Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Butuh Khilafah untuk Menghilangkan Islamofobia

Aksi penghinaan terhadap Nabi Muhammad yang dilakukan oleh masyarakat Barat, tidak berlangsung sekali ini saja. Modus yang dipakai pun bermacam-macam. Adakalanya mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Adakalanya mengatasnamakan pembelajaran nilai-nilai keyakinan dalam kurikulum pendidikan.

Seorang guru di Batley Grammar School, di West Yorkshire, Inggris, diduga menampilkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. Ia memakai kartun yang dipublikasikan majalah Charlie Hebdo (tempo.co, 28/03/2021).

Aksi penghinaan terhadap Nabi Muhammad yang dilakukan oleh masyarakat Barat, tidak berlangsung sekali ini saja. Modus yang dipakai pun bermacam-macam. Adakalanya mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Adakalanya mengatasnamakan pembelajaran nilai-nilai keyakinan dalam kurikulum pendidikan. 

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad ini, sejatinya adalah sikap islamofobia yang ditampakkan oleh masyarakat Barat. Kamus Merriam-Webster mendefinisikan islamofobia sebagai "irrational fear of, aversion to, or discrimination against Islam or people who practice Islam" (merriam-webster.com). Secara garis besar, istilah islamofobia ini merujuk kepada ketakutan yang tidak rasional, serta adanya sikap enggan dan diskriminasi terhadap Islam atau muslim. 

Islamofobia pada masyarakat Barat termanifestasi dalam beragam bentuk. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad melalui pembuatan karikatur hanyalah salah satunya. Bentuk yang lain bisa berupa pembakaran Al-Quran, pelecehan muslimah berjilbab, pembulian terhadap seseorang karena dia seorang muslim, hingga pembunuhan muslim baik secara individu maupun secara massal.

Asal Mula Islamofobia

Islamofobia sudah ada sejak Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan risalah Islam di tengah-tengah masyarakat Quraisy di Mekkah. Bentuk islamofobia waktu itu dilandasi oleh ketakutan para pembesar Quraisy kehilangan kekuasaannya karena ditinggalkan oleh pengikutnya yang menyembah berhala.

Semakin gencarnya dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, menjadikan kaum kafir Quraisy semakin takut akan eksistensi agama baru ini. Penganiayaan, berbagai propaganda di dalam dan di luar kota Mekkah hingga pemboikotan pun dilakukan oleh kaum kafir Quraisy demi menghentikan dakwah Rasulullah SAW ini. Rencana pembunuhan terhadap Rasulullah Muhammad pun sempat dirancang oleh kaum kafir Quraisy untuk menghalangi hijrah beliau ke Madinah.

Islamofobia pada Masyarakat Barat

Islamofobia pada masyarakat Barat, yang diwakili oleh masyarakat Eropa kala itu, mulai muncul saat kekhilafahan Islam melakukan futuhat-futuhat ke wilayah Eropa. Satu persatu wilayah Eropa masuk dalam pangkuan Islam. Semakin meluasnya wilayah kekuasaan kekhilafahan Islam, menjadikan para penguasa negara-negara Barat takut kehilangan kekuasaannya.

Islamofobia masyarakat Eropa waktu itu, dipaparkan oleh seorang ilmuwan Perancis, Comte Henri Descartes, dalam bukunya yang berjudul al-Islam tahun 1896 M. Descartes mengatakan: “Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh kaum Muslim seandainya mengetahui kisah-kisah abad pertengahan, dan memahami apa yang terdapat dalam nyanyian-nyanyian orang Kristen? Sesungguhnya seluruh nyanyian kami hingga tampak sebelum abad ke-12 Miladiyah bersumber dari pikiran yang satu. Pikiran itulah yang menjadi sebab timbulnya Perang Salib. Seluruh nyanyian dibalut dengan kebusukan dendam terhadap kaum muslim dan membodohkan agama mereka. Dari syair-syair itu diciptakan dogma aib kisah-kisah dalam akal yang menentang agama (Islam) dan mengokohkan kekeliruan pemahaman. Sebagiannya hingga hari ini masih tetap ada” (An-nabhani, 2007, hal. 232).  

Terjadinya perang salib selama kurang lebih 200 tahun sejak abad ke-12 Masehi, kemudian berganti dengan perang salib gaya baru berupa ghazwuz tsaqafi (serangan budaya) dan ghozwuz siyasi (serangan politik) merupakan bentuk-bentuk dari Islamofobia masyarakat Barat saat itu.

