Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Benarkah Untuk Kemajuan Bangsa Dan Generasi?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan, pihaknya akan semakin serius mengembangkan pendidikan vokasi. Untuk itu rencananya tahun ini akan direvitalisasi program pendidikan vokasi di 900 SMK yang berbasis industri 4.0.

Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan, pihaknya akan semakin serius mengembangkan pendidikan vokasi. Untuk itu rencananya tahun ini akan direvitalisasi program pendidikan vokasi di 900 SMK yang berbasis industri 4.0.

“Revitalisasi tidak hanya di Ditjen Vokasi. Kemendikbud juga akan melakukan dukungan dan percepatan link and match dan kemitraan dengan 5.690 orang dan 250 dunia usaha dan industri,” kata Nadiem dalam sambutannya pada Webinar “Anak Vokasi Zaman Now – Mengenal Vokasi Lebih Dekat” yang disiarkan CNBC Indonesia TV, Minggu (24/1/2021) petang.

Menurut Nadiem, pihaknya juga akan memperkuat pendidikan tinggi vokasi di 200 program studi, sertifikasi kompetensi kepada 300 dosen, penguatan pendidikan PNBP dan BLU pada 75 PTN dan penguatan sarana dan prasarana di 8 perguruan tinggi.

Seperti yang kita ketahui, pendidikan vokasional akhir – akhir ini terus digencarkan untuk menjawab tantangan krisis multidimensi yang menghantam negeri. Pendidikan ini dianggap sebagai langkah tepat untuk memperkuat daya saing SDM Indonesia yang dipandang masih lemah di tengah terjangan pasar bebas.

Terlebih saat ini UU Cipta Kerja sudah disahkan, denga nisi yang jelas-jelas memberi karpet merah bagi tenaga kerja asing untuk melenggang masuk ke pasar kerja Indonesia. Padahal, rata-rata kompetensi mereka jauh di atas rata-rata tenaga kerja lokal.

Jika kita amati, akan tampak jelas tanpa kesamaran sama sekali, target utama pendidikan vokasi adalah menyiapkan siswa masuk dunia kerja dan dunia industri. Sekilas memang tampak akan bisa menjadi solusi untuk mengurangi angka pengangguran di dalam negeri. Namun benarkah demikian?

Pertama, berkaitan dengan mengurangi angka pengangguran, faktanya ternyata pengangguran yang disumbangkan oleh lulusan SMK menempati peringkat utama. Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Kabarenbang) Kemnaker Tri Retno Isnaningsih menyebutkan, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 8,49%. TPT-nya paling tinggi adalah pada level SMK (8,49%). (Webinar YouTube Kementerian Ketenagakerjaan, detikfinance, 14 Juli 2020)

Kedua, kualitas lulusan Pendidikan vokasi. Bukan tanpa alasan ketika ada sebagian pihak menilai bahwa lulusan Pendidikan vokasi diorientasikan menjadi tenaga buruh, karena target lulusannya adalah memenuhi kepentingan dunia usaha dan industri. Kurikulum pendidikan vokasi yang disusun juga mengikuti kepentingan pasar tenaga kerja, dunia usaha, dan industri yang lebih banyak dimainkan korporasi. Alhasil, standardisasi pun mengikuti sudut pandang pelaku usaha dan industri dalam sistem sekuler.

Jika memang ingin menjadi negara maju dengan mengembangkan potensi generasi, seharusnya kurikulum Pendidikan kita disusun sedemikan hingga bisa menciptakan generasi yang berkepribadian mulia dan ahli/pakar di berbagai bidang kehidupan. Dimana outpun Pendidikan yang demikian, bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan terdepan, bukan sekadar generasi yang siap memenuhi kepentingan dunia usaha dan industri milik korporasi sebagaimana pesanan.

Islam sebagai sistem hidup yang sempurna, memiliki sistem pendidikan vokasi yang sangat andal. Paradigma pendidikan disusun mengikuti asas Islam, bahwa pendidikan apa pun (termasuk vokasi) ditujukan bagi kemaslahatan manusia umumnya, bukan sekelompok orang (korporasi).

Dalam sistem Pendidikan vokasi islam, peserta didik tidak hanya diberi skill, namun juga dibekali karakter sebagai pemimpin. Memimpin negeri ini dengan mengelola sumber daya alam secara mandiri. Dengan visi Pendidikan seperti ini, maka terbentuklah karakter lulusan Pendidikan sebagai pelopor peradaban.

Selain itu, kurikulum pendidikan vokasi dalam Islam disusun untuk membekali lulusannya dengan keterampilan dan teknik yang dibutuhkan masyarakat. Perkembangan teknologi akan disikapi sebagai sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar kemajuan yang bernilai materi. Oleh karenanya, kurikulum akan menyesuaikan terhadap kebutuhan manusia, bukan keinginan dan kehendak pihak korporasi yang selama ini menciptakan pasar bagi produksi-produksinya.

Tentu back up negara atas keberlangsungan sistem pendidikan ini begitu optimal. Mulai dari penyediaan sarana prasarana, dukungan maksimal pada para guru, dukungan terhadap riset, insentif yang besar dan tak terbatas pada peserta didik, dan lain-lain. Termasuk pengkondisian situasi sosial dan politik yang memastikan arah dan tujuan pendidikan bisa terealisasi.

Dan profil sistem pendidikan ideal Islam ini bukan cuma ada dalam dongeng, tapi tercatat dalam buku-buku sejarah emas peradaban Islam di masa lalu. Hingga di masa itu dunia Barat pun tertarik untuk berbondong-bondong mengirimkan pemuda-pemudinya demi mencicipi kehebatan universitas-universitas Islam. Maka penerapan islam secara sempurna sebagaimana pada waktu itu adalah keharusan, jika kita ingin mengulang kegemilangan perabadan negeri dan generasi. Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment for "Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Benarkah Untuk Kemajuan Bangsa Dan Generasi?"