Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kecepatan Penanganan Pandemi Selaras Pemulihan Ekonomi. Benarkah?

Jika ekonomi diatur dengan sistem yang benar, tentunya tidak mudah goyah hanya dengan serangan makhluk kecil bernama virus Corona. Jika kenyataan ekonomi porak poranda karena paparan Corona, itu perlu dievaluasi mendalam. Benarkah karena imbas Corona atau bisa juga masalah lainnya.

Oleh : Lilik Yani

Pandemi yang tak kunjung henti sering dijadikan kambing hitam atas kemerosotan ekonomi sebuah negara. Benarkah demikian?

Jika ekonomi diatur dengan sistem yang benar, tentunya tidak mudah goyah hanya dengan serangan makhluk kecil bernama virus Corona. Jika kenyataan ekonomi porak poranda karena paparan Corona, itu perlu dievaluasi mendalam. Benarkah karena imbas Corona atau bisa juga masalah lainnya.

Dilansir dari SindoNews.com, Kunci dari pemulihan ekonomi nasional saat ini ialah bagaimana pandemi Covid-19 yang melanda setidaknya 215 negara dunia dapat teratasi. Untuk menangani hal tersebut, pemerintah Indonesia tengah berupaya keras untuk melakukan percepatan dalam penanganan krisis kesehatan.

Saat menyampaikan pidato kunci secara virtual pada acara tahunan CNBC Indonesia Economic Outlook 2021 pada Kamis, 25 Februari 2021, yang mengangkat tema "Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021", Presiden Joko Widodo menguraikan fokus kerja pemerintah dalam melakukan penanganan pandemi beserta dampak yang ditimbulkannya.

"Kunci pemulihan ekonomi kita adalah kemampuan kita dalam mengatasi pandemi. Penanganan 3M, 3T dan PPKM skala mikro harus terus kita lanjutkan. Pada saat yang sama, sekarang ini kita besar-besaran melakukan vaksinasi," ujarnya.

Kecepatan Penanganan Kesehatan demi Ekonomi?

Tampak jelas pemerintah yang menerapkan sistem kapitalis liberal. Sistem yang berazaskan manfaat. Segala upaya yang dilakukan harus memberikan keuntungan. Termasuk dalam menanggulangi ujian pandemi. Bukan semata karena mencintai nyawa umat tujuannya, namun sisi ekonomi yang menguntungkan jadi tujuan utama.

Jika pandemi Corona teratasi dengan cepat maka roda ekonomi akan berputar kembali yang artinya akan memberikan pemasukan bagi negara.

Kecepatan dalam penanganan krisis kesehatan tersebut selaras dengan upaya pemerintah untuk turut mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Tahun 2021 ini, Presiden mengungkap, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp372 triliun untuk mengupayakan hal itu.

Berbagai stimulus telah diberikan dari sisi permintaan dan penawaran baik melalui bantuan sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), subsidi gaji, Kartu Prakerja, program padat karya yang sangat banyak, bantuan produktif bagi UMKM, serta relaksasi maupun restrukturisasi pinjaman, keringanan pajak, dan kemudahan-kemudahan lainnya.

Berbagai program dijalankan semata demi perbaikan ekonomi. Melalui sejumlah program seperti padat karya dan belanja pemerintah, penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat terdampak dapat diwujudkan dalam jangka pendek. Namun, Kepala Negara menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan dan berkesinambungan hanya dapat diwujudkan dari para pelaku usaha di sektor swasta.

Oleh karena itu, untuk mendorong pergerakan perekonomian sektor swasta, pemerintah telah mengeluarkan beragam insentif dan kemudahan. Selain hal tersebut, pemerintah juga sudah bersiap untuk memulihkan ekonomi nasional yang di antaranya diupayakan melalui reformasi struktural dan Undang-Undang Cipta Kerja beserta aturan turunannya.

Mengingat itu semua apakah benar apa yang diupayakan negara untuk perbaikan ekonomi itu menunjang kesejahteraan rakyat? Sistem kapitalis berazaskan manfaat. Maka hanya rakyat yang bisa memberi manfaat, yang diperhatikan negara. Para pengusaha dan pemilik modal uang menjadi investor nantinya.

Bagaimana Pemerintah Islam memandang ekonomi di musim pandemi?

Islam adalah sistem paripurna. Dalam kondisi apapun, Islam bisa dijadikan solusi. Termasuk ketika kondisi pandemi. Perekonomian dalam pemerintahan Islam tetap berjalan. Tidak terpengaruh pandemi, karena pemerintah sigap mengambil keputusan. Di mana ketika mendengar ada pandemi di wilayah sebuah negeri maka akan segera dilakukan karantina atau lockdown.

Ada penutupan pintu keluar masuk. Tidak ada orang asing masuk ke wilayah pandemi. Sebaliknya umat di wilayah pandemi tetap di dalam, tidak boleh keluar wilayah. Pemerintah akan memisahkan umat yang sehat dan sakit. Umat yang sehat diberikan imunitas makanan bergizi. Sedangkan umat yang sakit mendapat pengobatan memadai agar segera sehat dan bisa aktivitas kembali.

Negara sangat peduli pada umat yang sakit. Pelayanan kesehatan terbaik akan dilakukan. Baik dokter, perawat, fasilitas ruang rawat inap, alat untuk pengobatan, obat, alat kesehatan, dan segala fasilitas lainnya. Semoga dalam perhatian negara.

Ketika sembuh tak buru-buru disuruh bekerja, namun diberikan kesempatan istirahat dulu. Maka pasien yang baru sembuh akan pulang diberikan bekal, sebagai ganti saat sakit tidak bekerja. Juga bekal selama istirahat masa pemulihan agar tetap bisa makan bersama keluarga.

Sedangkan perekonomian tetap berjalan seperti biasa di wilayah aman tidak terkena wabah. Begitulah jika pemerintah sigap dari awal untuk lockdown. Jadi roda perekonomian, pendidikan, pemerintahan, semua tetap berjalan seperti biasa.

Demikian sempurnanya aturan Allah jika diterapkan dengan sungguh-sungguh. Jika ada sistem sedemikian bagusnya, masihkah memilih sistem lain yang tak membawa umat kepada hidup sejahtera?

Wallahu a'lam bish shawwab

Surabaya, 6 Maret 2021

Post a Comment for "Kecepatan Penanganan Pandemi Selaras Pemulihan Ekonomi. Benarkah?"