Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MU'AWIYAH DAN PARA KHALIFAH SETELAHNYA HINGGA KHALIFAH UTSMANI TERAKHIR: TETAP BERKHILAFAH!


Oleh : Abdulbarr

Meskipun kepemimpinan mua'awiyah dan khalifah setelahnya tidak sempurna seperti kepemimpinan khalifah yang empat, mereka tetap pantas disebut khalifah yang menjalankan roda pemerintahan Islam yang khas yakni khilafah.

Tak bisa dipungkiri bahwa memang benar kebanyakan mereka telah melakukan kekeliruan dalam menjalankan roda pemerintahannya. Misalnya kepemimpinan bani umayyah, pernah "diprediksi" oleh nabi صلى الله عليه وسلم sbg orang pertama yang merubah sunnah beliau صلى الله عليه وسلم. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

أول من يبدل سنتي رجل من بني أمية
"org pertama yg akan mengganti sunnahku adalah seorang lelaki dari bani umayyah". (HR. Ibn Abi Syaibah)

al-munawi berkata:

في معنى سنتي أي طريقتي وسيرتي القويمة التي أنا عليها بما أصلته لكم من الأحكام الاعتقادية والعملية
"makna sunnahku (sunnati) adalah metodeku dan perjalanan hidupku yg lurus dimana aku berjalan di atasnya dgn perkara yang aku menjadikannya sbg perkara pokok yg tetap bagi kaum muslimin berupa hukum2 berkeyakinan & hukum2 amaliyah" (faidul qadlir, juz 3 hlm 94)

Syaikh al-Albani sendiri mengomentari hadits tsb dgn mengatakan:

ولعل المراد بالحديث تغيير نظام اختيار الخليفة وجعله وراثة والله أعلم
"barangkali yg dimaksud dgn hadits tsb adalah merubah sistem pemilihan khalifah, dan menjadikannya dgn sistem pewarisan, wallahu a'lam." (silsilah shahihah, juz 4 hlm 330)

Alhasil, selain bukti sejarah, hadits di atas juga dapat menjadi penguat bahwa memang benar ada yg keliru dalam kepemimpinan mu'awiyah., bahkan hal demikian terjadi juga di kepemimpinan para khalifah lainnya setelah beliau. Berbagai kekeliruan mereka yang menjadi fakta sejarah, tidaklah bisa digunakan dalil untuk menyerang konsepsi sistem pemerintahan Islam. Karena itu, haruslah bisa dibedakan antara perilaku menyimpang para khalifah dari syariat dgn konsepsi lurus pemerintahan Islam yg digali dari dalil2 yg mu'tabar. Ibarat ada orang yang shalat, namun shalatnya tak mampu mencegah dirinya dari melakukan perbuat keji & mungkar. Maka yang salah adalah orangnya, bukan syariat shalat nya yg malah ikut disalahkan juga.

PERUBAHAN KHILAFAH MENJADI MULKAN

Banyak hadits yang mengabarkan bahwa khilafah itu adalah tiga puluh tahun dan setelah itu berubah menjadi mulkan (kerajaan). Dan gara-gara hanya membaca dzahir berbagai hadits tsb, tak sedikit orang jadi keliru menyimpulkan dan kemudian berani mengatakan bhw setelah Khilafah 30 tahun, sudah tidak ada lagi Khilafah. Padahal yang benar adalah khilafah tetap eksis hingga berakhir di khalifah utsmani yg terakhir. Diceritakan bhw qadli abu ya'la pernah ditanya sbb:

قال السائل فلما خص الخلافة بعده بثلاثين سنة كان آخرها آخر أيام علي وأن بعد ذلك يكون ملكا دل على أن ذلك ليس بخلافة 
"Si penanya bertanya, pada saat nabi mengkhususkan khilafah sepeninggalnya dgn 30 thn, dimana akhir khilafah tsb adalah akhir dari masa (kekhilafahan) ali, dan setelah itu akan ada mulkan (kerajaan), menunjukkan bhw hal tsb bukan khilafah lagi?"

