Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

APAKAH KRISIS PALESTINA BISA DIAKHIRI DENGAN PERDAMAIAN ?

Nyaris berita Palestina hampir terlupakan. Namun sesungguhnya negeri itu masih dilanda nestapa yang belum juga berujung. Puluhan tahun negeri ini terus mendapatkan serangan dari Israel. Tak kurang sekitar satu juta warga Palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel sejak perang Timur Tengah tahun 1967, menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal pada Sabtu, 5 Juni 2021. Sekitar 17.000 perempuan dan anak perempuan dan 50.000 anak-anak termasuk di antara mereka yang ditahan. Belum lagi korban jiwa yang tak terhitung, kerusakan harta benda dan fasilitas umum, kelaparan dan kemiskinan yang diderita merupakan sedikit gambaran kondisi wilayah yang terpenjara itu.

Oleh Indah Kartika Sari (Pegiat Opini Islam)

Nyaris berita Palestina hampir terlupakan. Namun sesungguhnya negeri itu masih dilanda nestapa yang belum juga berujung. Puluhan tahun negeri ini terus mendapatkan serangan dari Israel. Tak kurang sekitar satu juta warga Palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel sejak perang Timur Tengah tahun 1967, menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal pada Sabtu, 5 Juni 2021. Sekitar 17.000 perempuan dan anak perempuan dan 50.000 anak-anak termasuk di antara mereka yang ditahan. Belum lagi korban jiwa yang tak terhitung, kerusakan harta benda dan fasilitas umum, kelaparan dan kemiskinan yang diderita merupakan sedikit gambaran kondisi wilayah yang terpenjara itu.

Sekalipun oposisi Israel telah membentuk koalisi baru untuk pemerintahan baru dengan menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaan selama 12 tahun, namun warga Palestina pesimis persoalan negeri mereka akan selesai dengan lengsernya Netanyahu. Mereka mengatakan, “Kami belum melihat akhir dari pendudukan di tahun mendatang.” Mereka juga mengatakan, “Kami telah banyak menyaksikan pemimpin Israel, tetapi pembangunan permukiman (Yahudi) baru dan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza tetap berlanjut," Rasa pesimis rakyat Palestina juga terungkap lewat pernyataan, “Kami akan tetap seperti sebelumnya, dalam hubungan konfrontatif dengan pendudukan, terlepas dari siapa perdana menterinya, karena pengalaman sebelumnya mengatakan tidak ada perbedaan nyata dalam kebijakan Israel terhadap Palestina." terangnya. Sebagian orang di Gaza urusan politik Israel tidak terpikir oleh mereka. “Saya tidak mengikuti berita dari Israel,” kata Latifa al-Nafar (36 tahun), seorang ibu rumah tangga. "Saya tidak peduli siapa yang akan berkuasa. Saya tidak tahu Bennett atau Lapid. Yang saya pedulikan adalah hidup saya di sini," ungkapnya. “Kami telah hidup di bawah pengepungan selama bertahun-tahun. Hidup kami menjadi sulit. Bukan hanya Netanyahu yang memberlakukan pengepungan, tetapi pemerintah Israel berturut-turut yang memberlakukan kebijakan yang sama pada kami di Gaza," ungkapnya. “Kami ingin hidup dalam kondisi yang lebih baik. Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini...Yang saya pedulikan adalah kami bisa hidup dalam damai dan dalam kondisi yang lebih baik,” tandasnya.

Sementara itu sikap dunia Islam masih tetap sama yaitu mendorong keduanya untuk melakukan perundingan damai. Dunia Islam masih enggan memobilisir tentara mereka untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel. Begitu pula Indonesia. Dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah menteri luar negeri dan Presiden Sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis 20 Mei 2021, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menegaskan pentingnya Palestina dan Israel kembali ke meja perundingan untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng.

Padahal perjanjian dan diplomasi damai berulang kali dilakukan. Tercatat ada 9 pertemuan, diantaranya :

