Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bunuh Diri Kian Membumi, Salah Siapa Ini?

Maraknya kasus bunuh diri di kota Malang,telah terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Disaat pandemic Covid 19, kasus bunuh diri di Malang meningkat

Oleh : Adisti Safrlia | Dosen di Malang

Maraknya kasus bunuh diri di kota Malang,telah terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Disaat pandemic Covid 19, kasus bunuh diri di Malang meningkat. Dilansir dari laman Malangtimes, terdapat berbagai kasus bunuh diri di Kota Malang. Pada tanggal 10 Maret 2020, terdapat sepasang suami istri yang tewas gantung diri karena permasalahan keluarga. Disusul pada tanggal 13 Maret 2020, dalam satu hari terjadi dua kasus gantung diri, keduanya dipicu alas an keluarga. Tidak lama setelah kasus kedua, selang sebulan pada 22 April dan 22 Juni 2020, Kembali terjadi kasus bunuh diri yang diduga stress karena riwayat penyakit berat yang tidak kunjung sembuh.

Sampai dua kasus yang terakhir pada tanggal 15 September 2020 terjadi kasus bunuh diri yang masih berusia remaja dengan melompat dari jembatan, korban sempat selamat hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya disalah satu Rumah Sakit swasta di Kota Malang. Kasus kedua pada tanggal 16 September 2020, dimana terjadi percobaan bunuh diri karena stress terlilit pinjaman online dan korban berhasil diselamatkan saat di bawa ke RSSA Kota Malang.

Menurut data dari WHO, bunuh diri menjadi penyebab 1,4% kasus kematian di seluruh dunia, atau menempati posisi ke-17 dalam daftar penyebab kematian terbanyak. WHO mencatat, setiap individu yang meninggal karena bunuh diri rata-rata telah melakukan percobaan bunuh diri 20 kali. Jika dilihat dari sudut pandang sosiologis, fenomena bunuh diri ini pasti individu yang memiliki masalah sosial, seperti konflik keluarga, teman, permasalahan cinta, serta keuangan yang berhubungan dengan debt collector.

Dari permasalahan inilah yang akhirnya membuat sugesti bahwa jalan keluar satu-satunya saat orang memiliki masalah adalah dengan cara bunuh diri. Aspek-aspek sosial tadi, jika tidak teratasi, akan menimbulkan gangguan psikis. Gangguan psikologi itu tidak hanya dipengaruhi kondisi sejak lahir, tetapi juga yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya.

Faktor lain yang membuat banyaknya fenomena bunuh diri adalah, masyarakat yang semakin individualis menjadikan mereka tidak peduli pada kondisi orang-orang di sekelilingnya. Seseorang menjadi semakin merasa hidup sendiri dan menahan beban hidup sendiri. Fenomena bunuh diri juga merupakan akibat dari pola pikir sekularisme yang memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Mereka memandang dunia adalah kehidupan yang berstandar fisik. Bagi orang miskin yang tak mampu meraih materi, sedangkan ukuran kebahagiaannya hanya dipusatkan pada capaian nominal, cepat atau lambat akan mengalami depresi dan putus harapan.

Manusia beranggapan bahwa aktifitasnya hanya dicukupkan pada perkara dunia, sehingga menjadikan kematian sebagai penyelesai atas permasalahan yang menimpanya. Ketika menghadapi cobaan hidup, sebagian orang mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri. Padahal bunuh diri bukanlah solusi dan bukanlah jalan pintas, bahkan bunuh diri adalah dosa yang sangat besar dalam Islam. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Bunuh diri adalah salah satu dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا * وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قتل نفسه بشيء عذب به يوم القيامة

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كان فيمن كان قبلكم رجل به جرح فجزع فأخذ سكيناً فحز بها يده فما رقأ الدم حتى مات . قال الله تعالى : بادرني عبدي بنفسه حرمت عليه الجنة

“Dahulu ada seorang lelaki yang terluka, ia putus asa lalu mengambil sebilah pisau dan memotong tangannya. Darahnya terus mengalir hingga ia mati. Allah Ta’ala berfirman: ”Hambaku mendahuluiku dengan dirinya, maka aku haramkan baginya surga” (HR. Bukhari no. 3463, Muslim no. 113).

Dalam agama islam, bunuh diri bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al A’la: 17).

Utsman bin Affan radhiallahu’anhu pernah berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « إن القبر أول منازل الآخرة فمن نجا منه فما بعده أيسر منه ، ومن لم ينج منه فما بعده أشد منه » قال : فقال عثمان رضي الله عنه : ما رأيت منظرا قط إلا والقبر أفظع منه

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat’ . Utsman Radhiallahu’anhu berkata, ‘Aku tidak pernah memandang sesuatu yang lebih mengerikan dari kuburan’ (HR. Tirmidzi 2308, ia berkata: “hasan gharib”, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Futuhat Rabbaniyyah, 4/192).

Orang bunuh diri sesungguhnya mempunyai pola pikir yang pendek dan dangkal karena menganggap bahwa jika ia mati maka berakhirlah semua permasalahannya. Padahal kehidupan setelah kematian itu adalah kehidupan kekal yang sesungguhnya dan lebih berat.

Banyaknya kejadian bunuh diri yang dilakukan, menunjukkan tidak adanya kepedulian serta penjagaan dari Negara. Padahal seharusnya negara menjadi pelindung dan pengayom masyarakat, memiliki kewajiban untuk memastikan kesejahteraan agar dapat dicapai oleh seluruh rakyatnya, dan berupaya dengan serius untuk menjaga kestabilan mental masyarakatnya dengan memberikan bimbingan dan perlindungan pada akidah masyarakat. 

Negara juga menyediakan lapangan pekerjaan dan memastikan agar kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan dapat diakses dengan mudah dan murah. Ketiga hal ini tidak dapat diwujudkan dalam negara yang berlandaskan kapitalis sekuler seperti pada saat ini. Ia hanya dapat terwujud dalam negara yang berlandaskan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan dengan bingkai khilafah. Hal ini akan menjadi kunci dari kekuatannya sebagai pelindung dan penjaga hak-hak serta kesehatan rakyatnya. Maka dari itu, kembali pada kehidupan islam adalah kewajiban yang harus segera dilaksanakan.

Post a Comment for "Bunuh Diri Kian Membumi, Salah Siapa Ini?"