Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Angka Covid-19 Melonjak, Butuh Solusi Bijak

Setelah libur lebaran, kasus Covid diberbagai daerah mengalami lonjakan yang sangat tinggi, bahkan beberapa daerah terindikasi telah ditemukan virus varian baru dari India. Hal ini seharusnya semakin membuat pemerintah lebih waspada.

Oleh : Isty Da'iyah

Setelah libur lebaran, kasus Covid diberbagai daerah mengalami lonjakan yang sangat tinggi, bahkan beberapa daerah terindikasi telah ditemukan virus varian baru dari India. Hal ini seharusnya semakin membuat pemerintah lebih waspada.

Seperti dikutip dari Kompas.com(11/05/21) yang mewartakan saat ini data yang didapatkan dari pengetesan Covid-19 secara acak, terhadap masyarakat yang melakukan perjalanan selama masa larangan mudik sangat mengejutkan. Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartanto menyebutkan, terhitung sejak 6 Mei 2021, lebih dari 4.000 orang pemudik dinyatakan positif Covid.

Sementara itu CNNIndonesia (13/06/21), mewartakan Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet mencatat lonjakan tingkat keterisian ranjang atau bed occupancy rate (BOR) per Minggu (13/6) pagi, yang angkanya mencapai 80,68 persen dan hanya tersisa 19,32 persen.

Koordinator Humas RSD Covid-19 Wisma Atlet Letkol TNI Laut M. Arifin mengatakan jumlah ranjang di RSDC saat ini hanya tersisa 1.158, setelah mencatat penambahan sebanyak 537 pasien."Lampu merah RSDC Wisma Atlet," kata Arifin melalui pesan pendeknya, Minggu (13/6).

Karena melonjaknya kasus di berbagai daerah yang cukup tinggi, maka pemerintah melakukan beberapa upaya untuk menekan jumlah penyebaran angka lonjakan Covid-19 tersebut. Salah satunya adalah meningkatkan koordinasi 3T.

Seperti yang dilakukan oleh Presiden yang mengingatkan empat provinsi di Pulau Jawa yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta beberapa kabupaten atau kota termasuk Kota Bandung agar meningkatkan koordinasi dan 3T pada penangan Covid-19. (OkNews.com 13/06/21).

Tidak Cukup 3T

Lonjakan kasus Covid-19 di berbagai daerah ini, menggambarkan kegagalan pemerintah dalam mengatasi pandemi melalui berbagai kebijakan yang telah dilakukan selama ini. Selain sikap masyarakat yang sudah mulai bosan dan pesimis terhadap kondisi pandemi yang sudah lama dialami. Masyarakat yang tidak patuh protokol kesehatan juga semakin bertambah.

Sikap pesimis dan perilaku masyarakat yang abai terhadap virus Covid-19 sebenarnya bukan sepenuhnya salahnya masyarakat saja. Hal ini terjadi akibat gagal nya pemerintah mengedukasi bahaya virus Covid-19 kepada masyarakat.

Pemerintah seharusnya menginstropeksi kebijakannya selama ini, apa yang membuat masyarakat pesimis dan abai terhadap hal ini. Itu semua terjadi karena kebijakan setengah hati tanpa konsistensi yang diperlihatkan pemerintah kepada rakyatnya. Hal inilah salah satu sebab yang membuat menipisnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sekalipun apa yang disampaikan pemerintah adalah benar, maka karena krisis kepercayaan semakin parah, maka akan tetap saja dianggap bohong.

Jika sudah terjadi krisis kepercayaan antara rakyat kepada pemerintah, akan sulit membuat rakyat patuh kepada aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Rakyat perlu contoh dan bukti yang konkrit berupa kebijakan yang konsisten dalam penanganan wabah yang terjadi ini.

Oleh karena itu tidak cukup penanganan wabah ini hanya dengan mengandalkan 3T (testing, tracing, and treatment). Karena kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan masih rendah. Namun perlu keteladanan sikap konsisten pemerintah terhadap kebijakan yang diberlakukan.

Ketika menerapkan suatu aturan, pemerintah seharusnya tidak tebang pilih dalam menerapkannya. Aturan tentang kerumunan juga harus jelas, jika kerumunan dilarang, kenapa ada suatu kerumunan yang diperbolehkan, salah satunya kerumunan kampanye dan pilkada dan beberapa contoh inkonsistensi pemerintah terhadap kebijakan yang dikeluarkan.

Solusi Islam

Selain masyarakat butuh keteladanan dan konsistensi pemerintah dalam menangani pandemi, hal ini juga tidak lepas dari sebuah sistem yang ditetapkan di negeri ini. Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di negeri ini seakan telah mengedepankan keberlangsungan ekonomi daripada keselamatan seluruh rakyat agar bisa terhindar dari wabah.

Berbeda dengan sistem Islam yang mana segala sesuatunya sudah diatur menggunakan syariat Allah SWT. Menekankan bahwa negara wajib untuk membuatkan kebijakan yang berfokus menghentikan wabah dan memberi jaminan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, bukan mengedepankan kelangsungan bisnis kaum kapitalis.

Sistem Islam dalam bingkai daulah, dengan seperangkat aturan yang berasal dari Allah SWT, memberi solusi tuntas ketika terjadi wabah di suatu wilayah negerinya. Sehingga masalah yang terjadi tidak akan berlarut-larut yang akan menimbulkan efek domino bagi kehidupan warga negaranya.

Seperti pada masa Kholifah Umar bin Khathab, ketika terjadi wabah di negeri Syam maka umar segera melakukan karantina wilayah (lockdown) agar wabah tidak menyebar ke daerah yang tidak berdampak. Sehingga daerah yang tidak terkena wabah bisa membantu kebutuhan daerah yang terkena wabah. Yang meliputi bantuan medis, alat kesehata dan kebutuhan pokok lainya.

Sistem Islam mampu merealisasikan harapan umat akan ketulusan pemerintah dalam mengatur segala urusan rakyatnya. Pemenuhan harapan itu niscaya terjadi karena setiap pemimpin yang dipilih demi menjalankan tugas memenuhi kebutuhan rakyat tidak akan mengingkari amanahnya. Semua itu karena ketakutan akan implikasinya di akherat.

Rasulullah Saw, bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari : "Tidak seorang hamba pun yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu dia tidak memperhatikan mereka dengan nasihat, kecuali dia tidak mendapatkan surga".

Sistem Islam dalam suatu negara, tidak akan ada yang berani memanfaatkan kelemahan rakyat, sistem Islam kaffah juga bersih dari kepentingan bisnis, apalagi memberi keistimewaan bagi raksasa korporasi yang bakal mendapat untung besar di saat seluruh rakyat tertimpa nestapa akibat pandemi.

Dalam sistem Islam, imam (kepala Negara) itu bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas segala urusan dan masalah umat, oleh karena itu negara wajib meriayah rakyatnya, termasuk menjaga keselamatan seluruh rakyatnya dari ancaman wabah.

Seperti sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang berbunyi : "Imam / Kholifah adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya".

Oleh sebab itu jika syariah Islam diterapkan di seluruh aspek kehidupan manusia, maka jika terjadi wabah tidak akan berkepanjangan yang akan bisa menimbulkan efek domino seperti yang dirasakan rakyat saat ini. Tidakkah kita merindukan sebuah sistem yang solusinya selalu diukur atas keridhaan Illahi?. Sebuah sistem yang bila diterapkan akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu'alam bishawab.

Post a Comment for "Angka Covid-19 Melonjak, Butuh Solusi Bijak"