Menyongsong Fajar Khilafah di Bulan Penuh Berkah

mahasiswa dan perubahan hakiki

gerakan mahasiswa tegakan khilafah

Oleh : Yulida Hasanah (Aktivis Muslimah, tinggal di Brebes Jawa Tengah)

Tanpa terasa umat Islam telah 101 kali bertemu bulan ramadan terhitung sejak kehancuran payung Islam yang menaungi mereka. Tahun ke tahun berlalu dengan kondisi umat yang tak ada perubahan, bahkan bisa dikatakan malah makin mengalami kemunduran. Sungguh memprihatinkan!

Bagaimana tidak? Jangankan untuk mengurus urusan politik, ekonomi, sosial dan pendidikan, untuk mengurus urusan penyatuan puasa dan hari raya saja mereka tidak bisa. Hingga ada sindiran, jika orang non-Muslim sudah mendarat di bulan, maka umat Islam sampai sekarang masih ribut, hanya untuk mengintip bulan.

Dan tahun ini merupakan tahun yang paling membuat umat Islam makin berada dalam keterpurukan yang nyata. Efek sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri kaum muslimin seabad lamanya, makin menampakkan wujud aslinya sebagai sistem yang rusak dan merusak, sistem yang tak manusiawi yang telah sukses melahirkan penguasa-penguasa zalim, abai terhadap tangunggjawabnya dan munafik dalam berpolitik.

Di indonesia saja, efek sistem kapitalisme ini begitu sangat dirasakan oleh masyarakat dalam semua lini kehidupan mereka. Di ranah keluarga, kini ibu menjadi objek rawan gangguan mental. Kasus pembunuhan anak oleh ibunya sendiri yang terjadi di Tonjong, Kabupaten Brebes bukanlah satu-satunya kasus baru yang muncul akhir akhir ini karena masalah ekonomi dan rapuhnya ketahanan keluarga, dan bisa dipastikan lebih banyak lagi kasus serupa yang tak terekspos media dan tak tersentuh hukum.

Di ranah sosial politik dan ekonomi, masyarakat disuguhkan berbagai kebijakan zalim penguasa. Hampir semua komditas penting yang menjadi kebutuhan rakyat mengalami kenaikan harga, seperti naiknya harga BBM jenis pertamax yang kemudian disusul dengan ‘menghilangnya pertalite dan solar’, harga minyak goreng yang hingga sekarang masih terbilang tinggi. Belum lagi harga-harga sembako yang terus merangkak naik secara rutin tiap tahun menjelang bulan Ramadan. Dan kenaikan komoditas tersebut diperkirakan akan kembali naik dengan kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dari 10 % menjadi 11% per jumat, 1 April 2022 kemarin.

Di tengah kenaikan harga barang yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat tersebut, rakyat dipaksa menerima kebijakan rezim untuk pindah ibukota. Sebuah kebijakan kontroversial di saat penderitaan rakyat makin berat dan utang negara memuncak hingga tembus 7.014 triliun per Febuari 2022. Masalah bertubi-tubi dihadapi rakyat karena sikap dan kebijakan kapitalistik para elit politik.

Sementara itu, adanya pergerakan mahasiswa memberi angin segar setelah sekian purnama tak terdengar suaranya. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar demonstrasi di depan gedung DPR/MPR RI, Senin (11/4/2022) sebagai reaksi dari berbagai kezaliman yang ada. Dalam aksi di DPR RI, BEM SI mengusung tagar #RakyatBangkitMelawan dengan 6 tuntutan, di antaranya yaitu

pertama, mendesak Presiden Jokowi agar memberi pernyataan terbuka kepada publik, bahwa dirinya harus dengan tegas menolak untuk menunda Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan presiden.

Kedua, mahasiswa meminta Presiden untuk menunda dan mengkaji ulang Undang-undang Ibu Kota Negara (UU IKN), termasuk pasal-pasal yang dianggap bermasalah, karena hal itu akan berdampak pada lingkungan, ekologi, dan kesejahteraan warga.

Ketiga, mendesak dan menuntut pemerintah untuk menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di masyarakat dan menyelesaikan permasalahan ketahanan pangan lainnya.

Keempat, mahasiswa meminta Presiden Jokowi untuk mengusut tuntas para mafia minyak goreng dan mengevaluasi kinerja menteri terkait.

Kelima, mendesak dan menuntut Jokowi untuk menyelesaikan konflik agraria yang terjadi di Indonesia.

