Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Krisis Oksigen, Darurat Perang Tanpa Senjata Menghadapi Covid

Krisis oksigen yang memicu bertambahnya korban meninggal pasien covid sungguh memilukan. Betapa tidak, di saat pandemi makin memuncak, kebutuhan vital terhadap oksigen justru tak tercukupi. Kabar menipisnya stok oksigen, bahkan kurangnya pasokan oksigen merata dialami hampir di seluruh rumah sakit di Indonesia. Hal tersebut disebabkan bertambahnya jumlah pasien terkonfirmasi positif dengan gejala yang membutuhkan suply oksigen karena turunnya saturasi tubuh, terus meningkat tinggi. Sehingga kebutuhan oksigen pun menjadi berlipat.

Oleh: Diana Rahayu | Praktisi Lingkungan

Krisis oksigen yang memicu bertambahnya korban meninggal pasien covid sungguh memilukan. Betapa tidak, di saat pandemi makin memuncak, kebutuhan vital terhadap oksigen justru tak tercukupi. Kabar menipisnya stok oksigen, bahkan kurangnya pasokan oksigen merata dialami hampir di seluruh rumah sakit di Indonesia. Hal tersebut disebabkan bertambahnya jumlah pasien terkonfirmasi positif dengan gejala yang membutuhkan suply oksigen karena turunnya saturasi tubuh, terus meningkat tinggi. Sehingga kebutuhan oksigen pun menjadi berlipat.

Kabar banyaknya rumah sakit tak lagi sanggup menerima pasien karena tak tercukupinya sarana IGD dan ruang perawatan, serta banyaknya nakes yang tumbang akibat terpapar makin membuat sesak. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur menyebut ada 13 rumah sakit yang menutup sementara layanan IGD karena tak bisa menampung pasien. Di Jabar, Gubernur Ridwan Kamil melaporkan defisit oksigen mencapai 78 ton. Bahkan Dinas Kesehatan dari 100 tabung oksigen kebutuhan per hari, saat ini distributor hanya bisa memenuhi sebanyak 10 tabung untuk tiap RSUD tersebut (TribunJabar 7/7/21).

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pun dalam kecemasan menangani pasien karena oksigen habis hanya dalam hitungan jam, hingga mencari pasokan oksigen ke Surabaya dan Denpasar. Dirut RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mohammad Komarudin menyampaikan distributor gas langganan rumah sakitnya hanya mampu memasok sepersepuluh dari kebutuhan oksigen di tengah melonjaknya pasien Covid. Sejak dua pekan terakhir kebutuhan oksigen naik empat kali lipat ketimbang hari biasa (Temp.Co 7/7/21).

Sungguh kegentingan kondisi perang melawan pandemi, di tataran real pasti jauh lebih darurat dibanding yang tercatat. Ibarat gunung es, fenomena di permukaan nampak kecil tapi yang tertutup di bawah sungguh besar. Kalau yang tercatat krisis oksigen sudah di tataran kritis, maka di lapang pasti lebih gawat dan genting. Meninggalnya puluhan pasien akibat krisis oksigen di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta dan 7 pasien RSUD Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu bukti.

Lantas, bagaimana mungkin maju berperang tanpa senjata yang memadai. Apalagi senjata vital yang dibutuhkan untuk mempertahankan nyawa dari gejala utama virus covid. Turunnya saturasi tubuh di bawah 95% bisa berakibat happy hypoxia (silent hypoxemia). Yaitu kurangnya kadar oksigen di dalam jaringan darah, tetapi tanpa ada gejala yang muncul atau keluhan yang dirasakan pasien. Dan jika hal tersebut terjadi secara terus-menerus akan mengakibatkan organ tubuh terganggu fungsinya. Terutama organ-ogran penting tubuh, seperti jantung, otak, dan ginjal. Akibatnya bisa terjadi kegagalan organ yang tidak diketahui, dan bisa berujung pada kematian.




Pasien Covid-19 yang tidak bergejala ataupun hanya memiliki gejala ringan, juga bisa mengalami happy hipoxia karena menurunnya kadar saturasi oksigen yang tak disadari. Parahnya untuk pasien covid dengan penyakit penyerta, kondisi saturasi ibarat jalan tol menuju kegagalan organ dan kematian, andai tak segera disuplai dengan kebutuhan oksigen yang memadai. Disini seharusnya menjadi sebuah perhatian serius, bahwa ketersediaan pasokan oksigen yang memadai adalah mutlak adanya. Jika pun banyak pabrik pemasok oksigen kewalahan menghadapi lonjakan kebutuhan, maka dibutuhkan tindakan cepat dan strategis untuk mendapatkan ketersediaan oksigen kembali.

Disinilah fungsi sebuah negara dalam pengelolaan sumber daya alamnya guna menyelamatkan nyawa rakyat. Kehadiran penguasa adalah sebagai perisai yang melindungi rakyat dari bahaya. Setiap hal yang menyangkut hajat hidup rakyat, sejatinya harus dikelola negara untuk mewujudkan kemaslahatan. Termasuk oksigen sebagai barang vital penyelamat rakyat di tengah pandemi yang kian mengganas.

Oksigen sebagai bagian dari kandungan bumi, yang Allah swt siapkan di atmosfer menjadi barang kepemilikan umum. Pengelolaan oksigen mutlak dikuasai negara untuk suplai kebutuhan pelayanan kesehatan warga baik di kala kondisi normal, dan terlebih dalam situasi darurat pandemi. Pengelolaan dengan basis pelayanan, tanpa ada kepentingan materi dan tujuan bisnis mutlak dijalankan. Karena semua rakyat berhak mendapatkan kemaslahatan dari pemanfaatan barang milik umum. Sebagaimana sabda Rasulullah “Kaum Muslimin bersekutu dalam tiga hal: air, padang dan api “ (HR. Abu Dawud).

Barang milik umum ini pun tak boleh kemudian diambil alih pihak swasta dan dikelola untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Riwayat dari Abyadh bin hamal melugaskan hal tersebut,

“Sesungguhnya ia pernah meminta kepada Rasulullah saw untuk mengelola tambang garamnya. Lalu beliau memberikannya. Setelah ia pergi, ada seorang dari majlis tersebut bertanya, “wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air yang mengalir.” Rasululllah kemudian bersabda, “kalau begitu, cabut kembali tambang itu darinya.” (HR. At Tirmidzi).

Krisis oksigen sungguh menunjukan betapa lemahnya perangkat negara kapitalistik dalam melayani kebutuhan vital rakyat menghadapi pandemi. Rumah sakit dan para nakes dibiarkan berjuang sendiri menyiapkan fasilitas dan perangkat kesehatan dalam perang melawan covid tanpa diberikan senjata yang memadai. Berjibaku dengan kematian dalam tekanan ketidakpastian merupakan kedzaliman nyata yang harus mereka hadapi. Inilah watak sejati sistem kapitalis sekuler yang harus disadari bersama. Akankah kita tetap mempertahankan sistem yang tak pernah memberikan kebaikan dan kemaslahatan?

Bondowoso, 10 Juli 2021

Post a Comment for "Krisis Oksigen, Darurat Perang Tanpa Senjata Menghadapi Covid"