Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meneropong Meratus dan Nasib Kalsel

Banjir Kalsel awal tahun ini merupakan banjir terbesar sejak 50 tahun yang lalu. Besarnya banjir kali ini merupakan dampak dari degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi Kalsel terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara. Ada lubang yang masih aktif, ada pula yang ditinggalkan tanpa reklamasi.

Oleh: Mahrita Julia Hapsari (Warga Banjarmasin)

Bumi Lambung Mangkurat menangis. Sebanyak 11 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan terdampak banjir (jawapos.com, 19/01/2021). Tiga kabupaten terdampak paling parah dengan banjir bandangnya, yaitu Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Hulu Sungai Tengah. Ketinggian air mencapai 3 meter, meruntuhkan rumah, meruntuhkan jembatan dan menghancurkan jalan.

Sementara, banjir dengan ketinggian selutut hingga sedada orang dewasa dirasakan warga Kabupaten Tapin, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Batola.

Melansir dari Jawapos.com (19/01/2021), ada 256.516 jiwa terdampak banjir. Data tersebut bersumber dari Badan Nasional Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Diduga kuat, jumlah korban banjir terus bertambah, areal banjir semakin meluas, karena hingga hari ini (20/01/2021) banjir masih melanda.

Banjir Kalsel awal tahun ini merupakan banjir terbesar sejak 50 tahun yang lalu. Besarnya banjir kali ini merupakan dampak dari degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi Kalsel terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara. Ada lubang yang masih aktif, ada pula yang ditinggalkan tanpa reklamasi.

Darurat ruang dan darurat bencana ekologis sedang terjadi di Kalsel, menurut Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono. Lebih lanjut dikatakannya, hampir 50 persen dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit.

Terjadinya penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare. Penurunan tersebut terjadi sejak tahun 2010 hingga 2020, demikian penjelasan dari Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh di LAPAN, Rokhis Khomarudin. Hal yang sama disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH), berkurangnya area hutan primer dan sekunder hingga lebih dari 62,8% menjadi pemicu banjir Kalsel (bbc.com, 18/01/2021).

Meneropong Meratus

Pegunungan Meratus dan hutannya ibarat atap bagi masyarakat Kalsel. Membentang sepanjang Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Meratus masih menjadi incaran perusahaan tambang batu bara. Meratus juga menjadi sumber air utama bagi tiga provinsi, termasuk Kalimantan Tengah.

Sebagai paru-paru terakhir hutan tropis, keberadaan pegunungan Meratus sangat vital. Jika ia dirusak, maka alamat bencana besar akan melanda. Untuk itu ada gerakan save Meratus sejak Kementerian ESDM mengeluarkan SK Operasional tambang batu bara bagi PT. MCM pada Desember 2017. PT. MCM yang tak memiliki ijin AMDAL dari Pemda ini tetap beroperasi karena mengantongi ijin dari kementerian ESDM.

WALHI dan masyarakat adat menggugat kementerian ESDM. Perjalanan panjang dan alot mewarnai persidangan yang ditempuh untuk menyelamatkan Meratus. Hingga Agustus 2020, gugatan WALHI dikabulkan MA. Persidangan terus berlanjut karena PT. MCM mengajukan PK.

Sementara proses peradilan berlangsung, pegunungan Meratus telah dijamah oleh tangan-tangan rakus para kapital. Secara fakta, kehadiran perusahaan tambang tersebut dilegitimasi oleh penguasa negeri lewat kementerian ESDM. Pegunungan Meratus terancam rusak dan mengundang bencana.

Nasib Kalsel

Rusaknya pegunungan Meratus jelas akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat Kalsel. Ibarat rumah yang atapnya rusak, fungsi melindunginya pun menjadi hilang. Masyarakat Kalsel, semenjak bencana banjir bandang ini pun dipaksa untuk bersiap menyambut banjir bandang berikutnya.

Aktivis lingkungan Chanee Kalaweit memprediksi Kalsel akan jadi langganan banjir bandang (jpnn.com, 18/01/2021). Deforestasi hutan menyebabkan air hujan tak ada yang menahan. Pohon-pohon sebagian besar telah ditebang untuk membuka lahan sawit dan tambang batu bara. Air langsung ke sungai-sungai, meluap dan terjadilah banjir bandang. Betapa malangnya nasib Kalsel.

Buah Sistem Rusak

Rusaknya lingkungan yang membawa bencana bagi manusia merupakan buah sistem kapitalisme. Sistem ini rusak dan merusak. Jaminan kebebasan di sistem ini menjatuhkan derajat manusia pada posisi binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-A'raf ayat 179.

Sifat rakus manusia tersalurkan di sistem ini. Dengan kebebasan kepemilikannya, gunung, hutan, laut, sungai pun bisa dibeli selama memiliki uang. Bahkan ketika tak memiliki uang pun, bank-bank siap menyuntikkan dana dengan sistem ribawi. Setelah dibeli, dieksploitasi sesuka hati menjadi sumber pemasukan pribadi.

Sistem ini juga melahirkan penguasa negeri yang bertugas sebagai regulator, bukan pelayan rakyat. Keberadaan negara justru membuat aturan-aturan agar kebebasan tanpa batas tiap-tiap individu terjamin. Lihatlah yang dilakukan kementerian ESDM, tanpa memikirkan dampak lingkungan, hanya demi kepentingan swasta korporasi, ijin tambang pun dikeluarkan. Pemerintah telah merevisi UU Minerba agar memudahkan swasta individu dan korporasi mengeksploitasi SDA.

Jika sistem kapitalisme dibiarkan memimpin dunia lebih lama lagi, bisa dipastikan bumi akan semakin rusak. Carut-marut hidup manusia menahan penderitaan akibat rusaknya lingkungan dan tatanan kehidupan sosial.

Islam Selamatkan Negeri

Mengembalikan pengaturan kehidupan kepada syari'at Allah SWT menjadi sesuatu yang urgen. Jaminan keberkahan dari Allah SWT dalam surah Al-A'raf ayat 96 akan didapatkan ketika manusia tunduk dan taat pada Allah.

Islam memiliki sistem ekonomi yang melarang pengelolaan kepemilikan umum oleh swasta individu dan korporasi. Kepemilikan umum itu seperti air laut, sungai, gunung, hutan serta semua yang terkandung di dalamnya. Negara mengelola dan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan fasilitas umum. Ini yang akan menjaga lingkungan dari kerusakan, temasuk pegunungan Meratus.

Penguasa di sistem islam akan menjadi pelayan umat. Atas pelayanannya itulah maka dirinya akan bertanggung jawab di akhirat kelak. Dia akan berpikir dan berupaya untuk menngantisipasi bencana dari awal.

Membangun kanal-kanal, drainase dan menata ruang kota akan dilakukan. Untuk mencegah banjir saat musim hujan. Karena sejatinya, air yang Allah turunkan melalui hujan adalah rahmat, bukan bencana. Wallahu a'lam []

Post a Comment for "Meneropong Meratus dan Nasib Kalsel"