Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ilusi Kesetaraan yang Dihembuskan Pada Perempuan

Setelah puluhan tahun digagas dalam forum internasional, tanda-tanda kebangkitan perempuan dari keterpurukan dalam segala bidang dinilai kurang memuaskan. Gagasan kesetaraan gender yang dihembuskan kepada perempuan juga belum terwujud. Berderet konferensi diadakan untuk menentukan langkah efektif mewujudkan kesetaraan gender. Tahun 1994 konferensi di gelar di Kairo dengan kerja strategis PBB di antaranya mengadopsi the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) dan The International Conference on Population and Development (ICPD).

Oleh: Shafiyyah Fia (Pegiat Literasi Bangka Belitung)

Setelah puluhan tahun digagas dalam forum internasional, tanda-tanda kebangkitan perempuan dari keterpurukan dalam segala bidang dinilai kurang memuaskan. Gagasan kesetaraan gender yang dihembuskan kepada perempuan juga belum terwujud. Berderet konferensi diadakan untuk menentukan langkah efektif mewujudkan kesetaraan gender. Tahun 1994 konferensi di gelar di Kairo dengan kerja strategis PBB di antaranya mengadopsi the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) dan The International Conference on Population and Development (ICPD).

Tahun 1995 konferensi di Beijing melahirkan Beijing Declaration and Platform for Action (BPFA). Kerangka Aksi ini dilengkapi 12 bidang yang menentukan langkah strategis dengan fokus pada isu sosial ekonomi yaitu Perempuan dan Kemiskinan, Pendidikan dan Pelatihan bagi Perempuan, Perempuan dan Kesehatan, Tindak Kekerasan terhadap Perempuan, Perempuan dan Konflik Bersenjata, Perempuan dan Ekonomi, Perempuan dalam Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan, Mekanisme Kelembagaan untuk Kemajuan Perempuan, Hak Azasi Perempuan, Perempuan & Media, Perempuan & Lingkungan Hidup dan Anak Perempuan.

Berganti abad, pada September 2000 The Milenium Summit mengadopsi the UN Millennium Declaration, dengan delapan tujuan pembangunan (MDGs) yang akan dicapai pada tahun 2015. Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan perempuan dan anak perempuan, tahun 2010 Majelis Umum PBB mendirikan the United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women), bertepatan dengan evaluasi 15 tahun BpfA. Pada tahun 2014 dibuat kampanye solidaritas global HeForShe untuk melibatkan laki-laki dalam mewujudkan kesetaraan gender. Setiap tujuan yang ditetapkan terkait erat dengan memajukan hak-hak perempuan.

Namun tahun 2015, tujuan MDGs belum tercapai, sehingga UN Women mencanangkan kampanye Planet 50-50 by 2030 dan Step It Up untuk mempercepat perwujudan kesetaraan gender. Sehingga sepanjang tahun 2019-2020 kemarin digelar berbagai agenda untuk memperingati 25 tahun Deklarasi Beijing dan Kerangka Aksinya. Kampanye baru disebut “Generation Equality—Realizing women’s rights and an equal future”.12 Kampanye yang diikuti forum “Beijing + 25 Youth Task Force” ini untuk melibatkan kaum muda dalam mewujudkan kesetraan gender.

Kesetaraan gender masih dianggap yang harus diperjuangkan semua orang tanpa memandang agama, ras, bangsa, maupun apa pun. Padahal, jika kita meneliti sejarah lahirnya ide ini, dan menelaah secara seksama pemikiran ini, maka kita akan dapati bahwa jelas ini bukan ide universal. Ide ini memiliki akar dalam sejarah Barat dan pengalaman para feminis Barat. Ide ini lahir karena adanya diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan di berbagai belahan dunia di masa lampau termasuk di negara-negara Barat.

Fakta diskriminasi di masyarakat Barat itulah yang kemudian menyebabkan perempuan Barat menuntut keadilan dan kesetaraan perempuan. Mereka mencari kebebasan dan kemandirian, bebas dari dominasi laki laki dan mandiri dalam menentukan sikap dan mengelola hak milik mereka baik kekayaan maupun diri (tubuh) mereka sendiri.

Ide kesetaraan gender dianggap memberikan solusi berbagai persoalan yang mendera kaum perempuan. Ide ini terus digencarkan hingga disebarluaskan tak terkecuali negeri-negeri muslim yang menjadi sasaran. Mereka berpandangan peran domestik kaum perempuan adalah bentuk penindasan terhadap perempuan. Perempuan dianggap pihak yang terjajah dalam hubungannya dengan laki-laki sebagai pihak penjajah. Kaum perempuan harus bekerja keluar dari peran domestiknya demi mewujudkan kebebasan dan kemandirian ekonomi. Tak melulu bergantung kepada lelaki.

