Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengapa Berkah Negeri Belum Kunjung Tiba?

Segala keagungan hanyalah milik Allah. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu berjalan pada tempatnya. Ia pulalah yang telah menjadikan seperangkat aturan agar kehidupan manusia memperoleh berkah. Maka dalam penciptaan seperangkat aturan tersebut, pastilah Allah memiliki tujuan.

Oleh : Miliani Ahmad

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya." (Q.S Ali-Imron : 19)

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." (Q.S Ali- Imran : 85)

Segala keagungan hanyalah milik Allah. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu berjalan pada tempatnya. Ia pulalah yang telah menjadikan seperangkat aturan agar kehidupan manusia memperoleh berkah. Maka dalam penciptaan seperangkat aturan tersebut, pastilah Allah memiliki tujuan.

Diantara tujuan-tujuan pokok adanya syariah yang diturunkan adalah menjaga kemurnian agama (hifdzud diin), memelihara jiwa (hifdzun nafs), memelihara keturunan (hifdzun nasl), memelihara harta (hifdzul maal) dan memelihara akal (hifdzul aql).

Pada tujuan menjaga kemurnian agama, Islam telah memberikan jalan agar agama tetap berada dalam keagungannya tanpa kerusakan yang disebabkan oleh tingkah laku manusia. Seperti aturan tentang larangan bagi manusia untuk menghina serta mengolok-olok syariat. Selain itu ada pula ketegasan hukum yang akan berlaku bagi siapa saja diantara umatnya yang berani berbuat murtad.

Begitupula adanya syariat yang bertujuan untuk memelihara nyawa/jiwa manusia, Islam pun telah meletakkan aturan yang rinci berkaitan dengan larangan melakukan tindakan pembunuhan serta aborsi. Untuk tujuan memelihara keturunan, syariat pun telah mengatur aturan interaksi pria wanita secara tepat agar tidak menimbulkan masalah turunan seperti zina. Selain itu, untuk menjaga nasab keturunan, menikah adalah jalan yang sangat dianjurkan demi menjaga kesucian generasi yang dilahirkan.

Selanjutnya dalam konteks menjaga dan memelihara harta, Islam pun juga menjadikan adanya kewajiban bagi kaum muslim untuk menjauhi tindakan pencurian, menipu, korupsi, membegal ataupun merampok. Terakhir, berkaitan dengan tujuan syariat untuk menjaga akal, telah ditegaskan dengan ketegasan yang mutlak agar kaum muslim tidak mengkonsumsi NAPZA serta wajib menjauhi miras.

Semestinya dengan tujuan syariah yang ada, berkah dan kebaikan atas umat ini telah lama dirasakan. Namun, faktanya justru keburukan dan kerusakan muncul secara bertubi-tubi.

Ambil contoh, angka kasus murtad yang terjadi di negeri ini. Pada tahun 2014 lalu sebagaimana yang dilansir (republika.id, 24/04/2016), Anggota Komisi Hukum dan HAM Majelis Ulama Indonesia Pusat, Anton Tabah menyebutkan angka pemurtadan yang terjadi mencapai dua juta kasus setiap tahun.

Begitupula jumlah kasus hilangnya nyawa akibat pembunuhan sudah sangat mengkhawatirkan. Tercatat ada 625 kasus yang terjadi di Indonesia pada kurun waktu Januari-Oktober 2018 (tempo.co, 22/11/2018).

Di lain sisi, masalah kecanduan miras dan kerusakan masyarakat akibat mengkonsumsi obat-obat psikotropika. Pada tahun 2013 penyalahgunaan NAPZA di Indonesia mencapai 3,7 juta jiwa.

Ada hal yang amat membingungkan yang terjadi di negeri ini. Padahal jika kita mau jujur mestinya tujuan syariah bisa dengan mudah ditegakkan. Hal ini karena kita sebagai muslim di Indonesia tak kurang memiliki banyak ulama mumpuni, ahli fiqih dan tafsir yang luar biasa, pondok pesantren yang menjamur, belum lagi pemimpin negeri ini adalah muslim, tak kurang orang nomor dua di negeri ini pun berposisi sebagai ulama. Namun, mengapa sejumlah faktor penunjang yang ada tak mampu menghantarkan syariah agar menghasilkan berkah bagi kehidupan di negeri ini?

Muara masalah sesungguhnya terletak pada azas pengaturan negeri yang berlandas pada sekularisme kapitalisme. Kedua sistem ini telah menjadikan aturan kehidupan bagi manusia berjalan liar sesuai dengan kepentingan dan kesepakatan. Aturan dan kebijakan dibuat serta dijalankan menurut sudut pandang dan hawa nafsu manusia. Sementara itu nilai-nilai luhur yang terkandung dalam agama (syariah) sudah lama tertolak untuk menjadi azas dalam melahirkan kebijakan bernegara.

Agama tak lagi menjadi model ideal untuk memetakan perjalanan kehidupan negeri ini. Bahkan, lebih mengerikan lagi agama dijadikan tembok penghalang bagi ketercapaian tujuan bagi segelintir elit yang tamak akan kekuasaan. Tak heran, pada akhirnya agama dianggap menjadi lawan yang bisa ditindak dengan berbagai jalan.

Ironisnya lagi, agama menjadi tumbal agenda global yang katanya melawan terorisme radikalisme. Agama tercampakkan, dimusuhi, pengembannya dipersekusi dan bahkan banyak yang dikriminalisasi. Lalu bagaimana kita bisa mengatakan negeri ini akan menjadi berkah jika syariahNya saja dipermalukan dan dinodai atas dasar ambisi dan kepentingan?

Sungguh, berkah syariah belum tiba semata karena syariah hanya berada di atas lembaran-lembaran kertas. Ia dihafalkan, dipelajari namun tak diamalkan. Ia banyak dibicarakan diatas mimbar-mimbar namun tak pernah dibicarakan ketika merumuskan undang-undang. Banyak ulama yang mendakwahkannya namun ada pula ulama yang menantangnya. Begitupula, sebagian dari syariah dipilih namun sebagian lagi dibuang seperti qishash dan qital.

Padahal, jika umat ini menjadi satu dengan pemikiran dan perasaan yang satu pastilah adanya syariah akan menuai berkah. Umat ini akan menjadi umat terbaik yang tak akan pernah tertandingi oleh umat manapun.

كُنۡتُمۡ خَيۡرَ اُمَّةٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَتُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ‌ؕ وَلَوۡ اٰمَنَ اَهۡلُ الۡكِتٰبِ لَڪَانَ خَيۡرًا لَّهُمۡ‌ؕ مِنۡهُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَاَكۡثَرُهُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ‏

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (Q.S Ali-Imran : 110).

Sayangnya banyak umat yang tak menyadari keadaan ini. Umat terlalu disibukkan dengan masalah mahalnya kehidupan, kesenjangan sosial, perilaku politisi yang hipokrit serta berbagai kekisruhan politik yang melanda negeri ini. Hal ini akan terus berlangsung dari masa ke masa selama umat tak kembali kepada aturan Allah. Jika sudah demikian, layakkah kita berbangga menjadi umat terbaik dan layak menerima kehidupan yang berkah?

Wallahua'lam bish-showwab

Post a Comment for "Mengapa Berkah Negeri Belum Kunjung Tiba?"