Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketiadaan Khilafah dan Nestapa Umat Muhammad SAW

Umat Islam adalah umat terbaik yang terlahir bagi umat manusia. Predikat ini tentu tidak berlebihan jika kita merujuk pada salah satu ayat Al-Quran surah Ali Imran ayat 110. Allah telah menggariskan posisi umat Islam sebagai pemimpin atas umat lainnya dalam menyeru kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Umat Islam juga terdepan dalam mengarungi peradaban dunia dengan kegemilangan semata karena berkiblat pada aturan syariat Pencipta, Allah SWT. Kondisi kemuliaan umat Islam berlangsung belasan abad lamanya hingga menerangi tak kurang dari 2/3 dunia dengan cahaya Ilahiyah.

Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah)

Umat Islam adalah umat terbaik yang terlahir bagi umat manusia. Predikat ini tentu tidak berlebihan jika kita merujuk pada salah satu ayat Al-Quran surah Ali Imran ayat 110. Allah telah menggariskan posisi umat Islam sebagai pemimpin atas umat lainnya dalam menyeru kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Umat Islam juga terdepan dalam mengarungi peradaban dunia dengan kegemilangan semata karena berkiblat pada aturan syariat Pencipta, Allah SWT. Kondisi kemuliaan umat Islam berlangsung belasan abad lamanya hingga menerangi tak kurang dari 2/3 dunia dengan cahaya Ilahiyah.

Umat Islam kokoh sebab kuatnya mereka dalam mengemban idelogi Islam. Islam dijadikan sebagai sendi kehidupan mereka, tak tersekat antara perkara spiritual dan sosial, antara ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW mengemban dakwah Islam di Makkah dalam rangka mengajak masyarakat untuk beralih pada pengaturan hidup berdasar Islam. Islam menjadi poros kehidupan, yakni sebuah aqidah yang darinya terpancar aturan-auran. Inilah hakikat ideologi.

Islam sebagai ideologi terbukti telah menghantarkan umat ini pada kemuliaan. Mereka disegani oleh kawan maupun lawan karena keterikatannya pada hukum syara’. Umat Islam mampu menjadi pemersatu antar bangsa yang sebelumnya bermusuhan, seperti suku Aus dan Khazraj di Madinah, atau menjadi pelebur bangsa-bangsa yang terdiri dari beraneka ragam suku,ras,warna kulit dan bahasa. Tidak ada satu ideologi pun yang berhasil melakukan ini kecuali Islam. Bahkan, keunggulan penerapan ideologi Islam dalam institusi negara (Daulah Khilafah Islamiyyah) diakui oleh para tokoh Barat.

Kemuliaan umat Islam akan berjalan seiring dengan ketundukan mereka terhadap syariat-Nya. Sebaliknya, pengingkaran terhadap syariat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhan niscaya menjerumuskan umat pada jurang kehinaana. Ya, saat kesempurnaan ideologi Islam berganti dengan konsep sekulerisme yang menyesatkan maka umat Muhammad SAW akan selalu berkubang dengan nestapa. Kesengsaraan serta kehinaan melingkupi umat Islam meski secara jumlah mereka banyak dan tersebar di berbagai benua. Inilah konsekuensi ketiadaan negara yang menerapkan idelogi Islam, Khilafah.

Kehinaan terbesar akibat ketiadaan Khilafah adalah jauhnya ridha Allah SWT. Sungguh tidak ada perkara yang lebih mulia bagi seorang Muslim kecuali meraih ridha-Nya. Ridha Allah hanya akan diraih manakala manusia menjalankan seluruh perintah Allah yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Sekulerisme telah menjadikan orientasi amal manusia sebatas tertuju pada capaian materialistik. Alhasil,sekulerisme sukses menjauhkan umat Islam dari dorongan meraih ridha Rabb-nya. Umat perlahan mengikuti gaya hidup dan pola pikir yang bertentangan dengan ketentuan Allah.

Ketiadaan Khilafah juga telah menjadikan umat Islam teraniaya. Bagaimana tidak, tanpa Khilafah maka takkan ada kepemimpinan yang satu atas seluruh kaum Muslimin. Tidak ada lagi Khalifah atau Imam yang akan melindungi darah,agama serta kehormatan umat. Rasa aman akan menghilang berganti dengan pembantaian dan genosida dimana-mana. Umat terzhalimi baik secara fisik maupun aqidah mereka tanpa ada yang sanggup untuk menolong. Benarlah sabda Nabi SAW yang artinya ”Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung..”(HR.Bukhari,Muslim,An-Nasa’I dan Ahmad).

Tanpa Khilafah menjadi sebab hilangnya kekayaan dan memunculkan kemiskinan. Khilafah, melalui penerapan syariat Islam yang sempurna akan mengatur perihal pegelolaan harta. Dalam konsep umum, harta adalah milik Allah. Adapun manusia diberikan kewenangan oleh Allah untuk “memiliki” sebatas apa yang telah Allah syariatkan. Tidak ada istilah kebebasan kepemilikan seperti halnya dalam ideologi kapitalisme saat ini. Khilafah akan memastikan bahwa kepemilikan, pengelolaan hingga distribusi harta selaras dengan ketentuan Allah SWT.

Lenyapnya Khilafah juga telah melepaskan tempat suci umat Islam dari tangan mereka. Sebutlah Al-Aqsa, kini lebih tenar dengan sebutan Jerusalem, konon telah “legal” dimiliki Israel. Kondisi ini diperparah dengan adanya normalisasi hubungan negeri-negeri Muslim dengan Israel. Padahal Al-Aqsa adalah salah satu tempat suci kaum Muslimin, tanahnya diberkati dan menjadi milik kaum Muslimin hingga hari kiamat. Kucuran darah syuhada telah mengalir demi mempertahankan kemuliaan Al-Aqsa. Namun saat ini, tanpa Khilafah, seolah Al-Aqsa hanya menjadi urusan orang Palestina saja.

Telah tiba waktu bagi kita untuk segera bangkit dan menyadari. Nestapa umat Muhammad SAW sudah sedemikian mengenaskan. Tidakkah kita terpanggil untuk menjadi bagian terdepan dalam mengembalikan tegaknya Khilafah? Tidakkah kita terdorong untuk terdepan melakukan perjuangan kembalinya Khilafah? Duhai umat Muhammad SAW sesunggunya saat itu telah tiba. Inilah kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita untuk mempersembahkan amal terbaik. Saatnya generasi umat terbaik memimpin peradaban dengan Khilafah Islamiyyah.

Post a Comment for "Ketiadaan Khilafah dan Nestapa Umat Muhammad SAW"