Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sampun Mirsani JKdN (Jejak Khilafah di Nusantara) Nopo Dereng ?

Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) makin menjadi bahan perbincangan semua kalangan masyarakat

Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) makin menjadi bahan perbincangan semua kalangan masyarakat. Film besutan Nicko Pandawa ini tak ayal menjadi pemantik diskursus soal khilafah berupa webinar nasional hingga perbincangan di kedai-kedai kopi pojok desa. Film yang didasarkan oleh skripsi Nicko setebal hampir 500 halaman ini memang patut ditonton, sebelum memberikan komentar.

Ada yang menarik dari diskusi di TV One soal JKdn karena mengangkat tema framing dengan menulis kata yang cukup tendensius yaitu "menyelinap". Kata ini dimaksudkan bahwa JKdn disinyalir memuat unsur propaganda HTI tentang ajaran Islam khilafah. Jika telah menonton film ini dari awal hingga akhir, maka tidak akan mengatakan propaganda, sebab faktanya film ini memang hanya sejarah.

Adalah wajar jika dalam acara dialog TV One yang menghadirkan guru besar sejarah Prof. Azymardi Azra, Kyai Marsudi Suhud, Nicko Pandawa dan Ismail Yusanto terjadi semacam perbedaan pendapat. Adalah juga wajar jika pertama kali yang disampaikan oleh Ismail Yusanto sebagai penggagas film  adalah sebuah pertanyaan : sampun mirsani dereng ?.

Pertanyaan ini harus terlebih dahulu dijawab sebelum memberikan pendapat dan opini soal JKdN. Sebab jika tidak pernah menonton film ini, maka pendapat tentang film ini hanyalah fantasi belaka, juga bisa dibilang hoax. Sebab diskusi itu memang sedang membahas film. Semoga Azymardi Azra dan Marsudi Suhud telah menontonnya.

Dengan pemikiran logis yang sederhana saja pasti bisa disimpulkan bahwa hadirnya Islam di nusantara berhubungan erat dengan negeri Arab, tempat dimana agama Islam pertama lahir dan dibawa oleh Rasulullah. Setelah Rasulullah wafat, maka Islam kemudian disebarkan oleh para khalifah (khulafaur rasyidin) dibantu dengan banyak sahabat lainnya. dengan institusi khilafah, maka Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke nusantara.

Setelah masa khulafaur rasyidin, maka penyebaran Islam dilanjutkan oleh khilafah bani umayyah, khilafah bani Abbasyiah dan khilafah Turki Ustmani. Setelah berakhir Turki Ustmani tahun 1924, maka umat Islam di seluruh dunia kehilangan kepemimpinan yang menyatukan umat Islam seluruh dunia, menerapkan Islam secara kaffah dan menebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Ini adalah fakta sejarah, jika ditemukan perbedaan pendapat itu wajar, namun tidak mengakui hubungan Islam dengan nusantara adalah bentuk ketidakjujuran dan bisa dikatakan buta sejarah.

Jika melihat film dokumenter JKdN, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa betapa eratnya hubungan institusi khilafah dengan nusantara. Persentuhan nusantara dengan dunia Arab tak pelak tetap terjalin ketika Islam bangkit. Futuhat di sekitar Jazirah Arab menjadikan beberapa koloni pelaut Nusantara memeluk Islam.

Koloni-koloni ini pada awalnya berada di bawah kekuasaan Persia dan menjadi bagian tentara bayaran Persia. Menurut At Thabari, di masa Sayyidina Umar menjabat khalifah, orang-orang ini yang disebut sebagai Zababijah dipilih untuk menjadi penjaga Baytul Mal, penjara dan gerbang kota Karean dikenal berani dan jago bela diri.

Ditemukannya nisan-nisan di Lobu Tua Barus Sumatera Barat menunjukkan bahwa Islam telah hadir di nusantara di abad 8 dan 9 masehi. Adapun makam Islam tertua di Jawa, adalah makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang bertarikh 475 H/1082 M. umat Islam rupanya telah menjejak Sumatra dan Jawa sejak abad pertama hijriyah. Komunitas-komunitas Islam awal di Nusantara terbentuk di Bandar (pelabuhan utama) di pulau Sumatera, Jawa dan Maluku. Di Maluku, pada kisaran tahun 1100 an, beberapa suku memaklumatkan syariat Islam sebagai aturan adat utama.

