkan masyarakat bila mereka sadar hidup sehat, kemudian menggerakkan penguasa membangun infrastruktur pencegah penyakit dan juga fasilitas bagi yang terlanjur sakit. Para tenaga kesehatannya juga orang-orang yang profesional dan memiliki integritas. Serta, dipekerjakan dengan jam kerja yang manusiawi.

Rasulullah saw. juga menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal saat itu, kaum Muslim secara sadar melakukan penelitian-penelitian ilmiah di bidang kedokteran secara orisinal dan memberikan kontribusi yang luar biasa di bidang kedokteran. Tidak dapat dipungkiri, Rasulullah saw. adalah inspirator utama kedokteran Islam.

Dunia kesehatan dalam Islam juga melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ilmuwan Muslim pertama yang terkenal berjasa luar biasa adalah Jabir al-Hayan atau Geber(721-815 M). Beliau menemukan teknologi destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, serta mendirikan apotik yang pertama di dunia yakni di Baghdad.

Banu Musa (800-873 M) menemukan masker gas untuk dipakai para pekerja pertambangan dan industri sehingga tingkat kesehatan para pekerja dapat diperbaiki.

Pada abad-9, Ishaq bin Ali Rahawi menulis kitab Adab ath-Thabib, yang untuk pertama kalinya ditujukan untuk kode etik kedokteran. Ada 20 bab di dalam buku itu. Di antaranya merekomendasikan agar ada peer-review atas setiap pendapat baru di dunia kedokteran. Kalau ada pasien yang meninggal, maka catatan medis sang dokter akan diperiksa oleh suatu dewan dokter untuk menguji apakah yang dia lakukan sudah sesuai standar layanan medik.

Dan masih banyak lagi kemajuan di bidang kesehatan yang dilahirkan dari sistem Islam tersebut. Semua prestasi ini terjadi tidak lain karena adanya negara—yakni Khilafah—yang mendukung aktivitas riset kedokteran untuk kesehatan umat. Umat yang sehat adalah umat yang kuat, produktif dan memperkuat negara.

Kesehatan dalam sistem Islam juga dilakukan secara preventif (pencegahan), bukan cuma kuratif (pengobatan). Maka, saat ada pandemi akan dilakukan pencegahan penyebaran dengan cara memisahkan pasien yang sakit dengan orang yang belum terjangkit. Sehingga, virus tersebut tidak akan menyebar luas dan segera berakhir.

Negara juga memberikan anggaran untuk riset kedokteran sebagai investasi, bukan anggaran sia-sia. Sehingga saat pandemi, para ilmuwan dapat melakukan riset untuk menemukan vaksin guna mencegah terjadinya penyakit yang menular. Dan tentu setelah vaksin ditemukan akan diberikan secara cuma-cuma atau gratis.

Menarik untuk mengetahui, bahwa cikal-bakal vaksinasi sebagai cara preventif itu juga dari dokter-dokter Muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku, 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World.

Dengan ilmu dan teknologi yang semakin maju itu, otomatis kompetensi tenaga kesehatan juga wajib meningkat. Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter Khalifah menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan, dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit.

Negara juga membangun rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah. Ini adalah rumah-rumah sakit dalam pengertian modern. Rumah sakit ini dibuat untuk mempercepat penyembuhan pasien di bawah pengawasan staf yang terlatih serta untuk mencegah penularan kepada masyarakat.

Pada zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan universitas serta untuk riset.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi juga menjadi tanggungjawab masing-masing individu yang dimulai dengan menjaga kesehatan. Namun, tetap harus ada sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi kedokteran (Prof. Dr. Fahmi Amhar, https://al-waie.id/siyasah-dakwah/pelayanan-kesehatan-dalam-sejarah-khilafah/). Artinya, negara sangat berperan penting dalam menyediakan fasilitas kesehatan terlebih dimasa pandemi saat ini.

Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment for "Haruskah Nakes Menjadi Tumbal Penguasa Mengatasi Pandemi?"