Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Pendidikan Bervisi Insan Kamil

Pendidikan dalam Islam memiliki upaya sadar, terstruktur, terprogram secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan. Di mana tujuannya adalah membentuk manusia bertaqwa dengan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah) secara utuh yakni pola pikir dan pola sikapnya berakidah Islam.

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. | Penulisan dan Pendidik Generasi

Islam dengan kesempurnaannya sekaligus sebagai agama pamungkas yang menyempurnakan semua agama. Bahkan, pengaturan segala aspek kehidupan dibahas dengan solusi yang mustanir. Tentu semua itu berlandas Al Qur'an dan Hadist serta Ijma.

Pun dengan pendidikan. Konsep pendidikan dalam Islam tentu jauh berbeda secara diametral dengan konsep pendidikan barat. Di mana, perbedaan yang sangat kental terasa terletak pada ideologi yang melandasinya. Sistem pendidikan Islam tentu didasarkan pada aqidah Islam yang mengharuskan tujuan, kurikulum, materi dan metode yang digunakan merujuk pada pemikiran dan konsep yang terpancar dari aqidah Islam.

Visi Pendidikan Islam

Pendidikan dalam Islam memiliki upaya sadar, terstruktur, terprogram secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan. Di mana tujuannya adalah membentuk manusia bertaqwa dengan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah) secara utuh yakni pola pikir dan pola sikapnya berakidah Islam.

Semua itu, diharapkan akan menghasilkan output yang memiliki pola pikir cemerlang dan berakhlak mulia dengan ketaqwaannya kepada Allah swt, menjalankan semua hukum-hukum Allah, bukan generasi miskin moralitas, lemah dan tidak memiliki ghirah agama. Bahkan, jika melihat generasi saat ini, mereka kurang percaya diri dengan agamanya.

Nash-nash syariah menetapkan bahwa pendidikan sebagai hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang wajib dijamin ketersediaannya oleh negara, seperti halnya kesehatan, keamanan, kebutuhan pokok lainnya. Berikut salahsatu nash syariah yang menetapkan pendidikan sebagai kebutuhan dasar adalah sabda Nabi saw,:

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan (HR al-Bukhari dan Muslim)."

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu adalah kekuatan bagi kehidupan manusia. Jika ilmu lenyap dan berkurang maka akan mendatangkan mudharat (ancaman/bahaya). Sehingga solusi untuk menghilangkan mudharat ini hanya dengan cara menyelenggarakan pendidikan berkesinambungan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini pula yang menegaskan kebutuhan dasar ini wajib adanya diselenggarakan dan merupakan tanggungjawab negara sebagai institusi terbesar.

Di dalam kitab al-Iqtishadiyyah al-Mutsla disebutkan bahwa jaminan pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi seluruh rakyat berada di tangan negara. Berdasarkan sabda Nabi saw:

"Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR al-Bukhari).

Atas dasar inilah, Islam mewajibkan negara menjamin setiap warga negara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka dengan mudah. Hal ini diwujudkan dengan memberikan pendidikan gratis, berkualitas dan menyiapkan sarana prasarana dan guru yag yang terbaik dengan gaji yanh yang ditanggung oleh negara.

Kewajiban ini didasarkan pada kebijakan Rasulullah saw ketika beliau memberikan kebebasan bagi tawanan Perang Badar jika mereka mengajarkan baca tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini adalah tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan adalah milik Baitul Mal (Kas Negara). Artinya Rasulullah saw, menjadikan biaya pendidikan setara nilainya dengan barang tebusan yang merupakan milik Baitul Mal. Dengan kata lain, Rasulullah memberikan upah kepada para pengajar (tawanan perang) dengan harta benda yang seharusnya milik Baitul Mal. Maka, kebijakan tersebut dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggungjawab penuh atas kebutuhan rakyatnya, begitupun pendidikan.

Paradigma pendidikan dalam Islam telah membuka mata kita bahwa begitu menjamin hak-hak warga negaranya tanpa terkecuali. Bahkan, tidak ada pembedaan antara yang kaya, miskin, pajabat dan rakyat biasa, semua mendapatkan hak yang sama. Hal ini jelas bertolak belakang dengan paradigma kapitalis dalam hal pendidikan. Kapitalis menjadikan pendidikan sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan, sebagaimana saat ini pendidikan diprivatisasi dan dibisniskan. Orientasinya tidak lagi mencetak generasi unggul namun bersandar pada untung rugi.

Olehkarenanyalah sudah saatnya kita beralih pada sistem Islam yang akan menerapkan pendidikan Islam bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Sehingga, kecerdasan, melek literasi dan melahirkan insan kamil dapat benar-benar terwujud. Wallahu'alam bishawab.

Post a Comment for "Sistem Pendidikan Bervisi Insan Kamil"