Selain dakwah secara individu, dakwah deplomatik juga dilakukan oleh Daulah Khilafah. Al Jahizh (w.255 H) menulis dalam kitabnya Al Hayawan tentang surat yang dikirim Maharaja Zabaj (Sribuza) kepada Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Sayangnya Al Jahizh hanya mengutip kalimat pembukanya saja dan Salinan surat ini yang sekarang tersimpan di Oxford, tidak lagi dapat dibaca.

Salinan lengkap ditulis oleh Ibn Tighribirdy (w.875 H) tentang surat maharaja Zabaj kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Selain mencatat secara lengkap, ia juga mencatat hadiah persembahan kepada khalifah yang berupa jebat, sawo, kemenyan, dan kapur barus.

Surat yang diterima oleh Umar bin Abdul Aziz pada tahun 100 H/718 M ini, intinya berisi permintaan pengiriman ulama untuk mengajarkan Islam kepada beliau. Raja yang mengirim surat tersebut diduga adalah Sri Indrawarman dari Sriwijaya. Berita ini juga terkonfirmasi pada catatan China, yang mencatat pemberian hadiah budak Arab Zanji kepada maharaja dari Raja Arab, untuk selanjutnya budak tersebut dihadiahkan kepada Kaisar China.

Hubungan erat antara Islam dan Nusantara ini bisa dibuktikan dengan banyaknya peninggalan baik langsung maupun tidak langsung seperti makam, masjid dan pesantren. Lahirnya para ulama Islam juga merupakan jejak kuat hadirnya Islam di nusantara. Para ulama adalah mereka yang melanjutkan pengajaran dan penyebaran ajaran Islam. Para ulama dan santri jugalah yang kelak melakukan perlawanan terhadap para penjajah seperti Belanda, Portugis, Jepang, Inggris dan Perancis.

Situs resmi pemerintah Kota Manado ini bahkan menulis keterlibatan pemerintah kolonial Belanda dalam mengasingkan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton karena sebagai kerabat Pangeran Diponegoro. Sang Ratu dituduh sering berkomunikasi dengan Diponegoro untuk melawan Sultan Hamengkubuwono VII dan Belanda.

Pangeran Diponegoro adalah sosok ulama pejuang yang dengan darah dan nyawanya telah dijual kepada Allah demi tegaknya agama Allah di bumi para wali, Indonesia. Beliau dilahirkan di Yogyakarta, 11 November 1785. Ia  meninggal pengasingannya di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta.

Menolak menjadi raja, karena dilahirkan dari ibu bukan permaisuri, Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Jadi alangkah baiknya jika seluruh kaum muslimin di Indonesia ini kembali membuka buku-buku sejarah Islam dan Nusantara agar betul-betul memahami posisi umat Islam sebagai penjaga negeri ini. Spirit Islam yang masih ada di dada kaum muslimin semoga bisa menjadi pemantik bagi kebangkitan Islam ke depan dengan kembali tegaknya khilafah Islam.

Film JKdN hanya bagian kecil yang akan melengkapi pemahaman umat Islam akan sejarahnya sendiri. Maka selain membaca, menulis sejarah, alangkah baiknya jika ikut juga menonton film JKdn, agar ada bayangan tentang sejarah itu secara visual. Semoga penayangan visual film JKdN akan menambah spirit kebangkitan umat Islam di Indonesia.

Jadi, ngomong-ngomong udah nonton film JKdN belum ?. Jika belum, sebaiknya nonton dulu sampai tuntas, sebelum memberikan komentar atau opini. Jangan sampai, nonton saja belum, tapi sudah menuduh bahwa film JKdN adalah sebuah propaganda. Untuk para sejarawan senior, sampun mirsani dereng ?[ts]

Oleh: Ahmad Sastra dan Liza Burhan

Post a Comment for "Sampun Mirsani JKdN (Jejak Khilafah di Nusantara) Nopo Dereng ?"