Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

JANGAN IKUT MEMBUNUH WALAU DENGAN SEPATAH KATA, AGAR HIDUP MULIA-MATI DAPAT RAHMAT

Sebagian kalangan mengomentari kematian enam anggota Front Pembela Islam (FPI) itu sebagai kematian yang sia-sia. Bahkan ada yang nyinyir, mengatakan itu bukan mati di jalan Allah. Itu mati di jalan tol. Dan masih banyak komentar yang senada.

Oleh Wahyudi al Maroky (Dir. PAMONG Institute)

Sebagian kalangan mengomentari kematian enam anggota Front Pembela Islam (FPI) itu sebagai kematian yang sia-sia. Bahkan ada yang nyinyir, mengatakan itu bukan mati di jalan Allah. Itu mati di jalan tol. Dan masih banyak komentar yang senada.

Di sisi lain, ada sebagian besar umat islam memandangnya sebagai kematian yang mulia, sebagai syuhada. Itulah kematian yang istimewa. Ada gemuruh takbir menyambut jenazahnya. Ada ribuan atau ratusan ribu bahkan jutaan orang yang menyolatkan mereka, baik langsung maupun dengan sholat gaib. Dan belum tentu kematian kita, juga kematian para pejabat tinggi, bisa mendapatkan sholat seperti itu.

Lalu bagimana semestinya kita bisa hidup mulia dan berakhir mati istimewa (syahid)? Lebih dari itu tentu kita ingin bisa hidup mulia dan ujungnya bahagia diakhirat.

Sebagian kita menganggap hidup mulia itu jika punya pangkat tinggi dan jabatan tinggi. Dengan modal pangkat tinggi, bisa dapat jabatan tinggi. Dengan modal itulah orang lain akan menghormati dan memuliakan kita. Negara pun memberikan penghormatan dan fasilitas yang menambah kemuliaan kita. Bahkan ketika mati pun negara memberikan penghormatan dan memuliakan dengan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Itulah gambaran hidup mulia bagi sebagian kita.

Sayangnya tak sedikit pejabat yang berpangkat tinggi dengan jabatan terhormat itu meraih bahagia diakhir jabatannya. Ada yang dipecat karena tak sejalan dengan pimpinannya. Ada yang ditangkap KPK saat menjabat. Ada pula yang diburu dan dihantui kasus setelah pensiun. Banyak juga yang selamat sampai pensiun, namun begitu pensiun ia diburu dengan seribu penyakit. Akibatnya waktu dan hartanya habis untuk berobat. Ia tak bisa menikmati banyak makanan yang lezat karena dilarang dokter. Bahkan untuk menuju jalan kematiannya tidak lagi mudah. Harus dilalui dengan penuh rasa sakit sambil menanti datangnya malaikat maut.

Penulis pernah ditanya oleh seorang yang berpangkat tinggi. Ya, Seorang jendral purna wirawan. Di usia yang sudah senja masih nampak gagah dan tersisa kewibawaan diwajahnya. Ia menceritakan prestasi dan kehebatannya saat muda dan bertugas dulu. Namun kini ia sedih, dan bertanya apakah sholatnya sah dan diterima Allah SWT, karena sering maaf, terkencing (ngompol) yang tidak terasa. Sehingga kini ia sering menggunakan “pampers” saat sholat atau aktifitas lainnya.

Penulis pun menyampaikan kabar gembira bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Pemaaf, yang terpenting adalah ihtiar maksimal. Tak lupa banyak doa dan mohon ampunan kepada Allah. Siapa tahu dulu ada salah, mungkin menyakiti orang lain dan bisa jadi kini baru datang balasan doa-doa mereka itu. Jika masih ingat dan bisa minta maaf pada mereka yang dulu disakiti maka baik jika datangi dan minta maaf pada mereka. Semoga dimaafkan dan bisa sembuh, mumpung masih ada usia kita di dunia ini sebelum dituntut diakhirat nanti. Ia menjawab pendek, “terima kasih” sambil meneteskan air matanya.

Dari kisah singkat ini, dapat kita coba temukan beberapa catatan penting.

