Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendidikan Agama Tak Cukup Diganti Pendidikan Akhlak

Agama adalah kebutuhan azasi setiap orang. Agama harus ditanamkan sejak usia dini, agar terus mengakar kuat dalam jiwa anak. Agama harus terus diajarkan di sekolah, di rumah, di masyarakat di manapun berada. Agama harus menancap dan terus diamalkan di segala aktivitas.

Oleh : Lilik Yani

Agama adalah kebutuhan azasi setiap orang. Agama harus ditanamkan sejak usia dini, agar terus mengakar kuat dalam jiwa anak. Agama harus terus diajarkan di sekolah, di rumah, di masyarakat di manapun berada. Agama harus menancap dan terus diamalkan di segala aktivitas.

Tanpa agama, hidup akan kacau, tidak terarah. Dalam agama ada aturan atau pedoman hidup yang harus diterapkan. Tanpa agama, kehidupan diri, masyarakat, negara bisa kacau balau, masalah tak kunjung henti, kesejahteraan umat tak akan didapatkan.

Apa yang terjadi jika pendidikan agama dihapus? Lalu diganti dengan pelajaran akhlak?

Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID,- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan keterkejutannya melihat perencanaan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dalam draf terbaru, frasa agama dihapus dan digantikan dengan akhlak dan budaya.

Tokoh agama, termasuk Ormas, MUI, sangat terkejut dengan konsep ini. Sementara, kami di satu sisi, menginginkan dan senantiasa menyosialisasikan umat agar menjadi umat yang taat beragama," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi saat dihubungi Republika, Ahad (7/3).

Setelah menuai banyak kritikan, akhirnya draf tersebut direvisi, dengan kembali memasukan bab agama,"Saya kaget juga mendengarnya, bahwa ada rencana menghilangkan pelajaran agama, kreatif sekali ya orang ya. Itu enggak pernah ada rencana itu dan tidak pernah akan kita menghilangkan pengajaran agama di dalam kurikulum kita," kata Nadiem dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR, Rabu (10/3/2021).

Nadiem mengatakan, pihaknya akan memasukkan kembali frasa agama dalam draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 yang sebelumnya sempat menjadi polemik karena frasa itu dihilangkan.

Agama Tak Cukup Diwakili Akhlak

Kiai Abdullah Jaidi mengatakan, agama merupakan tiang bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang didasarkan pada agama dan menjalankan syariatnya menurut agama masing-masing. Tanpa adanya agama, bangunan atau pendidikan yang sudah berjalan akan jatuh dan roboh.

Namun, ia mengatakan konsep yang diusung Kemendikbud hanya menyebutkan permasalahan yang berkenaan dengan akhlak dan budaya di Indonesia. Kiai Abdullah mengatakan frasa 'agama' tidak cukup diwakilkan dengan frasa 'akhlak' dan 'budaya'.

Kiai Abdullah juga mengatakan, Pancasila sebagai dasar negara mengamanatkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, agama adalah sesuatu yang penting dan mendasar bagi bangsa Indonesia.

Dalam Pancasila agama diletakkan pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara yang katanya berlandaskan Pancasila bahkan sangat fanatiknya jika ada organisasi yang tidak berideologi pancasila dianggap anti pancasila. Namun mengapa justru akan menghilangkan nilai agama. Apakah itu tidak berarti melawan pancasila sendiri?

Ketuhanan Yang Maha Esa sudah identik dengan agama, maka jika pelajaran agama dihapus berarti akan menghapus makna Ketuhanan. Kebutuhan mendasar yang paling dibutuhkan setiap orang. Tanpa agama kehidupan akan rusak, kacaubalau tak teratur.

Bisa dibayangkan akan terjadi seperti apa jika hidup tidak diatur dengan agama? Sebelum keputusan ini, di mana agama masih diajarkan di sekolah saja, banyak kemaksiatan terjadi. Anak tidak hormat kepada orang tua, murid berani dengan gurunya, perkelahian antar siswa, pergaulan bebas, dan banyak kejahatan lain menimpa.

