Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RASISME BUKTI KEKALAHAN INTELEKTUAL DAN BUDAYA JAHILIYAH

Isu rasisme kali ini menimpa Natalius Pigai. Mantan Komisioner Komnas HAM asal Papua itu, baru-baru ini mendapat perlakuan rasis. Diantara yang diduga melakukan rasis situ Ambroncius Nababan. Ia Ketua Umum Relawan Pro Jokowi-Ma'ruf (Projamin). Muncul juga nama Yusuf Leonard Henuk, dosen dari Universitas Sumatera Utara, turut menyerang Pigai lewat Twitter. Selain Ambroncius dan Yusuf Leonard, muncul juga nama Permadi Arya, dll. (https://tirto.id/natalius-pigai-diberondong-ujaran-rasis-dari-pendukung-jokowi)

Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Di tengah wabah corona dan bencana yang melanda negeri ini, mestinya kita introspeksi diri. Saling peduli dan saling bantu, bahu membahu untuk menghadapi masalah negeri ini. Sayangnya justru mencuat isu rasisme yang membahayakan persatuan dan kedamaian kita.

Isu rasisme kali ini menimpa Natalius Pigai. Mantan Komisioner Komnas HAM asal Papua itu, baru-baru ini mendapat perlakuan rasis. Diantara yang diduga melakukan rasis situ Ambroncius Nababan. Ia Ketua Umum Relawan Pro Jokowi-Ma'ruf (Projamin). Muncul juga nama Yusuf Leonard Henuk, dosen dari Universitas Sumatera Utara, turut menyerang Pigai lewat Twitter. Selain Ambroncius dan Yusuf Leonard, muncul juga nama Permadi Arya, dll. (https://tirto.id/natalius-pigai-diberondong-ujaran-rasis-dari-pendukung-jokowi)

Menanggapi perlakuan rasis pada dirinya, Pigai berharap rasisme bisa segera dihapuskan. Menurut Pigai, itu resiko ketika membela orang kecil, islamofobia, HAM, orang-orang yang tertindas di Papua dan tempat lainnya maka akan menghadapi hinaan, ancaman, tekanan, dll. Karena yang bisa menindas biasanya mereka yang punya otoritas, punya kekuasaan dan punya uang.

“Selama pemerintahan Joko Widodo, pembantaian, pembunuhan dan kejahatan HAM di Papua cenderung didasari rasisme. Kita harus hapuskan rasisme,” kata Pigai kepada reporter Tirto, Senin.

Terkait isu rasisme itu, penulis memberikan 4 (empat) catatan penting sbb;

PERTAMA, Rasisme harus secepatnya dihentikan. Pemerintah sebagai institusi yang memiliki segala kewenangan dan berbagai perangkatnya harus cepat merespon dan menghentikan rasisme itu. Bahkan harus menghapuskan rasisme itu.

Pemerintah mesti cepat mengambil berbagai kebijakan dan melakukan komunikasi yang baik kepada publik. Jangan sampai mengulangi keterlambatan penanganan aksi rasis seperti tahun 2019 lalu sehingga memicu protes besar dari warga Papua.

KEDUA, Perbedaan pendapat bukan alasan Rasis. Rasisme muncul karena kekalahan argumentasi secara intelektual. Oleh karenanya perlunya memerikan ruang diskusi publik yang cukup agar saling memahami.

Perdebatan publik dibiasakan mencari argumentasi yang baik. Bukan terbiasa menggunakan rasa kebencian tapi mengedepankan argumentasi rasional sehingga meninggalkan isu rasisme itu. Budaya debat publik yang baik akan memberikan pembelajaran dan kematangan dalam menghadapi perbedaan yang ada secara nalar sehat. Berbagai perbedaan pendapat menjadi biasa diselesaikan dengan argumentasi intelektual bukan emosi apalagi rasis.

KETIGA, Rule of law (penegakan hukum yang adil). Selain membangun komunikasi publik yang baik untuk mencegah terjadinya rasisme yang meluas maka penting melakukan Penegakan hukum. Siapa pun pelaku rasis itu jelas-jelas sudah melukai perasaan kemanusiaan dan harus segera diproses hukum. Tentu aneh jika ada yang mengaku paling pancasilais dan nasionalis tapi bisa melakukan rasis.

Penegakan hukum yang adil akan bisa menjawab keraguan publik akan keseriusan pemerintahan dalam menangani isu rasisme tersebut. Para pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Sebagaimana ketentuan Pasal 16, Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

Berdasar ketentuan pasal 16 UU no. 40/2008 dengan ancaman 5 (lima) tahun tersebut maka para pelaku dapat langsung ditahan. Tentu agar mereka tidak mengulangi perbuatan dan sekaligus membuktikan pada publik atas keseriusan pemerintah dalam menangani kasus rasisme itu.

KEEMPAT, Membangun kesadaran publik dan belajar dari sejarah. Rasisme sangat berbahaya bagi kedamaian hidup bermasyarakat. Segala bentuk Rasisme harus dilawan agar bisa hidup bersama di dunia ini dengan nyaman. Sudah sunatullah, bahwa kita hidup di dunia ini tak sendirian tapi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. “…Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kamudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa…” (TQS Al-Hujurat: 3).

Banyaknys perbedaan diantara kita, itu sebuah keniscayaan. Kita memang diciptakan terdiri dari bangsa dan suku yang berbeda-beda. Bahkan di negara kita yang bernama Indonesia ini pun terdiri dari banyak suku, bahasa, dan tradisi yang berbeda-beda. Betapa banyak suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Mestinya kita memandang perbedaan itu sebagai rahmat dari Allah SWT. Tentu agar kita dapat saling mengenal dan toleransi satu sama lain. Bukan untuk saling mengejek, membanding-bandingkan, atau mengadu satu dengan lainnya.

Jauh 14 abad lalu, kita sudah diminta melawan rasisme karena itu ajaran jahiliyah. Nabi SAW telah mengajarkan agar tidak membanding-bandingkan warna kulit. Sebagaimana dikisahkan Dari Abu Dzar r.a. bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Perhatikanlah! Sesungguhnya kamu tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah dan tidak juga dari orang yang berkulit hitam kecuali jika kamu melebihi mereka dalam bertaqwa.” (H.R. Ahmad)

Terkait dengan Rasisme ini Kita pun sudah diberikan teladan oleh Nabi SAW. Bagaimana Nabi SAW memuliakan salah satu sahabatnya yang berbangsa Etiopia dengan warna kulit gelap yang sangat berbeda dengan sahabat yang lain. Bahkan Bilal bin Rabbah, dinobatkan dengan jabatan khusus sebagai muadzin pada masa itu.

Walhasil, kita bisa belajar dari Islam yang sangat keras menolak rasisme. Semua perbedaan merupakan keniscayaan yang ditakdirkan Allah SWT. Perbedaan itu mestinya kita pandang sebagai rahmat bukan menjadi laknat. Mestinya menjadi pintu untuk saling mengasihi bukan saling mencaci.

Kita memang berbeda-beda dalam suku, bahasa, adat, warna kulit, pekerjaan, dll. Namun pada hakikatnya semua sama di hadapan Allah SWT. Yang membedakan nantinya hanyalah pada tingkat ketaqwaan dan amal sholihnya.

Semoga kita termasuk Hamba yang bersyukur, menjadikan perbedaan sebagai rahmat untuk saling berbuat baik. Dan semoga Allah menjaga negeri ini dari kehancuran dan bahaya rasisme. aamiin.

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-04, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment for "RASISME BUKTI KEKALAHAN INTELEKTUAL DAN BUDAYA JAHILIYAH"