Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ustadz Maaher At-Thuwailibi, Singa Allah yang Mencintai Syariah Islam

Sekarang singa-singa Allah yang lain akan terus bermunculan. Semoga kualitasnya lebih baik dari singa-singa Allah SWT yang terdahulu yang akan menegakkan Kekhilafahan Islam dan menaungi dunia dengan kesejahteraan dan keadilan

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Kabar duka menyelimuti negeri. Ustadz Maaher At-Thuwailibi telah berpulang ke Rahmatullah. Namun, banyak hikmah yang bisa diambil setelah mengenal perjuangannya.

Ustadz Maaher adalah sosok yang sangat memahami Islam dan mengerti hukum Syara'. Beliau juga pejuang yang tangguh layaknya Singa Allah SWT yang terus menunjukkan kegigihannya dalam bertarung. Beliau bukan Ulama Su'.

Tidak mau tunduk kepada kemungkaran. Ia menyampaikan kebenaran apa adanya sesuai dengan Syariat Islam. Ia membela Syariat Islam meski pun diserang dan difitnah para Pembenci Islam.

Baginya cadar, celana cingkrang dan Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Meski pun para Ulama berbeda pendapat tentang hukum cadar dan celana cingkrang, keduanya merupakan ajaran Islam yang wajib dihormati. Bukan inspirasi dari terorisme atau radikalisme.

Ia juga membahas tentang Khilafah yang merupakan bagian dari Islam. Khilafah adalah sistem kepemimpinan Islam yang dipraktikkan oleh empat tokoh Islam setelah Rasulullah SAW wafat, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali

Menurutnya ada satu sejarah yang tidak pernah dibaca oleh orang-orang liberal. Tatkala Rasulullah SAW wafat, tiga hari tiga malam Jenazah Beliau tidak dimakamkan.

Seluruh Kaum Muslimin yang beriman kala itu sibuk memperdebatkan siapa Khalifah yang akan dipilih. Makna Khalifah adalah pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW.

Artinya tidak dimakamkannya jenazah Rasulullah SAW menunjukkan urgensi dan pentingnya mendirikan kepemimpinan Umat Islam di bawah satu kepemimpinan yaitu Khalifah. Akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra dan seterusnya (Disadur dari rubrik wawancara Tabloid Media Umat edisi 254 pada pertengahan November 2019).

Ustadz Maaher At-Thuwailibi sangat memahami kewajiban tentang Khilafah ini dan mengenalnya sebagai kewajiban yang agung dalam Islam. Ia juga sadar bahwa mengapa ada segolongan orang yang menolak Syariat Islam. Mereka takut ketika Syariat Islam tegak, mereka tak bisa korupsi, melakukan ketimpangan sosial, kriminalisasi dan diskriminalisasi terhadap Ulama. Ia juga menolak agenda deradikalisasi yang sebenarnya bukanlah permasalahan utama di negeri ini. Ia menyayangkan sikap penguasa yang tidak mampu dalam mengatasi urusan ekonomi.

Rakyat pun banyak yang susah dan menderita akibat krisis ekonomi dan krisis kesehatan akibat Corona. Ia pun dikenal Umat sebagai salahsatu pejuang yang gigih membela Islam ketika Ayat Al Qur'an Surat Al Maidah ayat 51 dihina oleh peleceh Al Qur'an.

Ia juga menunjukkan pembelaannya. Sang Ustadz juga banyak mengoreksi ide-ide yang tak sejalan dengan Islam misalnya Islam Nusantara. Adanya ide ini hanya akan menimbulkan perpecahan dalam Islam.

Menganggap Islam Nusantara yang terbaik dan merendahkan Islam Arab menunjukkan rendahnya ide ini untuk dijadikan pegangan Kaum Muslimin. Islam itu satu, tidak ada Islam Nusantara dan Islam Arab.

Mengapa harus anti dengan ajaran Islam. Sehingga ada orang yang berani mengatakan bahwa Islam agama yang arogan. Islam agama pendatang dari Arab. Ajaran Jilbab itu produk Arab.

Padahal orang itu lupa Al Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam juga adalah orang Arab. Lalu orang itu menolak Islam karena dianggap produk dari Arab.

Na'udzubillahi min dzalik. Bukankah Islam yang menyelamatkan jazirah Arab dan kemudian menguasai hampir dari 2/3 dunia dari kejahiliyahan. Berkat jasa Islam Arab, Asia, Afrika dan Eropa pernah hidup makmur dibawah naungan Khilafah.

Semua diikat dengan ikatan akidah Islam. Islam mempersaudarakan umat manusia tanpa memandang suku bangsanya. Apakah berasal dari Arab atau bukan Arab.

Jelaslah yang sekarang ingin mengkotak-kotakan Islam telah termakan strategi adu domba Rand Corporation. Yang sengaja membuat Islam terkotak-kotak seolah-olah Islam itu berbeda dan bisa saling menjatuhkan. Ini berbeda dengan fakta kehidupan dalam Sejarah Khilafah.

Ketika Khilafah dibela dan dilindungi oleh semua warga negaranya baik itu Muslim mau pun Non Muslim yang berbeda suku bangsa. Khilafah pun menjadi adidaya dunia yang disegani dan dihormati kawan mau pun lawan.

Kini Ustadz Maaher At-Thuwailibi telah wafat. Namun semangat persatuannya harus diteladani. Satu singa Allah telah berpulang. InsyaAllah ia akan berbahagia di Sisi-Nya.

Sekarang singa-singa Allah yang lain akan terus bermunculan. Semoga kualitasnya lebih baik dari singa-singa Allah SWT yang terdahulu yang akan menegakkan Kekhilafahan Islam dan menaungi dunia dengan kesejahteraan dan keadilan []

Bumi Allah SWT, 9 Februari 2021

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Ustadz Maaher At-Thuwailibi, Singa Allah yang Mencintai Syariah Islam"