PERTAMA; Hidup mulia itu tak sekedar punya pangkat tinggi dan jabatan tinggi. Namun seberapa besar kita bermanfaat dan berbuat baik kepada sesama manusia. Bukan karena pangkat kita tinggi mereka menghormati kita, tapi karena karya dan amal kita banyak manfaat buat rakyat sehingga mereka menghormati kita. Memang pangkat dan jabatan tinggi punya peluang lebih besar untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Namun potensi untuk berbuat zalim juga besar.

KEDUA; Sebagai rakyat biasa pun bisa hidup mulia. Siapa pun kita bisa berbuat baik kepada sesama manusia dengan potensi masing-masing. Bahkan bisa lebih tulus membantu sesama tanpa besar godaan ingin dipuji sebagaimana jika berpangkat tinggi dan jabatan tinggi. Berbeda dengan para pejabat meski tidak semua, mereka biasanya memberi bantuan karena ingin didukung dan dipilih. Bahkan sekedar menyalurkan bantuan untuk rakyat kecil pun masih disunat juga. Sebagaimana kisah mensos Juliari Peter Batubara yang di tangkap KPK pada akhir tahun ini.

KETIGA; Akhir hidup mulia itu bahagia penuh kebaikan sampai akhir hayat. Itulah yang sering disebut “istiqamah”. Bahagia bisa berbuat baik kepada sesama makhluk, bahagia bisa membantu orang lain. Minimal bahagia bisa berkata yang baik dan banyak ibadah kepada Allah Sang Pencipta semesta alam. Baik jika diakhir hayat itu, mati disaat ibadah dan dengan penuh senyum kebahagiaan. Apalagi didoakan banyak orang dan disholatkan oleh ribuan bahkan jutaan orang sholeh yang doanya dikabulkan Allah SWT sehingga di ahirat pun bahagia.

Lebih baik lagi jika di akhir hayat bisa menempuh kematian istimewa penuh bahagia dengan meraih pososisi sebagai syuhada. Diantara kematian itu adalah berjihad di jalan Allah karena diperintahkan Amirul Mukminin (khalifah). Juga seseorang yang menasihati Penguasa zalim lalu ia dibunuh. Bisa juga ia terbunuh karena mempertahankan diri, harta dan kehormatan keluarganya dari penjahat. Memang nampaknya ia bisa saja terbunuh secara brutal oleh penjahat. Bisa saja ditembak berkali-kali atau disiksa dan dirusak tubuhnya secara brutal. Namun ia hanya merasakan sakit sebentar saja karena setelah mati ia tak merasa sakit lagi. Bahkan ia bisa bahagia karena mati secara mulia sebagai syuhada.

Sebaliknya bagi penjahat atau pembunuhnya, mungkin saja bahagia. Tapi itu sebentar saja selama pangkat dan jabatan serta kekuasaan masih dia sandang. Setelah pensiun, ia akan diburu berbagai penyakit dan kesempitan hidup. Bahkan penuh penderitaan dan kesengsaraan sembari menantikan datangnya malaikat maut menjemput untuk menuju kematian. Dan setelah kematiaannya, siksaan neraka jahanam telah menantinya.

Sebagaimana firman Allah; Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya, Allah murka dan melaknatnya, dan menyiapkan baginya azab yang besar (QS al-Nisa’ [4]: 93).

Bahkan siapa saja yang terlibat pembunuhan, meski sekedar dengan kata-kata atau komentar saja, juga mendapat ancaman di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa ikut terlibat dalam membunuh seorang muslim —sekalipun dengan sepatah kata— kelak di hari kiamat ia datang, tertulis di keningnya kalimat "Orang yang berputus asa dari rahmat Allah. (HR al-Baihaqi).

Kita perlu hati-hati dalam berkata dan bertindak. Kelak di akhirat tak ada seorang pun bisa lolos dari pertanggungjawaban dihadapan mahkamah Allah SWT.

Semoga kita tergolong orang yang hidup mulia, mati secara istimewa dan bahagia di akhirat. Aamiin.

NB : Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment for "JANGAN IKUT MEMBUNUH WALAU DENGAN SEPATAH KATA, AGAR HIDUP MULIA-MATI DAPAT RAHMAT"