Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Setengah Juta Mahasiswa Putus Kuliah Saat Pandemi, Dimana Peran Negara ?

Pandemi belum juga usai masalah kian melambung mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan akan pendidikan yang membebani masyarakat. Bahkan setengah juta mahasiswa terancam mengalami putus kuliah akibat beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Mereka harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk setiap semesternya yang biayanya amat mahal.

Oleh : Ayu Annisa Azzahro (Mahasiswi Khalid bin Al-Walid Universitas Muhammadiyyah Mataram)

Pandemi belum juga usai masalah kian melambung mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan akan pendidikan yang membebani masyarakat. Bahkan setengah juta mahasiswa terancam mengalami putus kuliah akibat beratnya biaya yang harus dikeluarkan. Mereka harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk setiap semesternya yang biayanya amat mahal.

Menurut survei yang dilakukan oleh BEM Universitas Indonesia, diketahui 72% dari 3.321 mahasiswa mengaku mengalami kesulitan membayar biaya kuliah. Dan dikutip dari jawapos.com tertanggal 6 Agustus 2021, rata-rata angka putus kuliah paling banyak terjadi pada Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Dimana angkanya naik tajam hingga menembus 50 %. Bahkan tercatat dari data Kemendikbudristek sepanjang tahun lalu mahasiswa yang akan putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang.

Sedihnya lagi, banyak masyarakat yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sejak pandemi melanda. Tentu tidak menutup kemungkinan PHK ini juga menimpa orang tua/wali para mahasiswa, yang berdampak pada kesulitan orang tua dalam membiayai perkuliahan mereka.

Padahal pendidikan amatlah penting. Lebih-lebih jika menegok visi Generasi Emas Indonesia 2045. Bukankah ini berarti masa depan negara ada ditangan anak-anak muda ?. Namun apa jadinya bila ternyata itu hanya slogan tanpa mewujud nyata melihat saat ini generasi kita diambang kemiskinan dan tak mampu mengakses pendidikan tinggi ?. Hingga setengah juta diantara mereka tak dapat mengecap manisnya ilmu ?. Lantas apakah mereka akan berakhir menjadi buruh-buruh kasar yang dibayar murah oleh negara-negara imperialis ditengah persaingan global yang makin kesini makin membuat meringis ?

Padahal Rasulullah Saw telah mengingatkan bahwa fungsi utama negara adalah mengurus (ri’ayah) urusan rakyat.

"Seorang Imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya," (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka sudah seharusnya pemimpin negara bergegas mengambil kewajibannya dalam membantu rakyat mengakses pendidikan dengan memberi keringanan, bahkan memberikan pendidikan secara Cuma-Cuma. Mengingat pendidikan bahkan termasuk kebutuhan yang asasi yang wajib dipenuhi dalam islam.

Sejarah peradaban islam telah memberikan teladan, betapa islam dengan dalam sistem Khilafah Islam berperan penting dalam memberikan perhatian besar terhadap pemenuhan kebutuhan pokok tiap warga negaranya. Salah satunya tentu dalam hal pendidikan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam misalnya, beliau mewajibkan tawanan perang mengajarkan kaum muslim sebagai tebusan pembebasan mereka. Atau seperti pada masa kejayaan islam di Kairo yang telah mendirikan sekolah anak yatim. Maupun ditempat yang lain seperti Baghdad, Kufah, Cardoba, Damaskus dan beberapa kota islam lainnya. Khilafah membuat kebijakan dengan menggratiskan biaya pendidikan bagi setiap warganya.

Khilafah memiliki mekanisme dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya berdasarkan nash-nash syariat sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Cukuplah seseorang itu dianggap berdosa bila menelantarkan orang yang wajib di beri makan," (HR. Abu Dawud).

Maka sudah saatnya penguasa meneladani kepemimpinan kaum muslimin dimasa lalu hingga membuat mereka menjadi umat terbaik dan mercusuar peradaban dunia yang mengalahkan Eropa. Ini tentu bisa diwujudkan jika islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan, sehingga bisa memberikan rahmat bagi seluruh alam. Sebab syariat Islam yang berasal dari Allah Swt, pencipta manusia, telah yang menjunjung tinggi ilmu dan kemulian para penuntutnya. Serta tentu memudahkan jalan mendapatkannya. Wallahu’alam.

Post a Comment for "Setengah Juta Mahasiswa Putus Kuliah Saat Pandemi, Dimana Peran Negara ?"