Keenam yaitu mahasiswa mendesak Jokowi-Maruf Amin untuk berkomitmen penuh dalam menuntaskan janji-janji kampanye di sisa masa jabatannya.

Kita perlu mengapresiasi aksi mahasiswa sebagai wujud dari muhasabah terhadap penguasa. Namun yang perlu menjadi catatan penting adalah bahwa ketulusan mahasiswa untuk memperbaiki negeri, tidak bisa hanya bermodal semangat saja, tapi juga karena dorongan ideologi yang kuat. Dimana mahasiswa harus membawa dirinya pada level berpikir yang ‘beyond physical needs’ (melebihi kebutuhan fisik), yakni bukan sekadar karena ‘tuntutan perut’ semata. Agar arah perjuangan rakyat yang diwakili oleh kaum mahasiswa ini juga tak melulu fokus pada solusi ganti ‘rezim’ namun juga mengarah pada usaha besar menuju perubahan sistem yang menjadi akar dari semua masalah yang ada.

Apalagi, umat Islam dihadapkan pada solusi moderasi Islam sebagai jawaban atas segala bentuk permasalahan yang terjadi yang digiring secara sistemik oleh rezim hari ini. Yang justru solusi tersebut amat jelas ‘jauh panggang dari api’, bahkan makin menjauhkan dan menyesatkan umat dari solusi hakiki yakni Islam kaffah. Hal inilah yang harusnya membuat kita makin kuat menginginkan sebuah perubahan hakiki, dan itu tak hanya menjadi tugas mahasiswa saja, tetapi seluruh umat Islam dunia khususnya di negeri ini. Pertanyaannya kemudian, sudahkah kita bersungguh-sungguh berada dalam barisan para pejuang perubahan hakiki? Dan sudah sejauh mana upaya kita dalam mewujudkan perubahan hakiki tersebut khususnya di bulan ramadan ini?

Menjadi pejuang perubahan hakiki, mengharuskan para aktivisnya memiliki cara pandang ideologis yang melihat semua permasalahan bukan dari aspek individual saja. Di saat yang sama, Islam mengharuskan setiap aktivitas hidupnya seiring dengan kesadarannya sebagai hamba Allah (idrak shilah billah). Para aktivis dakwah juga jangan sampai terjebak dengan rutinitas tahunan di bulan ramadan, yang sekadar memperbaiki dirinya sendiri untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Semangat tilawah alqur’an, qiyamul lail dan semua aktivitas sunnah yang dianjurkan, namun nihil dalam berkomitmen untuk lebih bersemangat lagi dalam menjalankan aktivitas wajib yang jelas telah Allah SWT perintahkan. Sebab kewajiban terikat dengan hukum syara’ bukan hanya untuk aktivitas ritual individual saja, tetap seluruh aspek kehidupannya termasuk hubungan antar manusia dalam masyarakat dan negara.

Maka, menjadikan bulan ramadan sebagai bulan dakwah merupakan pilihan terbaik bagi para pengemban dakwah, selain memang dakwah merupakan kewajiban dari Allah SWT dan Rasul-Nya,. Terlebih, tidaklah cukup mengingkari kemungkaran yang ada hanya dengan hati, sebab mengingkari kemungkaran dengan hati adalah wujud lemahnya iman. Kita butuh mengubah kemungkaran dengan kemampuan optimal yang kita miliki, yakni dengan lisan kita, bahkan ada sebagian saudara kita juga yang mampu mengubah dengan tangan(kekuasaan) yang mereka miliki.

Sementara itu, dakwah yang dijalankan dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan Islam adalah aktifitas paling mulia, karena dengannya mahkota kewajiban kembali terwujud dan perubahan hakiki yang dicita-citakan bisa tercapai. Selain, Allah SWT sendiri telah memberi sanjungan bagi para pengemban dakwah.

Allah SWT berfirman dalam surat Fushshilat ayat 33, yang artinya “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Yang dimaksud dalam ayat ini kata Ibnu Katsir rahimahullah bukanlah orang yang hanya sekedar berdakwah atau mengajak orang lain untuk baik. Namun mereka yang mengajak juga termasuk orang yang mendapat petunjuk, lalu mengajak mengajak yang lain. Ia mengajak kepada kebaikan, namun ia pun mengamalkannya. Begitu pula ia melarang dari suatu kemungkaran, ia pun menjauhinya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240)

Sekali lagi, adalah sebuah kesempatan terbaik di bulan ramadan yang mulia ini, menjadikan ramadan kita sebagai ramadan terbaik dalam rangka menyongsong fajar Khilafah. Sebab di bulan mulia ini, Allah SWT telah menyiapkan pahala berlipat ganda pada setiap amal sholih yang kita lakukan.

