Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merindukan Kepemimpinan Teladan Dalam Mengatasi Wabah

Lonjakan yang sangat tinggi pada kasus covid-19 seharusnya sudah menjadikan hal keseriusan pemerintah dalam menangani ini, bukan suatu hal yang harus diremehkan lagi. Pada saat itu banyak WNA bergerombolan masuk wilayah Indonesia dan pemerintah malah memberikan pintu lebar kepada mereka, sedangkan mudik di Indonesia dilarang dan dijaga dengan ketat.

Oleh : Refi Oktapriyanti (Mahasiswa FISIP Universitas Muhamadiyah Jakarta)

Lonjakan yang sangat tinggi pada kasus covid-19 seharusnya sudah menjadikan hal keseriusan pemerintah dalam menangani ini, bukan suatu hal yang harus diremehkan lagi. Pada saat itu banyak WNA bergerombolan masuk wilayah Indonesia dan pemerintah malah memberikan pintu lebar kepada mereka, sedangkan mudik di Indonesia dilarang dan dijaga dengan ketat.

Kasus covid-19 yang belum berakhir sampai saat ini juga, kini bertambah lagi dengan jumlah pasien covid-19 yang belakangan ini melonjat tinggi. Jumlah covid 19 per Selasa sore, 15 Juni 2021 mencapai 1.927.708 orang.

Presiden Joko Widodo mengingatkan empat provinsi di Pulau Jawa yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta beberapa kabupaten atau kota termasuk Kota Bandung agar meningkatkan koordinasi dan 3T pada penanganan Covid-19 (nasional.okezone.com/2021/06/13).

Terkait kebijakan baru 3T ini, masyarakat perlu diberikan pemahaman lagi. Karena Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan mengemukakan masih ada 29 persen masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya, 99 persen masyarakat mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah padahal kenyataannya justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

Namun meskipun masyarakat sudah paham dengan kebijakan yang diterapkan dan penerapan protokol kesehatan, masyarakat masih banyak yang melanggar bahkan acuh terhadap kebijakan ini sehingga menganggap remeh terhadap protokol kesehatan.

Karena melihat beberapa peristiwa kemarin, pemerintah terlihat tebang pilih dalam menerapkan kebijakan. Saat pembagian sembako kemarin telah menimbulkan masyarakat berkerumunan, pemerintah sama sekali tidak memberi hukuman terhadap pihak yang menimbulkan kerumunan tersebut. Sedangkan ketika pihak yang bukan berkepentingannya ada yang menimbulkan kerumunan, langsung diberi ketegasan dan hukuman pidana.

Mau bagaimana pemerintah bisa menerapkan kebijakan agar masyarakatnya patuh, pemimpinnya saja tidak bisa memberikan contoh keteladan bagi masyarakat. Seharusnya pemerintah bisa mencontohkannya kepada masyarakat, bukan malah sebaliknya sehingga masyarakatnya pun ikut abai karena pemerintahnya juga ikut abai terhadap kebijakan yang diterapkan.

Islam dalam Mengatasi Wabah

Pada masa Rasulullah SAW pernah terjadi adanya wabah penyakit menular, wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Rasulullah SAW menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderitanya dalam upaya mengatasi wabah tersebut.

Ketika itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda: Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta. (HR al-Bukhari).

Metode karantina ini sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah SAW dalam mencegah wabah penyakit ini supaya tidak menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul SAW membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah.

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa. (HR al-Bukhari).

Rasulullah SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu. (HR al-Bukhari).

Wabah penyakit menular juga pernah terjadi pada kepemimpinan Amr bin Ash ra di Syam, wabah penyakit menular dengan adanya benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah sehingga mengakibatkan pendarahan ini dinamakan wabah Tha’un Amwas. Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan.

Umar meminta saran kepada kaum muhajirin, anshar, dan orang-orang yang ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat. Bahkan Abu Ubaidah ra menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT?

Lalu Umar ra menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing dan ada 2 lahan yang subur maupun kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah ?

Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yg lain. Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf ra mengucapkan hadist Rasulullah SAW.

“Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari & Muslim)

Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah, Umar ra merasa tidak kuasa meninggalkan sahabatnya yaitu Abu Ubaidah ra. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah, namun Abu Ubaidah ra memilih hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya.

Umar ra pun menangis membaca surat balasan itu dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sagabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha’un dinegeri Syam. Total sekitar 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam.

Keteladan Seorang Pemimpin dalam Islam

Dalam sistem islam (khilafah) kita dapat merasakan sosok pemimpin yang mampu menjadikan teladan, namun mustahil saja jika dalam sistem yang rusak ini kita dapat merasakan sosok kepimimpinan seperti itu. Karena kita sedang berada pada sistem kapitalis, yang dimana itu hanya memikirkan asas manfaatnya saja tanpa memikirkan halal haram.

Hanya dalam Islam, seorang pemimpin sangat tunduk kepada Allah dengan keyakinan imannya yang sangat kokoh karena menjadikan islam sebagai landasan hidupnya. Maka, sudah saatnya kita menghentikan harapan kita kepada pemimpin sekarang untuk menghentikan wabah ini.

Post a Comment for "Merindukan Kepemimpinan Teladan Dalam Mengatasi Wabah"