Itu ketika agama masih diajarkan meski hanya 2 jam setiap pekan. Agama yang diajarkan sangat minimalis maka hasilnya juga sangat minimalis yang memiliki keimanan bagus.

Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi jika pendidikan agama itu jadi dihapus? Cukup diganti dengan pendidikan karakter atau akhlak. Bukankah akhlak itu bagian dari syariat agama? Lebih tepatnya jika syariat agama dijalankan dengan baik maka akan berbuah akhlak.

Kita lihat para pemimpin saat ini. Mereka hasil pendidikan puluhan tahun atau belasan tahun lalu, di mana pendidikan agama masih bagus. Pendidikan agama di sekolah, di TPA, di masjid, d rumah, di masyarakat. Di mana semua masih peduli dengan pendidikan generasi. Karena dari merekalah akan menjadi pemimpin. Namun apa yang terjadi? Banyak pemimpin yang tidak amanah, mudah terpengaruh lingkungan, mudah tergoyahkan karena penawaran menggiurkan. Jadilah pemimpin yang tidak sesuai aturan Allah.

Maka dari itu bisa dibayangkan apa yang terjadi jika agama dihapus dari sekolah. Bahkan cukup digantikan dengan akhlak? Akhlak itu buah dari agama yang diterapkan. Jika tak ada aturan agama yang diterapkan, bagaimana bisa diketahui hasilnya?

Bagaimana Islam Memandang Masalah Ini?

Dalam Pemerintahan Islam, agama menjadi kebutuhan mendasar yang harus diperhatikan setiap individu. Setiap menjalankan aktivitas harus dilandaskan pada aturan agama yang benar. Agama yang akan mengatur seluruh aktivitas yang kita lakukan.

Tanpa agama maka kehidupan akan kacau balau. Hidup tidak ada panduan, arahan, petunjuk, asal jalan saja bebas sesuakanya. Maka tidak akan bisa meraih tujuan. Adanya agama akan memunculkan keteraturan hidup.

Maka dari itu pemerintah Islam akan menjaga agama para umatnya. Dijaga ibadahnya, keimanannya, agar tetap berada dalam rel yang benar. Karena sangat pentingnya agama, maka dipastikan seluruh umat menjalankan ibadah dengan baik. Hingga diterapkan sanksi bagi muslim yang berkeliaran pada saat waktunya salat berjamaah.

Pendidikan agama juga sangat diperhatikan. Karena lagi-lagi alasan bahwa agama kebutuhan vital yang harus terus dipelajari. Jadi pemerintah Islam memastikan pendidikan agama terus diajarkan dan semakin dijaga kwalitasnya. Karena agama akan membentuk keteguhan, kekuatan iman, ketaatan kepada Allah dan hukum syara.

Jika pendidikan agama diganti pendidikan karakter atau akhlak, maka bisa dipastikan akan terjadi penurunan. Karena akhak baru bisa dilihat ketika aturan agama diterapkan. Jika pendidikan agama dihilangkan, bagaimana siswa bisa tahu syariat yang nenar. Beruntung jika dari kecil anak sudah ditanamkan pendidikan agama. Atau jika dalam keluarga orang tua sangat peduli dan mendidik anak berlandaskan agama.

Bagaimana jika tidak? Anak tidak dikenalkan pendidikan agama di rumah. Tidak juga disuruh ngaji di TPA. Kemudian di sekolah yang diharapkan diajar agama namun awalnya hanya dua jam setiap pekan. Itupun tidak maksimal. Lalu sekarang akan dihapus, maka makin lengkap penderitaan generasi sekarang yang jauh dari pendidikan agama.

Itulah pentingnya ada pemerintah Islam yang menjaga dan memastikan pendidikan Islam diterapkan oleh setiap umatnya. Semua dilakukan demi meraiha keselamatan di dunia hingga akherat kelak. Sebuah tugas yang mulia, melanjutkan amanah Nabi dan Rasul untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia.

Wallahu a'lam bish shawab

Surabaya, 8 Maret 2021

Post a Comment for "Pendidikan Agama Tak Cukup Diganti Pendidikan Akhlak"