Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga muslim, Cinta Rasul Cinta Syariah

kaum muslimin sadar dan kembali kepada sistem Islam yang diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang pernah menjadi mercusuar dunia selama 1300 tahun. Pelindung dan perisai bagi umat Islam, menjaga keamanan, keselamatan harta kekayaan umat, dan pastinya dia akan menunjukkan kepada dunia akan kemuliaan penerapannya dan menghapus opini sesat dan menyesatkan tentang Islam dan kaum muslimin, karena sesungguhnya Islam itu agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Karena Allah lah yang akan meninggikan dan memenangkannya meskipun orang-orang kafir membencinya.

Oleh: Hanin Syahidah

Seolah tak puas kaum muslim dihancurkan melalu sistem sekuler. Kini, benteng pertahanan terakhir umat Islam dalam keluarga pun terus digempur dengan opini yang buruk seputar radikalisme. Bahkan terorisme. Masih hangat dalam ingatan bagaimana ciri-ciri radikalisme itu disampaikan menteri agama sebelumnya, Fahrur razi. Beliau mengungkap strategi paham radikal masuk ke lingkungan ASN dan masyarakat melalui agen radikalisme, yang merupakan pemuda hafal Alquran (hafiz) hingga berparas menarik (good looking). (detikNews, 4/9/2020)

Opini menyesatkan ini berdampak pada kekhawatiran para orang tua. Para orang tua yang sebelumnya menginginkan anak-anaknya salih/ah dengan menjadikannya anak yang taat beragama, berpenampilan menarik (good looking), rajin salat dan hafiz Quran, terganjal karena dicurigai terlibat tindakan radikalisme, bahkan terorisme. Ditambah maraknya berita pelaku terorisme yang melibatkan satu keluarga.

Seperti yang dilansir Media Indonesia (14/4/2019), di tengah maraknya fenomena terorisme – radikalisme yang banyak melibatkan keluarga, pihak kepolisian dapat mengendus keberadaan terduga teroris justru dari laporan orang tua yang resah akan sikap radikal sang anak. Keberanian dan kewaspadaan sikap keluarga seperti itu pantas diteladani.

Berkaca dari hal ini, tak jarang makna radikalisme itu justru diarahkan kepada ciri-ciri kuatnya keislaman seseorang atau satu keluarga. Misal dengan indikasi taat beragama, hafiz Quran, dan sebagainya. Menurut Nurhasan, salah satu politisi PKS, pernyataan Menteri Agama ini tanpa bukti. Jika ada anak good looking yang hafiz Quran, paham bahasa Arab, faqih dalam agama dan berdakwah di lingkungan pemerintah, haruskah kita labeli pemuda itu dengan teroris dan radikal? Menteri Agama sudah gagal paham dan gegabah dengan statement tersebut. Nurhasan memambahkan, seharusnya Menteri Agama memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas capaian generasi muda bangsa yang memiliki penampilan menarik serta turut mengabdikan diri untuk berdakwah memberikan pendalaman mengenai ajaran Islam kepada masyarakat. (Kabar24.bisnis.com, 7/9/2020).

Ironis, seseorang yang justru memiliki kecenderungan untuk mendalami agamanya, malah dituding sebagai teroris atau radikalis. Padahal, berdasar hadis Nabi saw., keluarga sakinah itu memiliki beberapa indikitor berikut (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran). Yakni: (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni (a) suami/isteri yang setia (salih/salihah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya.” (ruangmuslimah.co, 4/6/2018)

Dari sini dijelaskan bahwa keluarga yang bersumber kepada syari'at Allah dengan mengikuti rangkuman hadis Rasulullah di atas adalah keluarga yang sakinah mawadah wa Rahmah, sehingga bentuk apapun dari radikalisme dan terorisme tidak dibenarkan oleh Islam. Unggahan media sosial Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, juga mengatakan bahwa terorisme itu bukan produk agama apalagi termasuk ajarannya. (BBCnewsIndonesia.com,15/5/2018). Maka, ketika bukti yang ditemukan berkali-kali pelaku terorisme dan radikalisme itu adalah kelompok muslim yang taat perlu didetili lagi apakah hal itu benar adanya, karena dalam Islam tindakan terorisme sangat dilarang.

Berdasarkan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada 16 Desember 2003 telah menetapkan fatwa tentang terorisme. MUI Memfatwakan terorisme atau aksi bom bunuh diri sebagai perbuatan yang diharamkan. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. antara lain: “Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berusaha melakukan kerusakan di muka bumi, yaitu mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang. Yang demikian itu suatu kehinaan bagi mereka di dunia sedangkan di akhirat mereka mendapat siksa yang pedih.” (QS Al-Maidah: 33).

