Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sinyal weWork-softBank dan kempesnya dunia persepsi start-up: "stock repeat on itself"

Sinyal weWork-softBank dan kempesnya dunia persepsi start-up: "stock repeat on itself"

By : Yanuar Rizky

Sebenernya pengen nulis serius, atau gaya pakai vLog soal ini, tapi berhubung "old-school" saya belum ngerti cara membuat video editor yang pakai data dan interaktif, bisanya baru model pencet video rekam haha...

Tapi, ada yang menarik yang ditulis teman saya dalam minggu terakhir ini, Agustinus Edy Kristianto, saya kenal AKA (kode namanya waktu masih di media Indonesia) saat dia masih jadi wartawan di KPK dan melakukan investigasi "cek pelawat BI"..

Jadi, karena tulisan AKA soal "salam 5,6T" udah viral, saya hanya ingin nimpalin dari sisi lainnya... soal seri A, seri B dan seri C saham di dunia start-up udah dijelasin ama AKA lah...

Yang ingin saya katakan adalah sinyal pasar keuangan akan menuju tren "bubble" sebenernya sudah tampak sebelum isu COVID-19 datang....

Yaitu, gagalnya IPO dari weWork, sebuah platform aplikasi untuk mempertemukan penyewa dengan pemilik properti kantor untul disewakan...

Modek bisnis weWork kekinian, serba digital dengan konsep anak milineal "working space", dimana ada 3 model:

(1) pakai alamat saja, tanpa butuh kantor, kalaupun perlu gaya terima orang di kantor bisa sewa per pemakaian era working space

(2) sharing, yaitu menyewa satu area dengan prinsip sharing dengan kantor lain yang jadwal pemakaian diatur aplikasi

(3) private office, yaitu menyewa ruangan yang memang dedicated utk kantor penyewa

weWork awalnya berjalan di dunia teknologi, dimana penyewanya juga perusahaan teknologi...

Kemudian ekspansi ke banyak negara, termasuk Indonesia, kalau kita masuk ke weWork ada jaringan virtual office yang bisa kita sewa dengan 3 skema weWork

Dalam persepsi bahwa "volume masa depan" dalam "mesin investasi: transaksi hari ini untuk masa depan", maka weWork disuntik oleh softBank sebuah investment bankers di Jepang yang khusus bermain di start-up...

Teori klasik "wall strees way" tetap berlaku, yaitu perbesarlah persepsi untuk menaikan valuasi korporasi...

Apa valuasi dalam injeksi cash langsung? Jawabnya tidak, sebagian akan didapat ketika "exit strategy" dari investment bankers dimakan oleh publik saat IPO...

IPO yang berhasil, membuat bandar awal seperti softBank akan mendapat keuntungan, bukan dari sisi barang dan jasa dalam rugi-laba korporasi, tapi dari sisi capital gain yang dimakan oleh persepsi publik...

Sebelum Ramai Corona, di September 2019 ada sinyal menarik ternyata "IPO weWork" gagal, dilihat dari banyaknya investor institusi yang mundur dalam pemesanan saham perdana

Kegagalan ini berlanjut, dan seperti biasa barang gagal akan masuk ke skema investigasi, dan fakta akhirnya menunjukan bahwa untuk gelembung bahwa bisnis model jalan, founder weWork mengakui bahwa dia melakukan "onani bisnis model", yaitu dia (perusahaannya sendiri) yang jadi penyewa atas area kantornya sendiri...

Pengakuan ini menjadi alasan sofbank tidak merealisasikan seri saham yang dijanjikannya akan diambil sebagai "standing buyer" saat IPO...

Kenapa? Karena, softBank sendiri berharap keluar ambil untung, komitemen standing buyer bagian dari pemanis jualan saham di IPO itu sendiri. .

Jadi, sampai sini kita harus melihat sebuah sinyal bahwa saham selalu mengulang sejarahnya sendiri...

Kalau tahun 2000 an bubble terjadi di dotCom yaitu perusahaan teknologi yang over booked valuasi goodwill dari nilai kekayaan intelektual penemu bisnis dotCom, maka era sekarang valuasi diciptakan dari persepsi market share di masa depan ..

Jadi, buat anak milineal itu soal dipakai aplikasinya secara masif adalah mesin persepsi, nilai kekayaan perusahaannya valuasi akan tetap ditentukan apa ada ruang IPO?

Kalau era bakar uang perlu keluar, karena yang punya dana juga tidak dalam posisi saving aset, tapi tarik tunai, maka inilah yang disebut great Depression paska corona lebih besar dari crash wall street 1929....

Intinya, memaknai industri 4.0 bukan dengan ramai-ramai riuh di mesin persepsi, Indonesia harusnya membenahi sektor riil nya.... tanpa, yang riil, weWork mengajarkan kita hanya akan masuk era kegelapan setelah seolah-olah terang...

Saya sih apalah, tapi saya bilang anak saya ketika dia minta bantuan modal untuk usaha, saya bilang masa depan generasi kamu adalah digital, tapi bisnis bagaimanapun ditentukan di sektor riil, berusahalah di sektor riil karena itu sunatullah....

#enjoyAja

Post a Comment for "Sinyal weWork-softBank dan kempesnya dunia persepsi start-up: "stock repeat on itself""