Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Amal Perbuatan Laksana Debu Beterbangan

“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Oleh : Nur Hayati | Siswa SMAN 8 Surabaya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Membaca firman Allah diatas, ada yang sudah tahu belum nih tentang maksud "bagaikan debu yang beterbangan" seperti yang terdapat di Qs. Al-Furqon:235?. Kira kira apa ya maksudnya Kalam Allah tersebut? Lalu siapa ya maksudnya mereka itu?

Jadi begini, tentang maksud "bagaikan debu yang beterbangan", Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan, “Artinya sia-sia, tidak mendapat pahala. Karena mereka tidak melakukannya [ikhlas] karena Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 924).

Itu sama saja dengan apapun amalan yang kita lakukan selama di dunia ini tidak bernilai pahala di sisi Allah. Sekeras apapun usaha kita dalam melakukan amalan, namun di akhirat kelak kita hanya mendapati kesia-siaan belaka. Waduh, kok ngeri gini ya? Siapa sih, yang mau amalan yang dilakukan secara mati-matian, tapi tidak bernilai pahala di sisi Rabb-Nya? Pasti ga ada yang mau kan ya?!

So, penting banget untuk paham mengenai amalan yang tidak bernilai pahala di sisi Allah, diantaranya:

1) Amalan yang dibarengi dengan kesyirikan.

Pengertian syirik dari segi bahasa, adalah mempersekutukan. Sedangkan secara istilah, syirik adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Contoh amalan yang dibarengi dengan kesyirikan, misal: Ada seseorang yang banyak bersedekah, tapi ternyata hasil uang yang didapatkannya berasal dari berbuat kesyirikan.

Dalam QS. Az-Zumar: 36, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan juga kepada orang-orang sebelummu; Jika kamu berbuat syirik niscaya lenyaplah seluruh amalmu, dan pastilah kamu termasuk golongan orang-orang yang merugi.”

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan kepada kita semua bahwa tidak akan diterima sebuah amalan ketika ia dibarengi dengan perbuatan syirik. Tentu, orang yang melakukannya akan tergolong menjadi orang yang merugi, ketika meremehkannya. Karena, perbuatan syirik merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah dan termasuk dosa besar. Sehingga, tidak akan diampuni jika pelakunya tidak melakukan tobat nasuha atau tobat dengan bersungguh-sungguh.

2) Amalan yang dibarengi dengan rasa ujub

Imam Al Ghozali menyebutkan, ujub ialah kecintaan seseorang akan suatu karunia yang merasa hanya dirinya yang memiliki tersebut, serta melupakan bahwa karunia tersebut adalah pemberian Allah SWT. Contohnya nih, misal: Ada seseorang yang merasa dirinya cukup berilmu, ia kagum dengan ilmunya. Dia tidak menyadari, bahwa sejatinya ilmu yang diperolehnya tak lain adalah karunia yang diberikan oleh Allah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584). Waduh gimana nih, gaes? Jadi merinding yah.

Ujub termasuk sifat yang tercela dan merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh umat Islam khususnya. Sebab, sifat ini memunculkan sifat riya dan sombong. Karena semua karunia ini datangnya dari Allah, maka sepantasnya hanya Allah lah yang berhak sombong. Sebab, Allah Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Terkutip dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Allah SWT. berfirman, yang artinya "Kemuliaan adalah kain sarung-Ku sedangkan kesombongan adalah pakaian kebesaran-Ku ; maka barangsiapa menyaingi-Ku dalam salah satu dari keduanya, maka Aku akan menyiksanya.”

3) Amalan yang dibarengi dengan riya'

Riya' adalah melakukan suatu amalan bukan karena mengharap ridho Allah, melainkan mencari pujian dan memahsyurkan di mata manusia. Riya merupakan bentuk syirik kecil yang dapat merusak dan membuat ibadah serta kebaikan yang dilakukan tidak bernilai di hadapan Allah.

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, “Allah tidak menerima amalan yang di dalamnya tercampuri riya’ walaupun hanya sekecil biji tanaman.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 572). Contoh amalan yang dibarengi riya', misal: Ada seseorang yang mengaji islam, tapi niatnya bukan mengejar ridho Allah, melainkan dirinya ingin dipandang orang yang sholeh.

So, itulah amalan-amalan yang tidak diterima oleh Allah, akan sia-sia. Sebab, sejatinya jika tidak dilakukan sesuai dengan hukum syara', maka pahalanya yang awalnya bisa berlipat, tapi malah menguap begitu saja. Dikarenakan amalan tersebut dibarengi oleh amalan lain.

Oh iya gaes, jangan mengira semua amal ibadah kita akan diterima oleh Allah. Karena, itu belum tentu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?". (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat." (TQS. Al-Kahf 18: Ayat 103-105)

Tidak diterimanya amalan tersebut, bisa jadi karena:

1. Masih melanggengkan maksiat. Entah itu bermaksiat di depan umum maupun dalam kesendirian.

2. Sombong, yang berawal dari sifat ujub.

3. Riya, yang ingin dipuji oleh orang lain.

4. Menghiraukan perintah Allah dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Perintah Allah sejatinya bukan sekedar sholat, zakat, puasa, haji. Tapi masih banyak. Karena, Islam itu paripurna. Yang mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Wah, Masya Allah banget ya, Gaes?

Lantas, bagaimana nih supaya amalan kita tidak merugi?

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sebab amalan yang diterima adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang beriman lagi ikhlas, yang membenarkan para rasul dan mengikuti tuntunan mereka di dalam hal itu.” (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [5/472])

Dari penjelasan oleh Syaikh as-Sa'di diatas, ternyata ada 2 syarat diterimanya sebuah amalan, diantaranya:

1. Ikhlas

Melakukan semua amalan semata-mata diniatkan untuk mengejar ridho Allah, bukan untuk mencari pujian dari orang lain. Ikhlas lillaahi ta'ala.

2. Sesuai dengan tuntunan yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah

Dimana Al-Qur'an dan As-Sunnah merupakan pedoman hidup manusia. Al-Qur'an mungkin hanya menjelaskan poin-poinnya saja. Dan akan dirincikan lagi di dalam hadits. Hadits adalah perkataan, perbuatan dan diamnya rasul. Yah tepatnya, As-Sunnah tadi.

Contoh amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan, yaitu: semisal ada seseorang yang ingin sholat Dzuhur. Karena malas, sholat Dzuhur yang awalnya terdapat 4 rakaat, dikurangi menjadi 2 rakaat. Begitupun sebaliknya. Semisal ada seseorang yang ingin sholat Subuh. Saking semangat beribadah, sholat Subuh yang awalnya terdapat 2 rakaat, ditambah menjadi 4 rakaat.

Inilah amalan yang tidak diperbolehkan. Karena akan sia-sia. So, jika mau beramal harus chek and rechek dulu. Agar semua amalan kita berbuah pahala di sisi-Nya. Sehingga di akhirat kelak, kita tidak tergolong orang-orang yang merugi. Seakan merasakan penyesalan yang amat sangat laksana debu beterbangan. Semoga, kita semua dijauhkan dari sifat-sifat buruk tersebut. Aamiin...

Wallahu A'lam Bishshowab.

Post a Comment for "Amal Perbuatan Laksana Debu Beterbangan"