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar dan dianiaya maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS An-Nisa’: 29-30)

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya…” (QS. Al-Maidah: 32)

Adapun dalil-dalil yang berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw. antara lain: “Tidak halal bagi seorang Muslim menakut-nakuti orang Muslim lainnya.” (HR Abu Dawud)

“Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya (Muslim) maka Malaikat akan melaknatnya sehingga ia berhenti.” (HR Muslim)

Kalau pelaku itu kebetulan muslim maka pada dasarnya dia tidak memahami ajaran Islam itu secara benar dan utuh. Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf Rangkuti mengatakan, paham radikal terorisme adalah sesuatu ajaran pemikiran menyimpang dari paham yang sebenarnya tentang Islam, jadi dia memahami ajaran Islam dengan tidak sempurna dan tidak mendalam. (liputan6.com, 20/6/2020)

Islam dengan kesempurnaan ajarannya sangat menolak tindakan terorisme, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah manifestasi keimanan muslim. Sehingga sangat wajar bukti keimanan itu terpancar dengan perilaku, dan sepanjang sejarah Islam sampai berabad-abad lamanya selalu membawa kegemilangan dan kemaslahatan bagi umat manusia, Islam selalu datang dengan Rahmat bagi seluruh alam itu sudah janji Allah: "Dan tidaklah Engkau (Muhammad) diutus kecuali untuk Rahmat bagi seluruh alam," (QS Al anbiya': 107)

Dalam firman yang lain juga disebutkan:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS Al ahzab: 21)

Itulah janji Allah terkait amalan seorang mukmin seharusnya. Jika kita mau kritis menelisik lebih dalam terkait munculnya narasi terorisme dan radikalisme sesungguhnya isu terorisme yang diarahkan kepada Islam dan kaum muslimin ini digaungkan setelah tragedi WTC 2011 di AS, sebagai negara adikuasa yang tidak ingin posisinya itu bergeser dari percaturan dunia. AS menyebarkan narasi War on terrorism dan diperbarui sekarang dengan War on Radicalisme dengan politik stick and carrot "apakah akan bersama Amerika atau bersama teroris" (Either, you are with us or you are with the terrorists).

Stick and Carrot ala Bush diwujudkan dalam bentuk invasi dan embargo kepada negara-negara yang tidak kooperatif dengan AS seperti Afghanistan, Irak dan Libya. Kemudian carrot (wortel) diberikan dalam bentuk bantuan keuangan dan pelatihan kepada negara-negara yang tunduk memerangi teroris atau radikalisme bersama AS.

Pergerakan ini tertuang dalam rekomendasi Cheryl Bernard dari Rand Corp, lembaga think-thank AS. Dalam laporan berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003), AS diharapkan merangkul kepala negara dan kelompok Islam moderat, tradisionalis juga sekuler liberal yaitu yang menerima demokrasi ala Amerika dan nilai hidup Barat lainnya. Tetapi di sisi lain menghadang dan memusuhi negara-negara dan kelompok Islam fundamentalis/ekstremis.

Politik belah bambu atas umat Islam di negeri dengan penduduk muslim terbesar ini sedang dimainkan. AS khawatir bahwa Islam akan bangkit di negeri ini. Karena prediksi dari penelitian mereka sendiri telah banyak muncul dari lembaga-lembaga yang mereka tunjuk. Sebut saja penelitian Pew Research Center, Amerika Serikat menyebutkan jumlah umat muslim diprediksi menjadi pemeluk agama paling besar di dunia pada 2070. (Tempo.co, 5/4/2015)

NIC (NationalI intellegence Council) memprediksi Khilafah akan tegak di 2020 sebagaimana ditulis dalam dokumen resminya, “A New Caliphate provides an example of how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system” [Maping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project].

Jadi, semua tidak lebih karena ketakutan AS akan kebangkitan peradaban Islam dalam bingkai khilafah Islamiyyah. Karena AS sebagai negara yang bersumber pada ideologi sekuler-Kapitalisme pasti tidak akan rela ada kebangkitan ideologi lain yang bertentangan dengannya. Maka untuk membendung hal itu dibuatlah narasi-narasi terorisme dan radikalisme yang menyudutkan Islam terutama penerapan Islam kaaffah.

Dengan demikian sudah sepatutnya kaum muslimin sadar dan kembali kepada sistem Islam yang diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang pernah menjadi mercusuar dunia selama 1300 tahun. Pelindung dan perisai bagi umat Islam, menjaga keamanan, keselamatan harta kekayaan umat, dan pastinya dia akan menunjukkan kepada dunia akan kemuliaan penerapannya dan menghapus opini sesat dan menyesatkan tentang Islam dan kaum muslimin, karena sesungguhnya Islam itu agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Karena Allah lah yang akan meninggikan dan memenangkannya meskipun orang-orang kafir membencinya.

Allah berfirman: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya." (QS. As-Shaff: 9)

Wallahu a'lam bi ash-shawab

Post a Comment for "Keluarga muslim, Cinta Rasul Cinta Syariah"