islamophobia di indonesia
Oleh : Ety R Faturohim
Miris! Lagi-lagi terjadi penistaan agama. Kali ini dilakukan oleh oknum yang mengklaim dirinya sebagai pendeta. Dia menyerukan agar 300 ayat dalam Al-Quran di revisi. Hal ini jelas menyakiti hati umat Islam. Tidak ada upaya permintaan maaf dari pelaku ataupun tindakan tegas oleh aparat.
Penistaan demi penistaan terjadi berulang seolah tak pernah mampu dibendung. Entah akibat adanya kebebasan berekspresi, atau memang karena terbukanya peluang lantaran tidak adanya hukum yang memberikan efek jera bagi penista. Alhasil, beragam cara semakin kreatif dilakukan para penista agama demi memuaskan kebencian terhadap Islam.
Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, namun sayangnya tindak kriminal penistaan agama begitu marak. Kaum muslim pun dibuat tak berdaya, pasalnya si penista berlindung atas nama hak asasi manusia. Begitu pula, saksi sosial yang selama ini diberlakukan, nyatanya tak mampu membuat jera. Bahkan, hanya dengan meminta maaf di hadapan publik, si penista begitu mudahnya terbebas dari jerat hukum.
Maraknya penistaan agama sungguh menunjukkan adanya fobia akut terhadap Islam, tak terkecuali di negeri mayoritas muslim. Fakta fobia terhadap Islam ternyata tidak sekadar menjamurnya para penista agama, tetapi juga pada wajah penguasa saat ini yang begitu alergi terhadap Islam dengan digulirkannya sejumlah kebijakan yang memojokkan Islam beserta simbol-simbolnya. Bisa kita lihat, betapa alergi terhadap Islam begitu ditampakkan oleh lembaga antiteroris yang mengaku memerangi terorisme yang mengancam negara. Kaum muslim selalu menjadi korban, meski belum terbukti kebenarannya sebagai terdakwa teroris. Mereka dengan mudahnya menghilangkan nyawa tanpa prosedur yang jelas.
Apalagi, ketika PBB menetapkan 15 Maret sebagai hari internasional memerangi Islamofobia, jelas mendapat dukungan dari kementerian Agama RI. Hingga lahirlah Surat Edaran (SE) Kemenag 5/2022 terkait pengaturan pengeras suara di dalam atau di luar masjid. Walaupun menuai kontroversi, tampaknya SE Kemenag tetap dijalankan. Hal ini semakin menunjukkan ketidakadilan terhadap umat Islam dan fenomena Islamofobia. Sungguh sangat diskriminatif, ketika dalam SE tersebut hanya rumah ibadah umat Islam saja yang di atur, sedangkan hal tersebut tidak berlaku bagi rumah ibadah agama lain.
Munculnya Islamofobia di negeri muslim, khususnya di Indonesia tak lepas dari bagian agenda internasional yang terstruktur. Maka, kaum muslim harus memandang wabah Islamofobia secara komprehensif dengan mencari akar masalahnya. Bukan hanya sekadar solusi tambal sulam.
Selain itu, pentingnya kaum muslimin menjaga pemikiran umat dengan mendakwahkan Islam secara pemikiran. Menyadarkan umat bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, namun sebuah ideologi yang mempunyai aturan sempurna. Sehingga, kesadaran umat dapat terbangun dan memunculkan kepedulian terhadap berbagai peristiwa politik yang terjadi saat ini. Umat pun akhirnya meyakini Islam sebagai satu-satunya solusi dalam menuntaskan seluruh permasalahan manusia, termasuk penistaan agama.
Allahu a'lam bish shawwab.
COMMENTS