Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

100 Tahun Tanpa Perisai, Kehormatan Muslimah Tergadai

Kisah masyhur nan heroik, dari jaman Kekhilafahan Abasiyah. Tahun 837 Hijriah, seorang laki-laki yang saat itu menjadi Khalifah, pemimpin, penjaga, sekaligus perisai bagi umat islam, menjawab seruan seorang muslimah. Gagah berani memerintahkan pasukannya untuk melawan pasukan adidaya Romawi.

Kisah masyhur nan heroik, dari jaman Kekhilafahan Abasiyah. Tahun 837 Hijriah, seorang laki-laki yang saat itu menjadi Khalifah, pemimpin, penjaga, sekaligus perisai bagi umat islam, menjawab seruan seorang muslimah. Gagah berani memerintahkan pasukannya untuk melawan pasukan adidaya Romawi.

Seorang muslimah diganggu dan dilecehkan kehormatannya oleh orang Romawi. Kainnya diikatkan ke paku, sehingga ketika muslimah ini berdiri maka tampaklah sebagian auratnya. Wanita muslimah ini lalu berteriak dan memanggil nama Khalifah, Al Mu’tassim Billah.

“Waa Mu’tasimaah!! Yang berarti, dimana kau Mu’tassim, tolonglah aku!!

Pelecehan ini sampai ke telinga sang Khalifah. Ia pun bersegera mengirimkan ribuan pasukannya untuk menyerbu kota Ammuriah, tempat pelecehan itu terjadi. Panjangnya barisan pasukan yang dikerahkan Sang Khalifah tidak putus dari gerbang istananya di kota Baghdad (Irak) hingga kota Ammuriah Turki). Dengan banyaknya pasukan yang dikerahkan, kota Ammuriah pun takluk setelah dikepung oleh pasukan dari kaum muslim selama 5 bulan.

“Wahai saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan sang Khalifah kepada muslimah tersebut.

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR. Al Bukhari, Muslim, AnNasai dan Ahmad).

Khalifah adalah junnah, perisai bagi kaum muslim di seluruh dunia. Bayangkan, “hanya” seruan satu orang muslimah yang “baru dilecehkan”, sang perisai itu menyiapkan pasukan yang sangat besar untuk membelanya. Betapa terjaga dan mulianya kehormatan muslimah pada saat itu.

Tahun ini, Rajab 1442 Hijriah genap 100 tahun umat islam di seluruh dunia tidak lagi memiliki penjaga sekaligus perisai yang melindunginya. 28 Rajab 1342 Hijriah atau 03 Maret 1924, penjaga yang berkuasa selama 1300 tahun dan menguasai 2/3 bagian dunia itu dihancurkan oleh kaki tangan negara-negara kafir, Kemal AtTaturk. Khalifah terakhir dari Khilafah Utsmaniyah, Abdul Majid II terusir dari kekuasaannya.

Ketika sang penjaga dan perisai itu telah tiada, kini kehormatan muslimah ternodai. Marak berita bagaimana muslimah dari berbagai penjuru dunia dipaksa membuka auratnya, dilecehkan kehormatannya bahkan dianiaya karena mereka menutup auratnya sesuai perintah hukum syara’. Ada juga atas nama kebebasan berekspresi juga ketenaran dan gelimang duniawi, wanita- wanita dari umat ini rela menanggalkan pakaian, membuka auratnya untuk dipertontonkan kecantikannya melalui berbagai ajang lomba.

Sudah waktunya segala bentuk pelecehan terhadap kehormatan dan kemuliaan muslimah dihentikan. Jangan ada lagi air mata yang menetes dari netra wanita-wanita muslim karena mereka terhinakan. Jangan lagi aurat yang telah mereka tutup untuk menaati perintah Tuhannya dipaksa terbuka demi duniawi semata.

“….Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti Manhaj kenabian.” (HR. Ahmad 18430, Abu Dawud 439).

Sudah waktunya kaum muslim menyongsong janji Allah dan RasulNya tentang kembalinya Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Inilah kabar gembira dimana umat islam harus bersegera menyambut kedatangannya. Jadikanlah Rajab tahun ini sebagai momentum kebangkitan umat. Umat islam bangkit dan bersatu, menyingkirkan segala perbedaan untuk mewujudkan sebuah cita-cita mulia. Cita-cita yang akan membuat kaum muslim kembali menjadi pemimpin dunia dengan peradabannya yang gemilang.

Kami para muslimah, merindukan kembali datangnya sang Penjaga dan Perisai umat ini. Khalifah yang akan melawan siapa pun yang melecehkan kehormatan muslimah. Akhiri penderitaan kami para muslimah dengan berjuang menegakkan khilafah yang sesuai manhaj kenabian.

Rajab 1342 – Rajab 1442, 1 abad sudah kaum muslim kehilangan perisainya.

Penulis: Ummu Haura

Post a Comment for "100 Tahun Tanpa Perisai, Kehormatan Muslimah Tergadai"