Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kesenjangan Antara Si Kaya dan Si Miskin

Sebuah fakta terungkap bahwa orang kaya di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Oleh Verawati S.Pd (Praktisi Pendidikan dan Pegiat Opini Islam)

"Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin..."

Potongan lirik lagu "Indonesia" yang dirilis penyanyi dangdut Rhoma Irama pada 40 tahun silam masih melekat di ingatan bagi para penggemarnya. Sama melekatnya dengan persoalan kesenjangan antara yang kaya dan miskin yang masih terjadi di Indonesia hingga hari ini. Bahkan kesenjangan pun melanda hampir di seluruh dunia, meski saat ini tengah dilanda wabah covid-19.

Sebuah fakta terungkap bahwa orang kaya di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Credit Suisse, jumlah orang dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp 14,49 miliar (kurs dollar Rp 14.486) di Indonesia ada sebanyak 172.000 orang, alias bertambah 62,3% dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Laporan Credit Suisse nampaknya memberikan bukti bahwa kesenjangan antara rakyat Indonesia agak melebar. Terlihat dari data indeks gini yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks gini adalah indikator yang mengukur tingkat pengeluaran penduduk yang dicerminkan dengan angka 0-1. Semakin rendah angkanya, maka pengeluaran semakin merata.

Nannette Hechler-Fayd'herbe, kepala investasi di Credit Suisse, mengatakan bahwa fenomena ini dapat terjadi karena adanya penurun suku bunga yang dilakukan oleh banyak bank-bank sentral di seluruh dunia. (detik.com,23/07/2021). Artinya mereka yang memiliki saham atau investasi dalam properti kekayaannya bertambah. Sehingga banyak yang OKB (Orang kaya baru).

Inilah realita yang terjadi hari ini. Kesenjangan ini disebabkan oleh sistem kapitalisme yang tengah di terapkan saat ini. Dalam sistem kapitalisme dalam hal ini ekonominya dihalalkan memperoleh harta dengan jalan menanam saham, atau mengambil keuntungan secara ribawai. Padahal praktik inilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan. Yang kaya tidak perlu capek-capek bekerja, cukup duduk dibangku saja uang sudah mengalir ke kantong mereka. Sedangkan si miskin harus jungkir balik banting tulang memenuhi semua kebutuhan hidup.

Hal lain yang membuat kesenjangan sosial terjadi adalah bahwa dalam sistem kapitalis kekayaan alam bisa dikuasai oleh individu. Mereka yang memiliki modal besar akan dengan sangat mudah menguasai sumber daya alam. Jelas hal ini sangat menguntungkan mereka dan menyengsarakan rakyat umum. Jumlah mereka yang sedikit mengausi kekayaan dunia yang banyak. Sisanya yang sedikit diperebutkan oleh jutaan manusia. Tidak hanya itu, sistem ekonomi kapitalis juga untuk menggerakkan roda pemerintahan sangat bergantung pada pajak dari rakyat. Sehingga sudahlah rakyat sulit dalam mencari penghidupan ditambah beban pajak yang kian hari terus bertambah.

Begitu pula dari distribusi kekayaan, sangat minim. Jelas si kaya akan sangat mudah mendapatkan fasilitas untuk memenuhi semua kebutuhannya bahkan yang sifatnya tersier. Sedangkan si miskin sangat sulit mendapatkannya, bahkan tak jarang banyak yang meninggal akibat kelaparan atau kekurangan pelayanan kesehatan seperti saat wabah covid-19 ini. Inilah hal-hal yang menjadi penyebab terjadinya kesenjangan sosial.

Efek domino dari adanya kesenjangan ini adalah sangat rentan maraknya kriminalitas dan problem sosial lainnya. Seperti kasus pencurian selama pandemi Covid-19 mengalami peningkatan. "Dari evaluasi, minggu ke-15 dan ke-16, secara keseluruhan ada peningkatan 11,80 persen. Trennya adalah terkait kejahatan curat (pencurian dengan pemberatan) selama PSBB," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 20 April 2020. (Liputan6.com, 22/04).

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Sistem ekonomi Islam memiliki kaidah bahwa kekayaan yang ada diupayakan untuk dimanfaatkan oleh seluruh manusia dan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok pada seluruh warganya serta mendorong setiap warga negaranya untuk bisa bekerja. Hal ini bisa terjadi salah satunya dengan kaidah kepemilikan harta yang sangat jelas. Yakni ada kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Contoh kepemilikan umum adalah seperti barang-barang yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti barang tambang, BBM, Air dan padang rumput. Kekayaan ini tidak boleh dikuasai individu. Maka dalam hal ini, negaralah yang berkewajiban mengelolanya dan hasilnya akan dikembalikan pada rakyat.

Adapun negara memiliki kekayaan tersendiri seperti dari jizyah dan khoroj, fai dan ghonimah (harta rampasan perang). Semua harta ini adalah harta negara yang akan digunakan untuk mengelola negara. Sedangkan kepemilikan individu bisa diraih dengan bekerja, hadiah ataupun harta warisan. Hal lain yang berbeda antara Islam dan sistem yang lainnya adalah bahwa dalam mencari harta atau kekayaan ini bertujuan untuk ibadah. Sehingga semua aktivitas yang terjadi semuanya terikat oleh aturan dari Allah SWT.

Maka benarlah firman Allah SWT yang artinya “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (TQS ; Al-A’rof : 96)

Dengan diterapkannya sistem Islam terjadi kesenjangan sosial apalagi kesenjangan yang permanen akan bisa diinimalisir bahkan tidak terjadi. Semoga sistem Islam ini bisa hadir kembali ditengah-tengah kehidupan kita. Sebab hanya dengan sistem Islam kehidupan manusia bisa mencapai sejahtera. Baldatun thyyibatun warobun ghofur.

Wallahu ‘alam Bish-showab

Post a Comment for "Kesenjangan Antara Si Kaya dan Si Miskin"