Islamofobia Modern

Dihapuskannya institusi khilafah oleh Barat melalui agennya, Mustofa Kemal Attarturk, menjadikan umat Islam seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Negeri Islam terpecah-pecah hampir menjadi 50 negara di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Sejak saat itu, tidak ada satu pun negara di dunia yang menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan. Islam hanya tersisa dalam benak individu-individu muslim.

Hanya saja, kajian yang dilakukan oleh NIC (National Intelligence Council) yang disampaikan pada 2004 menghasilkan prediksi perubahan politik di masa depan. Salah satu prediksi tersebut adalah akan tegaknya khilafah yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia.

Potensi bersatunya umat Islam di seluruh dunia dalam naungan satu negara, tentu akan bergesekan dengan kepentingan negara-negara Barat saat ini. Pasalnya, negara-negara Barat saat ini mempertahankan roda perekonomiannya dengan melakukan penjajahan di negeri-negeri muslim. Penjajahan tersebut dilakukan baik secara fisik dengan menggunakan kekuatan militer (hard power) maupun penjajahan dengan melakukan infiltrasi kebijakan politik (soft power).

Islamofobia saat ini, termanifestasi dalam bentuk War on Terrorism (WOT) untuk menghambat kebangkitan dan persatuan umat Islam. WOT pertama kali diserukan oleh George W Bush setelah peristiwa 9/11. Pada masa pemerintahan Donald Trumph, agenda WOT ini dipertegas bahwa sejatinya agenda tersebut adalah War Against Islam.

WOT di negara-negara Timur-Tengah dilakukan oleh Barat yang digawangi oleh Amerika dengan jalan militer (hard power). Hal ini seperti invasi-invasi yang sudah dilakukan oleh negara Amerika dan sekutunya ke negara Irak dan Afganistan. Hanya saja, upaya WOT ke negeri-negeri ini telah memunculkan sentimen anti-Amerika sebagaimana yang dituliskan oleh Ray, S. (2017) dalam artikelnya yang berjudul "A Crusade Gone Wrong: George W Bush and War on Terror in Asia". 

Sementara itu, WOT di Indonesia dilakukan dengan jalan soft power. WOT ini dilakukan dalam bentuk agenda-agenda anti terorisme, anti radikalisme dan moderasi Islam. Agenda-agenda ini selanjutnya menciptakan islamofobia di kalangan umat Islam sendiri. Umat Islam akhirnya merasa takut untuk menerapkan dan mendakwahkan Islam. Selain itu, moderasi Islam menjadikan umat Islam semakin jauh dari agama Islam. Pasalnya, melalui agenda moderasi Islam ini, ajaran-ajaran Islam tidak lagi ditafsirkan sesuai dengan sudut pandang Islam. Akan tetapi, ajaran-ajaran Islam ditafsirkan sesuai dengan arah pandang Barat yang sekuler dan liberal.

Khilafah Menghilangkan Islamofobia

Islamofobia di kalangan penguasa muncul karena adanya ketakutan akan hilangnya kekuasaan mereka. Pasalnya, Islam tidak akan membiarkan seorang penguasa mendholimi rakyatnya. Islam juga tidak akan membiarkan para penguasa mengumpulkan harta dari rakyatnya dengan cara yang tidak benar. Sementara itu, islamofobia yang muncul di kalangan masyarakat secara umum, bisa terjadi karena mereka tidak paham Islam atau mereka salah memahami Islam atau bahkan karena mereka takut dengan pihak yang melakukan propaganda anti-Islam.

Sejatinya, islamofobia bisa dihilangkan dengan melakukan aktivitas dakwah Islam kaffah di tengah-tengah masyarakat. Aktivitas dakwah ini akan menggambarkan Islam mulai dari akar hingga ke daunnya dengan pemahaman yang benar. Hanya saja, aktivitas dakwah untuk menghilangkan islamofobia yang paling efektif adalah  aktivitas dakwah yang dilakukan oleh khilafah.

Khilafah dengan siyasah dakhiliyah (politik dalam negeri) nya, akan menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan. Segala bidang kehidupan baik pendidikan, ekonomi, pemerintahan, sosial - masyarakat maupun hukum dan keamanan akan menerapkan Islam secara sempurna. Dengan penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah inilah, masyarakat akan merasakan keagungan penerapan Islam. Tentu, merasakan penerapan Islam secara langsung dalam kehidupan akan berbeda dengan hanya membahasnya dalam kajian-kajian keilmuan. Dengan demikian, segala ketakutan mereka tentang Islam akan terhapuskan. Wallahu a'lam bish showab.

Oleh: Lilik Ummu Aulia (Komunitas Pena Ideologis Mojokerto)

Post a Comment for "Butuh Khilafah untuk Menghilangkan Islamofobia"