Maka, selayaknya para aktivis dakwah mengencangkan aktifitas mulia di sisi-Nya yakni berdakwah, mengevaluasi kembali target-target dakwah yang sudah tercapai dan yang belum tercapai, dan fokus pada target yang telah dicanangkan hingga optimal dijalankan. Harapannya, perubahan hakiki bisa segera kita raih dengan kelayakan kita mendapatakan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana Dia menolong dan memberi kemenangan pada umat sebelum kita. Allahumma Aamiin

COMMENTS

Name

afkar,5,agama bahai,1,Agraria,2,ahok,2,Analysis,50,aqidah,9,artikel,13,bedah buku,1,bencana,23,berita,49,berita terkini,228,Breaking News,8,Buletin al-Islam,13,Buletin kaffah,54,catatan,5,cek fakta,2,Corona,122,curang,1,Dakwah,42,demokrasi,52,Editorial,4,Ekonomi,185,fikrah,6,Fiqih,16,fokus,3,Geopolitik,7,gerakan,5,Hukum,90,ibroh,17,Ideologi,68,Indonesia,1,info HTI,10,informasi,1,inspirasi,32,Internasional,3,islam,192,Kapitalisme,23,keamanan,8,keluarga,49,Keluarga Ideologis,2,kesehatan,83,ketahanan,2,khi,1,Khilafah,287,khutbah jum'at,3,Kitab,3,klarifikasi,4,Komentar,76,komunisme,2,konspirasi,1,kontra opini,28,korupsi,40,Kriminal,1,Legal Opini,17,liberal,2,lockdown,24,luar negeri,47,mahasiswa,3,Medsos,5,migas,1,militer,1,Motivasi,3,muhasabah,16,Musibah,4,Muslimah,86,Nafsiyah,9,Nasihat,9,Nasional,2,Nasjo,12,ngaji,1,Opini,3548,opini islam,87,Opini Netizen,1,Opini Tokoh,102,ormas,4,Otomotif,1,Pandemi,4,parenting,4,Pemberdayaan,1,pemikiran,19,Pendidikan,110,Peradaban,1,Peristiwa,12,pertahanan,1,pertanian,2,politik,320,Politik Islam,14,Politik khilafah,1,propaganda,5,Ramadhan,3,Redaksi,3,remaja,7,Renungan,5,Review Buku,5,rohingya,1,Sains,3,santai sejenak,2,sejarah,70,Sekularisme,5,Sepiritual,1,skandal,3,Sorotan,1,sosial,65,Sosok,1,Surat Pembaca,1,syarah hadits,8,Syarah Kitab,1,Syari'ah,45,Tadabbur al-Qur’an,1,tahun baru,2,Tarikh,2,Tekhnologi,2,Teladan,7,timur tengah,32,tokoh,49,Tren Opini Channel,3,tsaqofah,6,tulisan,5,ulama,5,Ultimatum,7,video,1,
ltr
item
Tren Opini: Menyongsong Fajar Khilafah di Bulan Penuh Berkah
Menyongsong Fajar Khilafah di Bulan Penuh Berkah
mahasiswa dan perubahan hakiki
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc7Bv3Y8uYqvJbRWapmC1HMEc0n9W0q0Y4-Ivzg-aD-1m-oA7LDuYA9S1uAnvI2BZvztmrCoBlp3dgLXJA8tkTVAXVQXF9QYxbY8WYd3B_MA2jyou80XJb4HRE08Nxs9Otu7dR_EzUEbr6rjeQ4Qee8Gaf8ao0e_wDMup8ksTuG6kALKMJJu7adf1Z/s16000/PicsArt_04-20-11.24.51_compress17.webp
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc7Bv3Y8uYqvJbRWapmC1HMEc0n9W0q0Y4-Ivzg-aD-1m-oA7LDuYA9S1uAnvI2BZvztmrCoBlp3dgLXJA8tkTVAXVQXF9QYxbY8WYd3B_MA2jyou80XJb4HRE08Nxs9Otu7dR_EzUEbr6rjeQ4Qee8Gaf8ao0e_wDMup8ksTuG6kALKMJJu7adf1Z/s72-c/PicsArt_04-20-11.24.51_compress17.webp
Tren Opini
https://www.trenopini.com/2022/04/menyongsong-fajar-khilafah-di-bulan.html
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/2022/04/menyongsong-fajar-khilafah-di-bulan.html
true
6964008929711366424
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy