Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Polemik Jilbab dalam Narasi Islamophobia

Bukan kali pertama jilbab menjadi polemik. Sebelumnya telah ada film animasi Nussa dan Rara yang mengajarkan adab-adab Islam yang dianggap radikal intoleran oleh segelintir kalangan. Usut punya usut, ternyata pakaian Nussa dan Rara yang dipermasalahkan. Nussa bergamis dan Rara berkerudung (masyarakat menyebutnya berjilbab), pakaian itu dinilai kental dengan budaya Timur Tengah dan jauh dari kearifan lokal. Gelombang dislike yang tak wajar terhadap unggahan video di kanal Youtube Nussa Official juga seperti ada yang menggerakkan. Padahal film Nussa Rara itu sejak awal kemunculannya mendapat animo positif oleh umat Islam bahkan umat non muslim.

Oleh: Wati Ummu Nadia

Penggunaan seragam jilbab (maksudnya kerudung) bagi siswi non muslim di SMKN 2 Padang viral di media. Peristiwa ini sukses memicu polemik dan mengundang perhatian publik. Sebagian menilai bahwa aturan seragam tersebut intoleran dan tidak menghargai hak asasi umat di luar Islam. Padahal pihak sekolah sudah menegaskan tidak ada paksaan berkerudung bagi siswi non muslim. Siswi yang bersangkutan juga menyatakan bahwa ia berkerudung karena mengikuti lingkungan, bukan atas paksaan.

Ramainya kasus ini bahkan sampai membuat Mendikbud Nadiem Makarim ikut angkat bicara. Menteri Nadiem meminta agar kasus seragam kerudung ini segera diselesaikan. Selain itu, ia juga memerintahkan untuk segera menjatuhkan sanksi bagi siapa saja yang terlibat dalam tindakan intoleran atas aturan tersebut.

Masalah seragam kerudung di Padang tersebut saat ini telah diselesaikan dengan baik. Namun, masalah yang bermula dari kesalahpahaman antara orang tua murid dengan sekolah tersebut selayaknya tidak perlu dibesar-besarkan. Sehingga seolah menjadi masalah level nasional. Peraturan seragam kerudung di Padang juga telah lama diberlakukan sejak 15 tahun lalu dan tidak pernah ada masalah. Mengapa baru sekarang dipermasalahkan dan dituding intoleran?

Sehingga wajar jika akhirnya umat bertanya ada apa dibalik masalah jilbab tersebut. Bahkan, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Wilayah Sumbar Pendeta Titus Wadu menduga ada pihak-pihak yang sengaja "menggoreng" persoalan seragam tersebut menjadi besar (m.republika.co.id, 28/1/2021).

Bukan kali pertama jilbab menjadi polemik. Sebelumnya telah ada film animasi Nussa dan Rara yang mengajarkan adab-adab Islam yang dianggap radikal intoleran oleh segelintir kalangan. Usut punya usut, ternyata pakaian Nussa dan Rara yang dipermasalahkan. Nussa bergamis dan Rara berkerudung (masyarakat menyebutnya berjilbab), pakaian itu dinilai kental dengan budaya Timur Tengah dan jauh dari kearifan lokal. Gelombang dislike yang tak wajar terhadap unggahan video di kanal Youtube Nussa Official juga seperti ada yang menggerakkan. Padahal film Nussa Rara itu sejak awal kemunculannya mendapat animo positif oleh umat Islam bahkan umat non muslim.

Dari dua kejadian di atas akhirnya kita bisa melihat bahwa secara pelan namun pasti gelombang islamophobia telah menjalar di negeri ini. Ada upaya penolakan terhadap pakaian muslim yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Dan sungguh disayangkan, penolakan itu justru berasal dari kalangan umat Islam sendiri.

Gelombang islamophobia ini bukan muncul tanpa sebab. Kehidupan yang sarat dengan nilai-nilai sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan, yang ada saat ini adalah biang penyebab munculnya islamophobia. Tatanan sekuler mengharuskan agama hanya mengatur ranah privat setiap warga negara. Itupun bersifat pilihan. Sehingga setiap orang boleh menggunakan agama untuk urusan pribadinya, tetapi tidak ada larangan jika ia ingin membuangnya.

Tatanan sekuler juga menolak agama dijadikan sebagai pengatur aktivitas kehidupan manusia. Kehidupan akhirnya berjalan dengan aturan buatan manusia dan jauh dari nilai-nilai dan moralitas agama. Ajaran agama dianggap aneh dan asing. Pada level ini, wajar jika akhirnya muncul ketakutan dari pihak-pihak tertentu jika agama diformalisasikan dalam kehidupan. Inilah islamophobia.

Kalangan pengidap islamophobia selalu menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai dalih untuk membungkam Islam. Mereka berteriak lantang ketika ada non muslim yang mengenakan kerudung. Namun, mereka membisu ketika ada sekolah yang melarang siswi muslimah berjilbab. Mereka berteriak intoleran radikal ketika ada film yang mengajarkan nilai-nilai islam. Sebaliknya, mereka seolah tuli, bisu, dan buta terhadap tayangan-tayangan yang merusak moral dan menjerumuskan generasi ke dalam pergaulan bebas.

Seperti itulah standar ganda HAM. Anehnya, para pengidap islamophobia tanpa malu terus mendengungkan gagasan absurd tersebut. Dalam menyikapi polemik jilbab, umat Islam harus menggunakan standar Islam, seraya mengubur dalam ide HAM. Karena, HAM adalah ide kufur yang berpangkal dari ideologi sekularisme. Dari pangkal yang bertolak belakang dengan Islam inilah maka selamanya HAM tidak akan pernah memihak kepada Islam dan kaum muslimin.

Dalam Islam, jilbab dan kerudung adalah pakaian wajib bagi wanita ketika keluar rumah. Jilbab dan kerudung adalah dua hal yang berbeda namun saat ini dianggap sama oleh masyarakat. Kerancuan makna ini harus segera diluruskan agar tidak terjadi salah pemahaman yang berulang. Dalil pensyariatan jilbab dan kerudung juga berbeda. Jilbab diperintahkan oleh Allah dalam QS al-Ahzab ayat 59. Sementara perintah berkerudung disyariatkan dalam QS an-Nuur ayat 31.

Meski para mufassir berbeda pendapat mengenai makna jilbab. Namun menurut Imam Qurthubi, dari berbagai pendapat yang ada, yang sahih adalah pendapat bahwa jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh perempuan (Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XIV/243). Jadi jilbab bermakna pakaian yang serupa dengan gamis/jubah.

Dalam Islam, setiap warga negara baik muslim maupun non muslim, laki-laki maupun perempuan harus menutup auratnya sesuai dengan ketentuan Islam. Bagi muslimah yang sudah baligh, mereka diwajibkan mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah. Sementara bagi non muslim, mereka diperbolehkan mengenakan pakaian keagamaan mereka selama menutup aurat sesuai batasan syariah. Jika mereka tidak memakai pakaian keagamaan, maka para wanita non muslim diharuskan memakai jilbab dan kerudung sebagaimana para muslimah. Selain itu, wanita non muslim juga dilarang bertabaruj ketika keluar rumah sebagaimana para muslimah.

Islam memberlakukan aturan pakaian yang demikian semata-mata demi menjaga kehormatan setiap manusia yang hidup dalam sistem Islam (Khilafah), baik muslim maupun non muslim. Agar tidak terjadi pelecehan, perselingkuhan, bahkan penyimpangan seksual. Aturan pakaian juga mampu menghapus perbedaan kelas di masyarakat. Sebab, baik orang kaya ataupun miskin, tua ataupun muda, muslim atau non muslim, semuanya terikat dengan aturan yang sama. Yakni, syariah Islam.

Inilah keagungan syariat yang diturunkan Allah kepada umat manusia akhir zaman. In syaa Allah keberkahan dan persatuan dalam keragaman akan mudah diraih ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Tentunya, dalam naungan sistem Khilafah.

Wallahu a'lamu bish showab.

Post a Comment for "Polemik Jilbab dalam Narasi Islamophobia"