Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Merefleksi Semangat Kartini yang Terdistorsi Sejarah

Tidak ada yang dapat menolak bahwa sosok Kartini adalah perempuan cerdas dan juga sangat berpengaruh membawa perubahan, namun sayangnya poin penting dari semangat perubahan yang dibawanya terdsitorsi sejarah yang kemudian dibelokkan sehingga masyarakat pada umumnya pun menjadi kabur pengetahuannya tentang sosok Kartini karena fakta-fakta yang selama ini muncul di permukaan sangat bertentangan dengan fakta sebenarnya.

Oleh: Sari Ramadani (Aktivis Muslimah)

Berbicara mengenai Kartini maka yang terlintas di benak masyarakat pada umumnya adalah kalimat "Habis gelap, terbitlah terang."

Ya, kalimat tersebut begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Namun sayang, Kartini dianggap sosok yang paling pas dalam merepresentasi perjuangan pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu bagi pegiat emansipasi wanita. Akan tetapi benarkah demikian?

Hari Kartini yang jatuh pada Tanggal 21 April, merupakan momentum bagi kaum perempuan Indonesia untuk melakukan kontemplasi terhadap nilai-nilai perjuangan kaum perempuan yang ada di Indonesia. Hal itu diungkap oleh Wakil Ketua DPC Bidang Pariwisata dan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Hj. Fitriani Manurung. Dikatakannya bahwa sejarah Indonesia dipenuhi oleh perempuan-perempuan Hebat di masanya.

Untuk itu menempatkan perempuan hanya diruang lingkup domestik rumah tangga akan membuat peradaban negeri ini menurun, Perempuan harus tetap berkarya untuk memastikan keberlanjutan sejarah dan peradaban negeri ini. Mengaca pada sejarah masa lalu, maka sangat salah jika Perempuan hari ini hanya dipandang sebagai objek karena peran perempuan bisa ditingkatkan dan harus ada usaha dan pemahaman yang sistematis agar perempuan menyadari bahwa keberadaan perempuan didunia bukan hanya untuk menempati posisi domestik rumah tangga melainkan membangun peradaban, (waspada.co.id, 22/04/2021).

Tidak ada yang dapat menolak bahwa sosok Kartini adalah perempuan cerdas dan juga sangat berpengaruh membawa perubahan, namun sayangnya poin penting dari semangat perubahan yang dibawanya terdsitorsi sejarah yang kemudian dibelokkan sehingga masyarakat pada umumnya pun menjadi kabur pengetahuannya tentang sosok Kartini karena fakta-fakta yang selama ini muncul di permukaan sangat bertentangan dengan fakta sebenarnya.

Dalam sistem Kapitalis-Sekuler pada saat ini, hanya melihat perjuangan Kartini sebagai “Perempuan” yang menginginkan kebangkitan kaum perempuan dan diperparah dengan tambahan kaum feminisme dengan ide kesetaraan gender yang mereka kembangkan sendiri.

Kartini sendiri jelas mendapatkan semangat perubahan setelah mempelajari Al-Qur’an walaupun tidak secara keseluruhan ia dapatkan sebab saat itu KH. Sholeh Darat (gurunya) meninggal dunia sebelum terjemahan Al-Qur’annya selesai. Di mana nilai sekuler maupun feminis bertolak belakangan dengan Al-Qur’an.

Kemudian tak habis-habisnya para pegiat emansipasi dan juga kaum feminis menggambarkan kepada masyarakat umum bahwa para perempuan yang hanya mengurusi urusan domestik rumah tangga adalah perempuan yang terbelenggu, terkekang, tidak akan dapat membawa perubahan, tak dapat bangkit dan lain sebagainya. Padalah kenyataannya jika perempuan terutama seorang ibu dapat benar-benar menjalankan perannya menjadi seorang ibu sekaligus istri maka, ia akan dapat mencetak generasi tangguh yang nantinya akan siap menjadi seorang pejuang.

Maka, kaum muslimin harus melihat sejarah secara objektif dan komprehensif agar tidak menggeneralisasi persoalan perempuan yang marak diangkat di momen tertentu. Juga selalu menjadikan standar hukum syara’ sebagai tolak ukur dari pemikiran dan sikap mereka. Sebagaimana di dalam sistem Islam yang menjaga kepribadian warga daulah dengan memberikan suasana keimanan dalam kehidupan mereka dan memiliki imunitas terhadap pemikiran-pemikiran asing yang salah.

Untuk itu, menjadi Kartini di masa kini, bukanlah hal yang mudah. Terlebih dengan fakta sejarah yang ada dan sudah disajikan di tengah-tengah masyarakat yang kemudian pegiat emansipasi dan kaum feminis menyalahgunakan perjuangan Kartini sebagai tokoh yang hanya memperjuangkan kesetaraan gender semata.

Padahal semata-mata bukan itu yang diperjuangkan oleh beliau, melainkan hak yang sama bagi kaum perempuan untuk dapat menuntut ilmu, terlebih lagi itu ilmu Islam agar dapat meraih ketakwaan yang sebenar-benarnya.

Seperti dalam firman Allah Swt yang artinya"...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (TQS. Al-Mujadilah 11).

"… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” (TQS. Al-Hujurat 13).

Oleh karenanya, saat ini adalah momen yang paling tepat untuk bangkit bagi para Muslimah yang kemudian akan membawa perubahan hakiki dan siap berjuang untuk Islam agar Islam dapat diterapkan kembali di dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab.

Post a Comment for "Merefleksi Semangat Kartini yang Terdistorsi Sejarah"