فأجاب القاضي بأنه يحتمل أن يكون المراد به الخلافة التي لا يشوبها ملك بعده ثلاثون سنة وهكذا كانت خلافة الخلفاء الأربعة. ومعاوية قد شابها الملك وليس هذا قادحا في خلافته 
" Qadli abu ya'la menjawab, bhw yg dimaksud al-khilafah dlm hadits tsb adalah khilafah yang tidak ternodai oleh mulkun (kerajaan) yg ada sepeninggal nabi selama 30 thn. Dan demikianlah keadaan khilafahnya para khalifah yang empat. Adapun mu'awiyah telah menodai khilafah (murni) dgn mulk (kerajaan), MESKIPUN HAL ITU TIDAK MERUSAK KEKHILAFAHAN BELIAU." (majmu'ul fatawa, juz 35 hlm 36)

Ibn hajar al-atsqalani juga menjelaskan:

.... كان معاوية خليفة لم يكن في ذلك معارضة لحديث الخلافة بعدي ثلاثون سنة لأن المراد به خلافة النبوة وأما معاوية ومن بعده فكان أكثرهم على طريقة الملوك ولو سموا خلفاء والله أعلم 
"... Keberadaan mu'awiyah sbg khalifah tidak bertentangan dgn hadits "khilafah setelahku adalah 30 thn", krn yg dimaksud dgn hadits tsb adalah khilafah nubuwwah. Adapun mu'awiyah dan khalifah setelahnya, maka kebanyakan mrk berada di atas jalannya para raja, meskipun mrk disebut para khalifah. Wallahu a'lam. (fathul bari, juz 12 hlm 392).

Senada dgn para ulama mu'tabar di atas, dlm sual jawabnya, qadli taqiyuddin an-nabhani pun menjelaskan duduk persoalan perubahan dari khilafah nubuwwah ke mulkan. Beliau menyatakan:

ما ورد عن معاوية بأنه حول الخلافة إلى الملك عضوض إشارة إلى ما ورد في ذلك من الأحاديث وذلك لا يتنافي مع كون الخلافة ظلت نظام الحكم حتى آخر خليفة عثماني. فإن معاوية نفسه بويع بالخلافة كما بويع أبو بكر واستخلافه ليزيد هو كاستخلافه أبي بكر لعمر فالاستخلاف كذلك ذكره الفقهاء وهكذا جميع الخلفاء من بعده وجدوا بالاستخلاف والبيعة إلا أن الفسادات من كيفية الاستخلاف ومن كيفية البيعة فأبو بكر استخلف عمر لا لقرابة بل لأنه أصلح المسلمين في نظره ثم إنه عرض الأمر على المسلمين واستخلفه بعد أن وافق أكثرهم عليه ومع ذلك كان استخلافه بمقام ترشيح واختيار وتركت البيعة لاختيارهم فبايعوه باختيارهم، وأما معاوية فاستخلف ابنه ومن بعده استخلفوا أقاربهم ثم ان يزيد أخذ البيعة بالقوة والاجار ومن بعده أخذ الكثيرون منهم البيعة لأنفسهم بقوة السلطان. لذلك كان النظام نظام خلافة حتى آخر خليفة استخلاف وبيعة ولكن الفساد جاء من كيفية تطبيق هذا النظام. 
"apa yg disebutkan ttg mu'awiyah bahwa beliau mengubah al-khilafah dgn mulkan 'adldlan merupakan isyarah (tanda) thdp apa yg telah disebutkan ttg hal tsb dari berbagai hadits. Dan hal demikian tidak saling menafikan ttg keberadaan khilafah yg menaungi sistem pemerintahan Islam hingga khalifah utsmani yg terakhir. Mu'awiyah sendiri diba'iat dg (akad) khilafah sbgmn abu bakar diba'iat. Dan penunjukkan mu'awiyah pada yazid spt penunjukkan abu bakar pada umar, penunjukkan khalifah pada calon khalifah berikutnya adalah spt demikian sbgmn yg telah disebutkan para fuqaha. Demikianlah semua khalifah setelahnya ada melalui penunjukkan dan bai'at, hanya saja kerusakannya terjadi pada tatacara istikhlaf (penunjukkan) dan pada tatacara bai'at. Abu bakar menunjuk umar bukan krn hubungan kerabat, namun krn umar lebih pantas diantara kaum muslimin menurut penilaian abu bakar. Kemudian abu bakar menawarkan hal tsb kpd kaum muslimin, dan abu bakar menunjuk umar sbg khalifah penggantinya setelah mendapat persetujuan mayoritas kaum muslimin. Krn itu keberadaan penunjukkan abu bakar kpd umar tsb berada dalam posisi pencalonan dan pilihan, dan bai'atnya dibiarkan berlangsung berdasarkan pilihan kaum muslimin, maka kaum muslimin membai'at umar berdasarkan pilihan suka rela mereka sendiri. Adapun mu'awiyah, maka beliau menunjuk puteranya (yazid) sbg khalifah penggantinya, dan setelah yazid mrk menunjuk para kerabat mereka sbg khalifah penggantinya. Yazid mengambil bai'at dg kekuasaan dan paksaan, dan setelah yazid, para khalifah umayyah mengambil bai'at untuk diri mereka sendiri dgn menggunakan kekuasaan. Karena itu, sistemnya masih sistem khilafah sampai penunjukkan dan pembai'atan khalifah (utsmani) yg terakhir. Namun, rusaknya (khilafah) ada pada penerapan tatacara aturan tsb."

