Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menggenggam Takwa Agar Tak Ambyar

Takwa adalah gol perintah puasa. Tujuan Allah memerintahkan ibadah Ramadan. Sayangnya tak semua mukmin menjadi insan bertakwa setelah Ramadan pergi. Kebanyakan kembali menjadi pribadi biasa saja dan sulit sekali menggenggam takwa.

Oleh: Choirin Fitri

Takwa adalah gol perintah puasa. Tujuan Allah memerintahkan ibadah Ramadan. Sayangnya tak semua mukmin menjadi insan bertakwa setelah Ramadan pergi. Kebanyakan kembali menjadi pribadi biasa saja dan sulit sekali menggenggam takwa.

Mengapa hal ini terjadi? Sekularismelah sumber masalahnya. Paham yang memisahkan antara Islam dengan kehidupan ini banyak digandrungi kaum muslimin. Mereka enggan menggunakan Islam sebagai aturan kehidupan. Islam hanya boleh mengatur urusan ibadah, sedangkan untuk masyarakat dan negara tak diperbolehkan.

Hal ini berdampak pada kehidupan kaum muslimin. Meski telah sebulan menjalankan ibadah Ramadan dengan berbagai ibadah yang dijalankannya tidak tampak efeknya pasca Ramadan pergi. Banyak yang kembali bermaksiat. Kalau pun taat tetap hanya ditunjukkan saat salat, puasa sunnah, sedekah, atau ibadah individu lainnya.

Padahal, yang Allah inginkan bukanlah demikian. Allah ingin kita menjadi insan bertakwa tanpa tapi tanpa nanti. Hal ini telah Allah perintahkan dalam firman-Nya yang berbuny:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang" (QS. Al Hadid:28)

Perintah takwa ini ditujukan oleh Allah kepada mereka yang mengaku beriman. Orang yang beriman tentu tidak hanya meyakini Allah sebagai pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan. Tapi, mereka juga meyakini bahwa segala ciptaan Allah juga diberikan aturan. Aturan yang sempurna atau kaffah.

Maka, Allah pun menginginkan kita menjadi orang yang mau menerapkan Islam kaffah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam secara keseluruhan. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (QS. Al-Baqarah:208)

Ayat ber-Islam kaffah inipun ditujukan oleh Allah kepada mereka yang beriman. Keyakinan bahwa Allah sebagai Al Khaliq Al Mudabbir. Allah sebagai pencipta sekaligus pengatur. Tidak hanya mengatur urusan ibadah, tapi juga urusan bernegara. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan ada pula aturannya dalam Islam.

Sayangnya karena sekularisme yang telah disuntikkan musuh-musuh Islam ke tubuh kaum muslimin hal ini tidak bisa diterapkan. Islam hanya diletakkan di masjid atau mengatur ranah individu. Urusan masyarakat dan negara diatur dengan aturan buatan manusia yang lemah. Sehingga, yang terjadi bisa dilihat saat ini. Kerusakan moral, ekonomi, sosial, alam, dan lainnya tampak nyata.

Maka, kaum muslimin saat ini harus segera sadar. Jangan sampai ketakwaan pada Allah ambyar karena sekularisme yang terus digenggam. Kita harus segera membuang jauh paham rusak dan merusak ini. Lalu, mengembalikan posisi Allah sebagai pengatur seluruh urusan kehidupan kembali. Mengembalikan hukum-hukum Allah pada semua lini kehidupan. Ranah individu, masyarakat, maupun negara. Anda siap?!

Post a Comment for "Menggenggam Takwa Agar Tak Ambyar"