Namun, apa yang terjadi? Peran Ibu sebagai pendidik dan pengurus rumah tangga ditinggalkan, anak terancam masa depannya dan tidak terdidik dengan benar. Peran perempuan sebagai ibu generasi akan terabaikan, anak-anak akan tumbuh tanpa bimbingan dan sangat potensial melakukan berbagai kenakalan remaja. Kehancuran kehidupan manusia dan perempuan menjadi korban. Tatanan masyarakat justru rusak, kebebasan berperilaku dan kehancuran keluarga menjadi marak karena hilangnya peran Ibu dan Ayah. Dengan dalih memberi solusi atas kenestapaan dan keterpurukan nasib perempuan, namun justru membuat jurang masalah yang semakin pelik untuk diselesaikan. Inilah akibat mengadopsi ide secara serampangan dan tanpa pertimbangan.

Dalam sistem kapitalisme yang sedang berlaku saat ini, kesetaraan itu ibarat mantra yang dikaitkan dengan semua target pencapain. Tentu target pencapaiannya haruslah materialistik. Karena itu tidak soal bagi setiap negara untuk memperdaya perempuan demi pencapaian target kapitalis yang diukur melalui capaian angka-angka materi. Kapitalisme, dalam praktiknya, menjadikan perempuan dieksploitasi dan dalam pekerjaan, mendapat upah yang jauh lebih rendah. Para pemilik modal juga tidak akan rela memberi upah yang tinggi karena berpegang pada prinsip ekonomi kapitalis, yaitu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari modal yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, kesetaraan upah laki-laki dan perempuan tidak akan terwujud. Bahkan upah yang layak untuk laki-laki pun hanya mimpi.

Apalagi kapitalisme menjadikan manfaat sebagai asas segala sesuatu dan mekanisme pasar menjadi tempat pijakannya. Lebih dari itu, kapitalisme hanya berpihak kepada para kapital pemilik modal, kesetaraan hanya sekadar wacana dan bukan realita. Sebuah upaya global untuk menghancurkan tatanan masyarakat terkecil yaitu keluarga atas nama kesetaraan gender.

Sebagai sebuah ide, sejatinya kesetaraan gender hanyalah ilusi. Mustahil dapat diwujudkan karena bertentangan dengan kodrat manusia. Secara fitrah, laki-laki dan perempuan diciptakan Allah SWT tidak sama. Masing-masing memiliki tugas khusus sesuai dengan kodratnya. Memaksakan perempuan menjalani tugas laki-laki, seperti mencari nafkah dan menjadi pemimpin dalam hierarki pemerintahan, akan memberikan beban ganda kepada perempuan.

Satu-satunya harapan adalah Islam, sistem hidup sempurna yang diturunkan Allah SWT. Islam telah menetapkan berbagai hukum untuk manusia dalam sifatnya sebagai manusia. Islam juga menetapkan hukum-hukum khusus sesuai dengan jenisnya, laki-laki maupun perempuan. Perbedaan hukum ini bukanlah menjadikan perempuan lebih rendah, karena dalam Islam kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya kepada Allah.

Dalam ranah domestik, kehidupan suami istri bukan dalam rangka saling menentangi, akan tetapi saling melengkapi. Hubungan suami istri yang terjadi bukan ajang unjuk kekuatan, namun saling menguatkan. Sebagai Istri, perempuan wajib taat kepada suami, bukan berarti segala perintah suami dituruti, namun perintah suami wajib ditaati selama tak menyalahi hukum ilahi.

Adapun dalam ranah publik, perempuan dalam Islam diwajibkan beramar makruf nahi munkar seperti halnya laki-laki. Amar makruf nahi munkar bisa diartikan berdakwah melakukan muhasabah kepada penguasa, mengoreksi kebijakan yang dzalim, menyeru diterapkan hukum Allah. Karena kewajiban berdakwah berlaku umum.

Selain itu, Islam tak pernah memberikan pengekangan kepada perempuan dalam perkara-perkara umum yang berlaku pula untuk laki-laki. Semisal, menuntut ilmu, mengajar, bekerja dan sebagainya. Islam membolehkan setiap Muslimah bekerja dalam keahliannya seperti menjadi guru, dokter, perawat, dosen dan sebagainya dengan syarat tak melalaikan kewajiban utama sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Karena bekerja dalam pandangan Islam adalah perkara mubah, sedang tugas utama sebagai ibu dan pengurus rumah tangga adalah perkara wajib

Sudah saatnya kita sadar, bahwa tidak ada satu alasan pun yang membuat kaum muslim harus ikut-ikutan mengadopsi, mempropagandakan, bahkan memperjuangkan ide kesetaraan gender, yang jelas tak mampu menyelesaikan persoalan perempuan, tak mampu menghantarkan perempuan pada kemuliaan. Mari kita songsong harapan baru bagi penyelesaian masalah perempuan dengan solusi paripurna bukan sekedar ilusi semata. Keteraturan peran laki-laki dan perempuan itu sudah Allah gariskan sesuai fitrah dan kemampuan masing-masing. Tak perlu mencari contoh yang lain. Dengan Islam sudah cukup menjadi teladan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bi ash-shawab [SF]

Post a Comment for "Ilusi Kesetaraan yang Dihembuskan Pada Perempuan"