Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kondisi Umat dan Dunia Tanpa Adanya Junnah

Imam Al Ghazali Rahimahullah dalam kitab Al Iqtishodu fil I’tiqod menjelaskan apa yang menyebabkan umat ini hancur.  والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان  “Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.”

Oleh; Naimatul Jannah (Aktivis Muslimah asal Ledokombo, Jember)

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek ibadah (hubungan manusia dengan Allah SWT) maupun aspek muamalah (hubungan manusia dengan sesama manusia). Termasuk di dalamnya masalah kepemimpinan negara. Sistem kepemimpinan negara ini unik, berbeda dari sistem lain yang ada di dunia, baik itu kerajaan, republik maupun parlementer. Sistem yang disebut Imamah atau Khilafah, lahir dari hukum syara’, bukan lahir dari para pemikir di kalangan manusia. Dengan demikian kedudukannya lebih kuat karena yang menetapkannya adalah Sang Pencipta manusia. Sistem kekhilafahan memiliki perbedaan diametral dengan sistem demokrasi yang diterapkan dunia saat ini. Pemimpin dalam demokrasi hanya berfungsi sebagai lembaga eksekutif yang menjalankan amanat rakyat. Dalam praktiknya, yang disebut “rakyat” tersebut hanyalah sebatas pada para pemilik modal dan kekuatan. Tak heran jika kemudian pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara. Sementara dalam Islam, pemimpin memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in dan junnah bagi umat. Kedua fungsi ini dijalankan oleh para Khalifah sampai 14 abad masa kegemilangan Islam.

Kondisi Umat dan Dunia Tanpa adanya Junnah

Ketertindasan baik secara fisik dan agama terus menerus dialami umat islam di Indonesia dan dunia. Menurut Al-Faruqi, umat Islam pada saat ini berada di anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Bahkan, bukan hanya itu tetapi kaum muslimin telah dikalahkan, dibantai, dirampas negerinya dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya. Umat Islam difitnah dan dijelek-jelekkan di hadapan seluruh bangsa-bangsa. Umat Islam dituduh agresif destruktif, mengingkari hukum, teroris, biadab, fanatik, fundamentalis, kuno dan menentang zaman, sehingga umat Islam menjadi sasaran kebencian bagi orang-orang non Muslim. (serambi.news)

Juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Rupert Colville mengatakan kantornya tidak memiliki izin dari otoritas China untuk mengakses ke Xinjiang, di mana etnis Muslim Uyghur dilaporkan telah mengalami pelecehan identitas dan budaya selama bertahun-tahun.(republika.co.id)

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk pembunuhan lima warga Palestina di Yerusalem dan Jenin oleh pasukan keamanan Israel pada Ahda (26/9). OKI menilai, seperti yang sering terjadi, hal itu merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter dan konvensi internasional.(republika.co.id)

Setidaknya deretan fakta yang menimpa umat islam di Indonesia dan dibelahan dunia termasuk China dan Palestina sungguh menyayat hati. Masalah ini berlarut-larut seakan tidak ada solusi, baik dari individu muslim ataupun negara muslim dibelahan dunia lain pun tak bisa membantu saudara mereka yang sedang tertimpa masalah.

Dua Sebab Hancurnya Umat Islam

Imam Al Ghazali Rahimahullah dalam kitab Al Iqtishodu fil I’tiqod menjelaskan apa yang menyebabkan umat ini hancur.

والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان

“Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.”

Bahwa umat islam berada dalam kemunduran yang luar biasa. Umat Islam tidak lagi menjadi pemimpin bagi dunia, padahal Allah telah menyebutkan dalam Al Quran bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik.

Keadaan di atas itu sebenarnya berpulang pada dua hal:

Pertama, karena Islam tidak lagi menjadi asas bagi kehidupannya. Hakikatnya umat Islam diatur dan diurus oleh musuhnya di berbagai bidang kehidupan. Inilah akibat ketika umat Islam jauh dari Islam. “Barang siapa yang berpaling dari peringatanKu maka kehidupan menjadi sempit”.

Kedua, karena tdk adanya Al Haris (penjaga) di tengah-tengah dunia Islam. Al Harits ini tidak lain adalah pemimpin tunggal bagi seluruh masyarakat Islam.

“Innamâ al-imâmu junnatun yuqâtalu min warâ`ihi wa yuttaqâ bihi fa in amara bitaqwallâhi wa ‘adala kâna lahu bidzâlika ajrun wa in ya`muru bi ghayrihi kâna ‘alayhi minhu (Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Imam Al Nawawi mengatakan, Al Imam, dia bagaikan pelindung, dia akan mencegah musuh-musuh menyerang, dan menjaga manusia yang satu tidak akan menghancurkan manusia yang lain, serta kemurnian Islam akan dijaga.

Sungguh umat membutuhkan perisai, sebagaimana Nabi memerintahkan agar dengan perisai itu akan mampu melindungi umat ini. Maka para ulama telah sepakat untuk menegakkan Al Imam atau Khalifah. Dimana Al Imam inilah yang akan menerapkan syariah Allah dan dengan syariah-Nya inilah kebaikan-kebaikan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia karena Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Keadilan akan tegak dan kedzaliman akan disingkirkan.

Inilah yang dilakukan Nabi SAW saat mendengar ada salah laki-laki muslim dibunuh di pasar Bani Qoinuqa. Ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi, maka Rasulullah tidak tinggal diam. Sebagai kepala negara beliu bersikap tegas dengan mengusir orang-orang Yahudi Qoinuqa dari Madinah.

Waallahu A'lam Bis Showab

Post a Comment for "Kondisi Umat dan Dunia Tanpa Adanya Junnah"