Dengan demikian, mereka tetaplah para penguasa yang menjalankan sistem Khilafah. Dan akhir dari penguasa yang berkhilafah itu adalah tahun 1924 masehi, 95 tahun yang lalu. Setelah itu, para penguasa yang ada, sudah tidak berkhilafah lagi. Para penguasa yang dipilih sudah tidak lagi mempedulikan batasan2 yang ketat yang telah ditetapkan oleh para ulama besar yang mu'tabar. Di Indonesia misalnya, siapapun, mau muslim atau kafir, mau laki-laki atau perempuan, asalkan dia berkewargaan Indonesia dan pernah lulus pendidikan setingkat SMA, maka dia berhak menjadi penguasa tertinggi di Indonesia, jelas ini bertentangan dgn syarat khalifah. Selain itu, para penguasa yang ada skrg, juga tidak mempedulikan lagi ttg kewajibannya utk menegakkan berbagai hukum2 syariat yg qath'i, yg mujma' alaih, dan berbagai hukum pidana spt hudud. Padahal tiga kategori hukum tsb merupakan standar minimal yg harus ditunaikan. Karena itu, Khilafah naqisah sudah berakhir sejak thn 1924 M, dan sampai saat ini, belum ada lagi Khilafah. Disebutkan dalam sebuah lembaga fatwa di Mesir sbb:

أن هناك فارقًا كبيرًا بين منصب الخلافة في الإسلام وبين رئاسة الدولة المعاصرة؛ فالخلافة في الفقه الإسلامي منصب دينيٌّ من مهامِّه إمامةُ المسلمين في الصلاة وله شروط محددة يذكرها الفقهاء في كتبهم، وقد أصبح هذا المنصب تراثًا لا وجود له في الوقت الحالي على الساحة الدولية وذلك منذ سقوط الدولة العثمانية وإنهاء خلافتها عام 1924م.. 
"Bahwa disana terdapat PERBEDAAN YANG AMAT BESAR (faariqan kabiiran) antara jabatan Khilafah dalam Islam dengan jabatan kepala negara kontemporer dewasa ini. Khilafah dalam Fiqh Islam menduduki jabatan keagamaan, diantara perkara yang sangat penting adalah kepemimpinan bagi kaum muslimin dalam menegakkan shalat. Dan jabatan seperti ini memiliki syarat-syarat yang terbatas sebagaimana para ulama Fiqh menyebutkannya di dalam kitab-kitab mereka. JABATAN INI MENJADI WARISAN YANG TAK DITEMUKAN LAGI DI BERBAGAI NEGARA ZAMAN INI. DAN ITU TERJADI SEJAK RUNTUHNYA DAULAH UTSMANIYAH DAN BERAKHIRNYA KEKHILAFAHANNYA PADA TAHUN 1924 M. (Darul Ifta' al-Mishriyyah)

Demikianlah, wallahu a'lam.

Post a Comment for "MU'AWIYAH DAN PARA KHALIFAH SETELAHNYA HINGGA KHALIFAH UTSMANI TERAKHIR: TETAP BERKHILAFAH! "