Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Islam, Ramah Pada Perempuan dan Anak

Jika sistem sekuler liberal hari ini melahirkan para predator seksual, maka sistem Islam melahirkan suasana aman dan tentram bagi kaum perempuan dan anak. Sebab sistem Islam memayungi mereka dengan aturan yang mampu menciptakan keamanan hakiki.

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S (Aktivis Muslimah dan Penulis Buku)

Kasus kekerasan dan kejahatan seksual seolah tak pernah absen mengisi laman berita media massa saat ini. Sebagaimana dilansir oleh Bantennews.com (29-06-2021), bahwa berdasarkan data dari Ditreskrimum Polda Banten, selama kurun waktu 2019 hingga 2021 terjadi 458 kasus pencabulan anak dan 98 kasus tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga di Banten.

Oleh karena itu, dibentuklah kampung peduli perempuan dan anak sebagai bentuk penanggulangan terhadap semakin tingginya angka kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Kapolda Banten, Irjen Pol Rudy Heriyanto pada Selasa (29-06-2021)

Sejatinya pembentukan kampung peduli anak dan perempuan harus dikaji ulang efektifitasnya. Untuk itu, kita perlu mencari akar penyebab persoalan kejahatan seksual terhadap anak dan perempuan, agar tak salah dalam merumuskan solusi. Alih-alih menyelesaikan masalah, jika salah mengidentifikasi penyebabnya malah akan berkubang dalam permasalahan itu sendiri.

Sejatinya, kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak merupakan implikasi alami dari adanya penerapan sistem sekuler liberal di negeri ini. Betapa tidak, sekularisme yang merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan segala hal jauh dari tuntunan syariat Islam. Buktinya, dalam naungan kehidupan sekuler liberal hari ini, produk-produk pornografi bertebaran di berbagai lini kehidupan. Meracuni benak-benak kaum muslimin. Bahkan, konten-konten bercorak pornografi dijadikan komoditas bisnis yang menjanjikan pundi-pundi rupiah.

Adapun pornografi yang kian menjamur hari ini, jelas menjadi salah satu faktor pemicu munculnya gejolak seksual di dalam diri seseorang. Akibatnya, muncul dorongan untuk melakukan pemuasan atas adanya gejolak tersebut. Akhirnya terjadilah pelecehan seksual terhadap seseorang yang dijadikan pelampiasan untuk memuaskan gejolak seksualnya, bisa perempuan dewasa maupun anak-anak. Tak hanya dengan lawan jenis, sering juga terjadi pelampiasan gejolak seksual terhadap sesama jenis, sodomi misalnya.

Oleh karena itu, selama sistem sekuler liberal masih bercokol di negeri ini, sungguh pemberantasan kejahatan seksual hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Kita membutuhkan revolusi sistem kehidupan demi terciptanya kehidupan yang mulia nan beradab.

//Sistem Islam Ramah Perempuan dan Anak//

Jika sistem sekuler liberal hari ini melahirkan para predator seksual, maka sistem Islam melahirkan suasana aman dan tentram bagi kaum perempuan dan anak. Sebab sistem Islam memayungi mereka dengan aturan yang mampu menciptakan keamanan hakiki.

Dalam rangka menjaga kehormatan dan kemuliaan perempuan, Islam memerintahkan bagi setiap perempuan yang sudah baligh untuk menutup auratnya secara sempurna dengan pakaian takwa, yakni jilbab dan kerudung. Dalil mengenai keduanya terdapat dapat Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31.

Selain itu, terdapat juga larangan bagi perempuan muslimah untuk bertabaruj, yakni menonjolkan kecantikannya, serta larangan berkhalwat dengan lelaki nonmahrom dan larangan ikhtilat (campur baur) dengan lawan jenis tanpa ada keperluan syar'i.

Dengan begitu, Islam menutup pintu-pintu yang dapat membangkitkan gejolak seksual. Di samping itu, Islam juga memerintahkan kaum lelaki untuk ghadlul bashar (menundukkan pandangan) dari sesuatu yang dapat membangkitkan gejolak seksualnya. Karena sejatinya gejolak seksual itu muncul karena adanya faktor eksternal, bisa berupa gambar-gambar, cerita, film, bahkan objek hidup yang mengumbar seksualitas, serta pikiran atau imajinasi yang mengarah pada pornografi. Oleh karena itu, agar gejolak seksual tidak bangkit, Islam akan menutup semua faktor yang dapat membangkitkannya.

Begitulah langkah preventif Islam dalam mencegah terjadinya kejahatan seksual di tengah masyarakat, sehingga akan tercipta kehidupan yang beradab dan mulia.

Adapun dalam lingkup negara (yang menerapkan sistem Islam), tidak akan membiarkan konten-konten porno diproduksi apalagi sampai dikapitalisasi. Negara akan mengambil tindakan tegas bagi para pembuat, pengedar, bahkan penikmat konten porno, semata-mata demi mencegah tersebarluasnya kemaksiatan di tengah masyarakat.

Di dalam buku "Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam" karya Abdurrahman Al-Maliki dan Ahmad Ad-Da'ur dinyatakan bahwa siapa saja yang mencetak atau menjual, atau menyimpan dengan maksud untuk dijual atau disebarkan, atau menawarkan benda-benda perhiasan yang di cetak atau ditulis dengan tangan, atau foto-foto serta gambar-gambar porno atau benda-benda lain yang dapat menyebabkan kerusakan akhlak, maka pelakunya akan dikenakan sanksi penjara sampai 6 bulan.

Adapun, sanksi kuratif yang akan dijatuhkan pada pelaku kejahatan seksual dalam Islam jelas sangat tegas dan terperinci. Misalnya saja bagi seseorang yang berusaha melakukan zina dengan perempuan atau berusaha melakukan homoseksual dengan laki-laki, namun belum sampai melakukannya, maka ia akan diberi sanksi penjara 3 tahun, ditambah dengan jilid (cambuk) dan pengusiran.

Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan tidak sopan (pencabulan) terhadap perempuan, maka akan diberi sanksi penjara selama 1 bulan.

Demikianlah sistem Islam mampu menciptakan suasana kehidupan yang ramah bagi perempuan dan anak. Oleh karena itu, tidak layak kita berharap lagi pada sistem kehidupan hari ini yang menyajikan banyak kerusakan. Saatnya kita berharap pada sistem Islam melalui tegaknya Khilafah sebagai institusi penerapan syariat. Tunggu apa lagi? Mari kita perjuangkan bersama.

Post a Comment for "Sistem Islam, Ramah Pada Perempuan dan Anak"