Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEGANJILAN DI BALIK KLAIM PERTUMBUHAN EKONOMI 7 PERSEN

Pada awal bulan Agustus pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2021 angka yang dirilis sungguh menjanjikan mencapai 7,07 persen. Apa benar angka ini? Bagaimana cara menghitungnya? Apakah hitungan ini dipakai atau mengambil sampel data yang akurat dari seluruh kegiatan ekonomi masyarakat. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala orang-orang awam seperti saya.

Oleh : Deti Murni , SE (Pegiat Opini)

Pada awal bulan Agustus pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2021 angka yang dirilis sungguh menjanjikan mencapai 7,07 persen. Apa benar angka ini? Bagaimana cara menghitungnya? Apakah hitungan ini dipakai atau mengambil sampel data yang akurat dari seluruh kegiatan ekonomi masyarakat. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala orang-orang awam seperti saya.

Anggota Komisi VI DPR RI dan Fraksi PDIP, Darmadi Durianto kembali mengkritik pemerintahan Joko Widodo ditengah perekonomian yang memburuk Pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi 7,07 Persen. Beliau menyampaikan pada bulan Juli, Agustus dan September masuk triwulan ketiga, pertumbuhan ekonomi kita memburuk tapi pemerintah justru mengumumkan adanya indikasi kenaikan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,07 persen. Jelas ini masyarakat merasa dibohongi ujarnya.

Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Menilai pertumbuhan ini adalah pertumbuhan semu, karena menggunakan base rendah di tahun 2020. Menurut INDEF di Q2 2020 pemerintah melaukan PSBB, sementara di Q2 2021 pelonggaran PPKM terjadi. Tentu saja ini tidak bisa dijadikan standar, apabila ingin melihat pertumbuhan yang sebenarnya maka ada baiknya dibandingkan pada kondisi sebelum pandemic atau kondisi normal.

Wakil ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengapresiasi langkah pemerintahyang telah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih dari 7%. Namun perlu dikritisi pertumbuhan ini tidak sejalan dengan kondisi real di lapangan. Kalau kita amati kondisi real di lapangan jumlah pengangguran semakin meningkat, dan utang pemerintah semakin mengunung.

Di tengah realita kelesuan ekonomi yang dirasakan public, pemerintah umumkan pertumbuhan dengan angka fantastis. Banyak public menganggap klaim ini hanya kebohongan semata karena fakta yang diindra masyarakat justru menunjukkan hal sebaliknya. Kondisi real di lapangan justru angka pengangguran semakin besarnya jumlahnya, penurunan tingkat kesejahteraan, meningkatnya jumlah masyarakat miskin dan semakin tingginya utang pemerintah.

Tentu saja ini bukan kondisi perekonomian yang sehat.jadi bisa kita simpulkan bahwa klaim ini sangatlah tidak logis. Public menilai angka ini hanya pencitraan yang dilakukan pemerintah untuk menutupi kegagalan dalam menangani pandemic.

Apakah makna klaim pertumbuhan tersebut?

Klaim pertumbuhan di tengah kondisi yang memprihatinkan seperti sekarang ini, seakan dongeng sebelum tidur alias cerita bohong belaka. Public semakin muak dengan pernyataan pemerintah yang tak sesuai dengan kondisi real di lapangan. Bagaimana masyarakat akan percaya? Dimana mereka merasakan badai ekonomi yang sulit, di sisi lain pemerintah mengumumkan adanya pertumbuhan ekonomi.

System ekonomi kapitalis yang sesungguhnya hanya bisa mencatatkan angka-angka kemajuan dan pertumbuhan di atas kertas. Tapi jauh dari kondisi yang terjadi di masyarakat, seakan mereka buta dan tuli dengan teriakan anak-anak yang kelaparan, tangisan rakyat yang kesulitan mencari nafkah. Para penguasa seakan menggunakan kacamata kuda untuk melihat rakyatnya. Penguasa hanya menjadikan standar angka-angka di atas kertas menjadi standar prestasi dalam memimpin. Prestasi yang berupa angka di atas kertas tapi tidak berpengaruh pada kesejahteraan rakyat luas. Na’udzubillah….

Seharusnya pemerintah melihat kondisi real di masyarakat apakah sesuai dengan klaim pertumbuhan 7,07 persen tersebut, agar tak dicap sebagai pemerintahan yang live service semata. Kalau kita telaah sepertinya memang tak pantas ditengah kondisi yang serba sulit ini ada pernyataan ekonomi tumbuh, sepertinya pengumuman ini sangat menyakiti hati rakyat.

Bagaimana Islam memandang pertumbuhan Ekonomi?

Dalam Islam berhasilnya perekonomian tidak berdasarkan standar di atas kertas yang bisa saja angka ini dimanipulasi sedemikian rupa. Islam memiliki standar baku dalam mengukur tingkat kesejahteraan dengan terpenuhinya kebutuhan pokok yakni sandang, pangan, dan papan. Islam menjadikan standar keberhasilan perekonomian adalah kesejahteraan yang merata di seluruh masyarakat tanpa terkecuali baik muslim maupun non muslim.

Pertumbuhan ekonomi dalam Islam tidak hanya mengejar kebaikan di dunia tetapi juga kebaikan di akhirat. Konsep kesejahteraan dalam Islam sangat menjunjung tinggi visi rahmatan lil ‘aalamiin. Seorang Pemimpin dalam Islam harus mampu mensejahterakan dan memakmurkan umat manusia dan seluruh alam, yang mungkin berbeda dengan konsep lain yang mengeksploitasi sumber daya alam sehingga menimbukan bencana dan ketimpangan dunia.

Dalam Islam, seorang penguasa bertanggung jawab mengurusi urusan umat dan menjadi perisai dimana umat berlindung dibelakangnya. Penguasa wajib memenuhi kebutuhan pokok umat dimana pun mereka berada di kota, di desa, di kampung, di hutan, di gunung bahkan di seluruh pelosok negeri. Karena kepemimpinan dalam Islam adalah tanggung jawab dunia dan akhirat. Seorang pemimpin dalam Islam memahami bahwa tanggung jawab mengurusi urusan umat ini akan dimintai pertanggungjawaban hingga ke akhirat.

System Islam dengan konsep yang diadopsi dari Al-Qur’an dan turunannya akan menghasilkan system yang sempurna. Tidak saja memberikan kebaikan dan kesejahteraan kepada manusia bahkan alam pun merasakannya. Sebagai manusia yang diciptakan Allah memiliki kelebihan berupa akal sudah seharusnya kita kembali kepada system Islam bukan hanya system perekonomian tetapi seluruh system kehidupan yang akan menciptakan Rahmatan lil ‘aalamiin bagi segenap alam.

Wallahu’alam bish-showwaf

Sumber :

https://fajar.co.id/2021/08/08/kembali-kritik-jokowi-soal-pertumbuhan-ekonomi-pdip-memburuk-tapi-diumumkan-707-persen/

https://www.cnbcindonesia.com/news/20210807114953-4-266881/ekonomi-ri-707-dicap-pertumbuhan-semu-kenapa

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210807/9/1427174/tanggapi-pertumbuhan-ekonomi-hipmi-singgung-pengangguran-dan-utangpemerintah

https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/iqtisaduna/article/view/18998

https://bit.ly/3ApEKcM

https://muslimahnews.com/2021/07/27/pemimpin-yang-mengayomi-rakyatnya-hanya-ada-dalam-sistem-islam/


Post a Comment for "KEGANJILAN DI BALIK KLAIM PERTUMBUHAN EKONOMI 7 PERSEN"