1. Perjanjian Hebron pada Januari 1997

2. Memorandum Wye River pada Oktober 1998

3. Memorandum Sharm El-Sheik pada September 1999

4. Perundingan Camp David pada Juli 2000

5. Pertemuan Taba pada Januari 2001

6. Road Map for Peace pada 24 Juni 2004

7. Pertemuan Laut Merah pada Juni 2003

8. Perjanjian Geneva pada Desember 2003

9. Konferensi Annapolis pada November 2007

Namun upaya tersebut selalu gagal. Palestina kembali diserang dan terus-menerus diblokade. Blokade terhadap Gaza kembali dilakukan Israel sejak tahun 2007 dan masih berlangsung hingga sekarang. Para relawan kemanusiaan pun berduyun-duyun mengirimkan bantuan dan tenaga kepada rakyat Palestina yang menderita di Tanah Air sendiri. Salah satu penyebabnya karena blokade yang telah berlangsung selama tiga tahun. Semua ini menunjukkan berbagai cara sekuler yang diambil oleh dunia Islam ternyata tidak menjamin bebasnya negeri Palestina yang diberkahi dari rongrongan bangsa kera itu. Masalahnya Palestina merupakan negeri yang diberkahi dan merupakan tanah kharajiyyah yang selalu dipertahankan dari rongrongan para kafirin lewat darah para syuhada. Sehingga mengambil jalan perdamaian sama saja dengan mengkhianati ajaran Islam juga mengkhianati para Kholifah kaum muslimin yang menjaga tanah tersebut ratusan tahun lamanya di bawah bendera dan panji-panji tauhid.

Begitu juga dengan tawaran solusi 2 negara. Yang dimaksud solusi 2 negara adalah mengakui kemerdekaan Palestina dan hidup berdampingan dengan Israel. Jika kita mencermati solusi yang ditawarkan ini, seolah-olah bisa menyelesaikan masalah tapi sesungguhnya membahayakan bagi umat Islam. Mengapa? Karena sesungguhnya jika ini dilakukan, maka sama saja dengan kita mengakui entitas Yahudi, artinya mengakui negara Israel Yahudi di tanah Palestina. Padahal Palestina adalah tanah Kaum Muslimin, yang ditaklukkan di masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Sehingga status Palestina hingga hari kiamat adalah tanah Kaum Muslimin. Sementara itu yang dimaksudkan Palestina bukan Tepi Barat dan Jalur Gaza saja, tapi semua wilayah termasuk yang dijajah Israel. Yang mesti dipahami, Israel adalah agresor dan imperialis. Kehadirannya adalah batil sehingga haram mengakui kehadiran Israel walau hanya sejengkal tanah. Karenanya, Kaum Muslim mesti berhati-hati terhadap pandangan yang kelihatannya benar tapi batil, yakni gagasan kemerdekaan Palestina.

Walhasil, persoalan Palestina yang merupakan asset berharga seluruh umat Islam sedunia, sudah seharusnya dikembalikan kepada umat Islam dan agamanya. Otoritas yang berwenang untuk menyelesaikan ada di pundak para pemimpin Islam khususnya di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Palestina. Mereka memiliki kekayaan sekaligus militer yang dibutuhkan untuk mengusir entitas Israel sebagai negara penjajah. Namun sayang, hari ini para pemimpin dunia Islam hanya bisa mengecam dan mengeluarkan solusi perdamaian. Tidak tergerak untuk memobilisasi tentaranya untuk membebaskan Palestina. Sekat-sekat nasionalisme menjadikan para pemimpin dunia Islam tersandera di negara masing-masing. Mereka terhalang jiwa dan hartanya untuk menyelamatkan saudara-saudara seaqidah di negeri Palestina.

Oleh karena itu tidak mungkin lagi berharap kepada para pemimpin dunia Islam yang hati mereka sudah ditutupi oleh penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Palestina dan dunia Islam yang tertindas hanya berharap kepada hadirnya kembali sosok pemimpin Islam dan panglima perang seperti Kholifah Umar Bin Khattab, Sultan Abdul Hamid II dan Sholahuddin al Ayyubi. Tentu saja pemimpin yang amanah dan berani tersebut hanya lahir dari rahim Khilafah, negara adidaya Islam global. Tentu kita sedang berharap-harap cemas menanti kedatangannya setelah satu abad menghilang dari percaturan dunia.

Referensi :

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1374179-ri-tekankan-pentingnya-palestina-israel-kembali-ke-perundingan-damai

https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-012009508/sejak-1967-sebanyak-1-juta-warga-palestina-ditangkap-pasukan-israel

https://www.kompas.com/global/read/2021/06/05/102120870/warga-palestina-sambut-penggulingan-benjamin-netanyahu-tapi-yakin-tidak?page=all

https://news.okezone.com/read/2010/06/08/343/340740/angka-13-kegagalan-perjanjian-israel-palestina

Post a Comment for "APAKAH KRISIS PALESTINA BISA DIAKHIRI DENGAN PERDAMAIAN ?"