Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerumunan di Masa Pandemi, Tak Adakah Sosialisasi?

Bagimana bisa berharap Covid-19 pergi jika tindakan masyarakat tidak peduli. Protokol kesehatan yang penting untuk diperhatikan justru diabaikan. Apakah sosialisasi masih kurang maksimal? Atau kesadaran individu yang perlu ditingkatkan?

Oleh : Lilik Yani (Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Pandemi sudah lewat satu tahun terjadi di negeri ini. Kebijakan yang dibuat dan diterapkan pemerintah sudah berganti-ganti. Namun tak menunjukkan hasil yang berarti. Mengapa bisa begini? Sementara protokol kesehatan yang sudah sering disosialisasi ternyata juga diabaikan, seolah tak berfungsi.

Bagimana bisa berharap Covid-19 pergi jika tindakan masyarakat tidak peduli. Protokol kesehatan yang penting untuk diperhatikan justru diabaikan. Apakah sosialisasi masih kurang maksimal? Atau kesadaran individu yang perlu ditingkatkan?

Dilansir dari Detik.news.com, Sebuah resepsi pernikahan di Surabaya dibubarkan polisi. Pembubaran itu sebagai penerapan 5M di masa PPKM Mikro. Tenggilis Mejoyo melakukan giat patroli pada Minggu (21/2) siang tadi. Petugas mendapati ada kegiatan resepsi, dan meminta warga segera pulang usai resepsi.

Kapolsek Tenggilis Mejoyo, Kompol Kristiyan Beorbel Martino menjelaskan, petugas sedang melakukan patroli di sekitar SIER siang tadi. Saat berpatroli, petugas mendapati ada resepsi di halaman Masjid Baiturrozaq SIER, Surabaya.

"Petugas kepolisian yang sedang melaksanakan kegiatan patroli datang ke lokasi secara humanis meminta kepada para undangan yang hadir untuk pulang setelah menikmati hidangan. Petugas mengimbau untuk para tamu, segera pulang ke rumah masing-masing karena Surabaya saat ini menerapkan PPKM Mikro," ujar Kompol Kristiyan, Minggu (21/2/2021).

Kristiyan menjelaskan, pihaknya meminta para tamu undangan segera pulang usai mendatangi resepsi karena, Kota Surabaya sedang menerapkan PPKM Mikro. Apa yang dilakukan petugas, lanjutnya, sudah sesuai dengan Perwali Nomor 2 Tahun 2021.

"Jadi prinsipnya petugas benar-benar menerapkan dan pengawasan terhadap 5M. Yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas," imbuhnya.

Berharap Pandemi Pergi tapi Protokol Kesehatan Tak Peduli

Kejenuhan masyarakat semakin meningkat. Pandemi terjadi sudah lewat setahun tanpa hasil yang memuaskan. Keinginan dalam hati bisa bertemu teman dan kerabat untuk silaturahmi. Termasuk mengadakan pesta pernikahan yang ingin mengundang kerabat dan kawan dari berbagai kalangan.

Namun karena masih dalam masa pandemi, maka keinginan untuk bersosialisasi dengan banyak orang harus dibatasi. Apalagi saat ini Surabaya sedang menerapkan PPKM Mikro dimana harus menjalankan 5M oleh semua anggota masyarakat.

Masalahnya masih ada beberapa yang nekat membuat acara yang menghadirkan banyak orang. Meski di dalamnya sudah ada pengaturan jarak antara satu orang dengan lainnya. Namun namanya keramaian, di dalam sudah di atur. Di luar saat jalan menuju tempat parkir, misalnya. Apakah jaga jarak masih tetap diperhatikan?

Tak mungkin panitia akan memantau hingga para tamu sampai luar untuk tetap menjaga jarak. Jadi keramaian sangat memicu untuk berdekatan jika bertemu teman atau kerabat.

Selain itu yang sulit diterapkan adalah tentang masker. Kebutuhan pribadi demi keselamatan diri dan orang sekitar, namun masih banyak yang mengabaikan. Terutama para perokok yang sulit menghentikan rokoknya. Ketika bertemu dengan teman-temannya, lalu ngobrol dan merokok bersama. Maka bisa saja penularan jika ada yang terpapar Covid-19.

Sungguh, klaster melalui keramaian sangatlah berpeluang besar. Karena bisa saja ada OTG yang berkeliaran ke mana-mana karena tidak merasa sakit dan tidak tahu kalau bisa menularkan.

Yang perlu dipertanyakan, apakah sosialisasi sudah maksimal? Sepertinya masalah sederhana, namun kalau tidak bersikap tegas oleh pemimpin atau petugas berwewenang maka pelanggaran menjadi hal wajar yang ketika dari awal ditolerir, lama-lama dianggap biasa, tidak masalah, aman, hingga menjadi hal biasa.

Melihat satu orang melanggar tidak ditegur, apalagi tidak diberi sanksi maka yang lain ikut melakukan. Jika tak dilarang, maka yang lain lagi ikut melakukan, dan seterusnya hingga menjadi hal biasa. Itulah yang menjadi penyebab pandemi tak kunjung pergi. Bahkan jumlah korban tak terkendali.

Jika demikian yang terjadi, masih kurang maksimalkah dilakukan sosialisasi? Atau kurang adanya kesadaran diri? Tugas pemerintah untuk mengendalikan semua ini. Sosialisasi dimaksimalkan agar paham. Praktek di lapangan terus dalam pantauan petugas yang berwenang.

Bagaimana Islam mengatasi pandemi agar tidak berkepanjangan?

Dalam pemerintahan Islam, suasana keimanan sudah terbentuk. Ketaatan pada Allah dan hukum syara tanpa banyak alasan. Apapun perintah Allah yang dicontohkan Rasullah saw akan diterapkan. Tak akan bertanya apakah memberi manfaat atau tidak? Apa alasannya mengapa itu harus dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan kaum kapiitalis yang orientasinya harta, jabatan, manfaat dan semua yang bernilai materi. Inilah yang menjadi penghambat sehingga penyebaran Covid-19 bisa ke mana-mana.

Sedangkan pemerintah Islam akan cepat tanggap, ketika ada wabah segera diantisipasi dengan karantina atau lockdown. Sehingga orang luar tak bisa masuk. Orang yang didalam tak bisa keluar. Jika berlaku demikian, maka tak akan terjadi penyebaran

Kemudian dilakukan pemisahan yang sehat dari yang sakit. Orang yang sakit diobati dengan fasilitas terbaik, dokter terbaik, pengobatan terbaik. Orang sehat diberikan imunitas dengan makanan bergizi, atau vaksinasi jika diperlukan.

Sedangkan wilayah aman akan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Baik pendidikan, pemerintahan, kesehatan, juga perekonomian. Agar bisa menunjang wilayah yang terkena wabah. Hingga tidak terjadi defisit apalagi inflasi.

Jika aturan Islam diterapkan maka dalam kondisi wabah pun umat tetap dalam kondisi baik-baik saja. Kebutuhan umat di daerah wabah akan dipenuhi oleh negara.

Demikian baiknya aturan Islam jika diterapkan. Masihkah mau bertahan dengan sistem kapitalis yang hanya berorientasi manfaat, tidak peduli pada umat?

Wallahu a'lam bish shawwab



Surabaya, 23 Februari 2021

Post a Comment for "Kerumunan di Masa Pandemi, Tak Adakah Sosialisasi?"