Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nestapa Krisis Pangan Dunia, Karena Apa?

Ada banyak faktor yang menyebabkan lahirnya gelombang krisis pangan di berbagai belahan dunia. Konflik, guncangan iklim, pandemi Covid diantaranya.

Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

Bagaimanakah rasanya jika anakmu lapar tapi tak ada makanan yang bisa kau berikan? Sedih bukan kepalang. Hati teriris rasanya melihat anak-anak menangis karena kelaparan. Atau kau tak peduli karena bukan anak kandungmu yang kelaparan?

Dilansir dari laman Republika, hingga Februari 2021, World Food Programme (WWP) memperkirakan setidaknya 12,4 juta warga dari 16 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan. 46 persen keluarga di Suriah telah mengurangi jatah makanan harian mereka, dan 38 persen orang dewasa telah mengurangi konsumsi pangan mereka, agar anak-anak mereka memiliki cukup makanan (30/5/2021).

Mengutip dari Kompas.com, Kamis (22/4/2021), sebuah laporan yang disampaikan oleh Program Pangan Dunia (WFP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada sekitar 3,4 juta penduduk Myanmar terdampak krisis kelaparan.

Tak hanya Suriah dan Myanmar, ada 20 negara yang terancam mengalami bencana kelaparan akut. (Republika.co.id, 24/3/2021)

Faktor Penyebab Krisis Pangan

Ada banyak faktor yang menyebabkan lahirnya gelombang krisis pangan di berbagai belahan dunia. Konflik, guncangan iklim, pandemi Covid diantaranya.

Pertama, konflik negara yang terjadi sejatinya adalah konflik dilatarbelakangi perebutan kekuasaan dan pengaruh negara adidaya. Perebutan pengaruh antara Rusia, AS, Perancis, Inggris telah membuat berbagai negara porak-poranda. Fasilitas yang ada, lahan berkebun dan bercocok tanam hancur.

Kedua, guncangan iklim yang terjadi sejatinya adalah potret buram betapa sistem saat ini sangat eksploitatif. Semua kekayaan alam diraup habis-habisan tanpa melihat kerusakan lingkungan yang terjadi. Hanya berfokus pada keuntungan materi yang didapat. Lihatnya di bumi pertiwi, berapa banyak peraturan yang melindungi investor walau lingkungan rusak karena proyeknya?

Ketiga, pandemi Covid adalah bukti kuasa ilahi. Bahwa kita, makhluk yang lemah tak bisa mengalahkan virus yang tak kasat mata. Sayang, sistem saat ini tak bertumpu pada keselamatan umat. Semua dibisniskan, termasuk pengadaan vaksin yang digadang-gadang untuk menyelamatkan nyawa manusia juga fasilitas kesehatan lainnya. Sehingga pandemi masih berlangsung hingga kini.

Jurang Kesenjangan

Mirisnya, sementara 20 negara berjuang melawan krisis pangan menuju badai kelaparan. Segelintir negara kapitalis justru berlimpah makanan. Tak terancam krisis atau kelaparan. Seperti dilansir di laman tempo.co, sekitar 820 juta orang menderita kelaparan di dunia, namun dalam waktu bersamaan, ada hampir 700 juta kelebihan berat badan (17/10/2019). Inilah ciri khas penerapan kapitalisme, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Bukan hanya dogma, inilah yang terjadi di negeri-negeri yang menerapkan kapitalisme sebagai sistem kehidupan. Mereka yang bermodal besar akan punya kesempatan lebih banyak untuk belajar, bekerja, mengembangkan relasi dan link dalam rangka mempertahankan posisinya. Apalagi sudah jadi rahasia umum di sistem saat ini, di belahan bumi manapun, "Uanglah yang berkuasa."

Entah uang darimana, tapi dengan uang itu aturan bisa dibeli, diprioritaskan bagi negerinya juga dirinya. Bahkan dimuliakan dan disanjungi.

Islam Solusi Hakiki

Dalam Islam, materi bukanlah segalanya. Islam mengajarkan insan takkan jadi mulia karena harta, materi. Bahkan, materi bisa membawa pada kehancuran. Dengan pemahaman ini, wajar jika Rasul, para sahabat, dan orang-orang sholeh dulu menganggap materi sebagai barang yang hina. Diambil seperlunya saja.

Mencukupkan diri dan keluarga dalam kesederhanaan dan kesahajaan. Sehingga takkan menghalalkan segala cara untuk meraup materi termasuk mengeksploitasi alam hingga rusak seperti saat ini. Islam membolehkan kita untuk memanfaatkan alam yang sudah Allah anugerahkan, tapi tidak boleh sampai merusaknya.

Dalam masalah pangan yang tak terlepas dari kebijakan negara di bidang ekonomi, seperti di bidang produksi bahan pangan, distribusinya, proteksi negara terkait impor, infrastruktur negara, dan lain-lain. Semuanya tercantum dalam sistem ekonomi Islam yang memiliki prinsip bahwa negara benar-benar memegang kendali, bukan diserahkan kepada swasta.

Potensi sumber daya alam yang besar akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan umat dengan tetap menjaga kondisi lingkungan yang ada.

Islam pun menerapkan politik pertanian dengan kebijakan meningkatkan produksi pertanian melalui intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Negara bisa saja membantu petani secara langsung berupa modal, benih, peralatan, teknologi, dan sebagainya. Negara juga akan menggunakan lahan sesuai kondisi dan peruntukannya. Lahan subur diprioritaskan untuk lahan pertanian. Negara juga bisa menghidupkan lahan mati atau membuka lahan baru untuk diberikan kepada rakyat yang mampu mengelolanya.

Masalah krisis pangan akan bisa diminimalisir dengan membentuk ketahanan pangan negara yang sudah diantisipasi oleh negara Islam. Ini semua dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah sebagai pemimpin umat yang akan diminta pertanggungjawabannya.

"Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad, Bukhari).

Wallahua'lam bish shawab.

Post a Comment for "Nestapa Krisis Pangan Dunia, Karena Apa?"