Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bersatu untuk Mengulang Masa Kejayaan

Saat dunia hari ini mulai lumpuh akibat penerapan sistem kapitalis-sekuler, pertanda babak baru sedang berada di hadapan. Sikap dan keputusan yang diambil umat Islam di saat kritis seperti ini akan sangat menentukan masa depan. Umat Islam mampu menyongsong perubahan besar jika terkonsolidasi.

Oleh : Nelly, M.Pd. | Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan

Baru-baru ini, Whatsapp yang sudah dimiliki oleh Facebook, mengirimkan ultimatum kepada seluruh penggunanya, yaitu untuk menyetujui “term and conditions” (syarat dan ketentuan) yang baru hingga batas waktu 8 Februari 2021. Jika masih menggunakan Whatsapp melebihi tanggal itu, artinya setuju dengan aturan baru dari WhatsApp. Terang saja dengan kebijakan yang merugikan penggunanya ini mendapat respon langsung dari publik.

Beberapa negarapun langsung bereaksi dan diikuti oleh masyarakat pengguna yang berbondong-bondong meninggalkan aplikasi WhatsApp dan beralih ke aplikasi pesan singkat lain yang dianggap lebih aman. Melihat animo yang cukup besar dari masyarakat dan adanya ketakutan akan ditinggalkan, maka aplikasi pesan singkat WhatsApp pun akhirnya mengambil langkah untuk menunda keharusan bagi penggunanya membagi data pribadi ke platform Facebook. Mulanya, tenggat itu direncanakan berlaku mulai 8 Februari 2021 ini.

Mengutip AFP, WhatsApp menunda karena cemas penggunanya eksodus pindah menggunakan aplikasi pesan singkat lainnya jika kebijakan itu diberlakukan. "Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan para pengguna," tutur WhatsApp mengutip AFP, Jumat (Kumparan.com, 15/1/2021).

Aksi eksodus besar-besaran pengguna whatsApp yang notabene adalah umat Islam ternyata mampu membuat korporasi WhatsApp menunda kebijakan barunya. Bukan sekali ini saja kekuatan publik, terutama umat muslim mampu menggertak korporasi kapitalis global. Sebelumnya kaum muslim pernah melakukan aksi boikot produk Perancis dan sebuah perusahaan roti.

Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa saat umat Muslim bersatu dengan gerakan boikot saja akan sangat mampu mengguncang perekonomian kapitalis, padahal umat muslim hari ini belum memiliki satu kepemimpinan.

Bayangkan saja saat umat muslim seluruh dunia kemudian bersatu di bawah satu komando dan satu kepemimpinan, sungguh umat terbaik yang ditakuti dan disegani itu akan terulang kembali seperti sejarah kepemimpinan Islam sejak Rasulullah Muhammad memimpin umat di Madinah dan diteruskan oleh para sahabat selama belasan abad lamanya dan berhasil mencapai peradaban yang paling mulia dan puncak masa keemasan.

Potensi Umat Islam Sangat Besar

Bicara persatuan, jika ditelisik, sebenarnya potensi besar umat Islam sesunguhnya sangat besar. Umat Islam memiliki potensi luar biasa, sebagaimana yang diungkap oleh Ustaz Abu Abdullah dalam buku “Emerging World Order The Islamic Khilafah State.” Potensi kekuatan dunia Islam antara lain:

Pertama, kekuatan penduduk dan demografi. Populasi umat Islam di dunia mencapai sekitar 1,6 miliar atau 24 persen dari total penduduk dunia.

Kedua, kekuatan militer. Militer berada di seluruh negeri kaum muslimin.

Ketiga, kekuatan ekonomi dan industri. Dunia Islam memiliki cadangan energi dunia (minyak bumi), misalnya di negara-negara Teluk. Bahkan menjadi sumber energi terbesar dunia. Belum lagi sumber daya alam yang dimiliki hampir seluruh negeri kaum muslimin, seperti emas, batu bara, nikel, tambang, hutan dan keanekaragaman kekayaan lainya.

Keempat, kekuatan posisi geostrategis. Dunia Islam memiliki lokasi geografis yang paling memungkinkan untuk membangun dan memelihara aliansi strategis kekuatan maritim dan sekaligus kontinental. Ini sama saja dengan menguasai pintu-pintu dunia.

Kelima, kekuatan ideologi. Terletak pada kekuatan iman dan ajaran Islam yang solutif. Inilah kunci perubahan khususnya bekal mentalitas umat agar berani, penuh kekuatan dan berkapasitas sebagai agen perubah.

Secara historis, peradaban Islam telah terbukti berjaya menguasai dunia selama kisaran 13 abad. Sejak berdirinya daulah Islamiyah yang pertama di Madinah hingga Khilafah Utsmaniyah yang diruntuhkan oleh makar Mustafa Kemal Attaturk pada 1924 di Turki. Hal ini menjadi pengalaman politik umat Islam dalam rentang waktu panjang telah memimpin peradaban dunia.

Maka jangan dilupakan, secara imani, kaum muslimin meyakini bahwa hadirnya kembali khilafah Islamiyah merupakan janji Allah SWT. dan bisyarah Rasulullah Saw. Allah SWT. berfirman: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”(QS. An-Nur: 55).

Mudah-mudahan potensi umat Islam yang luar biasa ini khususnya di masa pandemi COVID-19 terus diasah dan dioptimalkan demi menyongsong tegaknya kembali tatanan peradaban Islam.

Kesatuan Umat Islam dalam Mewujudkan Wajah Peradaban Islam

Saat dunia hari ini mulai lumpuh akibat penerapan sistem kapitalis-sekuler, pertanda babak baru sedang berada di hadapan. Sikap dan keputusan yang diambil umat Islam di saat kritis seperti ini akan sangat menentukan masa depan. Umat Islam mampu menyongsong perubahan besar jika terkonsolidasi. Konsolidasi umat menjadi keharusan. Peran parpol dakwah bersama dengan semua komponen umat yakni ulama, motivator, da’i, dst menjadi semakin vital.

Politik adalah kuncinya, karena inti perubahan peradaban adalah perubahan politik. Naik turunnya peradaban ditentukan oleh perubahan politik. Namun umat Islam hari ini masih memiliki masalah besar karena umat Islam berada di lebih dari 50 negara di bawah penguasa zalim dan berkiblat pada paham barat. Maka untuk mempersatukan umat diperlukan perjuangan untuk mengembalikan kesadaran dan pemahaman umat muslim.

Untuk melakukan perubahan besar menuju tata dunia baru dibutuhkan kesadaran umat secara umum terhadap realitas kerusakan yang akan diubah dan fakta baru untuk menggantikan fakta yang rusak tersebut.

Sebagaimana pendapat Syekh Ahmad ‘Athiyat dalam bukunya Jalan Baru Islam (at Thariq). Menurut beliau, ada dua syarat perubahan yaitu kesadaran mengenai fakta kehidupan rusak yang melingkupi kehidupan umat hari ini yang hidup dalam sistem kapitalisme-sekularisme dan harus ada kesadaran tentang fakta alternatif pengganti fakta rusak tersebut, yakni kembali pada sistem Islam yang berasal dari Allah SWT.

Maka untuk merubah pemahaman umat Muslim dakwah penyadaran harus terus dilakukan tentunya dengan mengikuti metode atau jalan dakwah Rasulullah Saw. Dengan kembali pada penerapan sistem Islam,niscaya kehidupan yang berkah dan mulia akan dirasakan baik Muslim maupun Nonmuslim.
Wallahualam

Post a Comment for "Bersatu untuk Mengulang Masa Kejayaan"