Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Duka Negeri, Saatnya Intropeksi Kembali pada Aturan Ilahi

Adanya musibah dan rentetan duka di negeri ini, seharusnya mampu memperkuat persatuan umat muslim dengan kembali pada hukum aturan Islam yang sempurna. Karena hanya sistem aturan yang berasal dari Allah Swt yang pasti akan menjadi solusi kehidupan. Ini sudah pernah terbukti selama 1300 tahun sejarah peradaban Islam begitu mulia, mencapai puncak keemasannya, di rasakan oleh Muslim dan Nonmuslim. Dan di akui oleh para cendikiawan, ilmuan barat bagaimana mahsyurnya kepemimpinan Islam memimpin dunia.

Oleh : Nelly, M.Pd. | Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan

Duka masih menyelimuti tanah air di awal tahun baru ini, setelah rentetan peristiwa menghenyakkan dada. Memasuki pertengahan Januari 2021, serangkaian bencana hingga tragedi telah menimpa berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, tanah longsor di Sumedang, Jawa Barat, Gempa di Majane Sulawesi Barat, hingga banjir yang melanda di sejumlah daerah dan yang terparah saat ini terjadi di Kalimantan Selatan (Warta Pontianak, 15/1/2021).

Selain itu, Indonesia juga sebagaimana diketahui masih berjuang melawan Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak awal Tahun 2020 hingga sekarang belum ada tanda akan berakhir. Duka itupun terasa memuncak saat di waktu yang hampir bersamaan dikabarkan ulama dan pendakwah kondang Syekh Ali Jaber yang meninggal dunia pada Kamis (14/1/2021) sekitar pukul 08.30 WIB. Menyusul sehari setelahnya kabar duka kembali datang dari kalangan ulama Tanah Air. Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf wafat, detikcom, Jumat (15/1/2021).

Tahun baru yang dipenuhi harapan indah dari seluruh warga masyarakat itupun berubah seketika dengan rentetan musibah, tragedi dan duka yang menimpa negeri. Lantas bagaimana negeri ini sebagai negeri yang mayoritas Muslim memaknai musibah, peristiwa dan duka yang mewarnai tanah air seperti saat ini?

Dalam tulisan ustadz Arif B. Iskandar seorang pendakwah, beliau menulis bahwasannya diriwayatkan Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa jika langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah Baginda Nabi Muhammad Saw. yang biasanya memancarkan cahaya akan terlihat pucat-pasi. Sebab takut kepada Allah SWT. Beliau lalu keluar, lalu masuk ke Masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa, “Ya Allah…aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dia kandung dan keburukan apa saja yang dia bawa.”

Aisyah ra. bertanya, “Ya Rasulullah, jika langit mendung, semua orang merasa gembira karena pertanda hujan akan turun. Namun, mengapa engkau tampak ketakutan?”

Nabi Saw. menjawab, “Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa awan hitam dan angin kencang itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum ‘Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Saat awan mendung, mereka bergembira karena mengira hujan akan turun. Padahal Allah kemudian mendatangkan azab atas mereka.” (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Masya Allah! sudah sepantasnya seorang Muslim takjub dengan rasa takut Rasulullah Saw. kepada Allah SWT. Bayangkan, Rasul Saw. adalah kekasih-Nya. Penghulu ahli surga. Allah SWT mustahil mengazab beliau.

Namun, rasa takut kepada Allah SWT sering menyelinap dalam batin beliau di saat-saat awan mendung dan angin kencang.

Bagaimana dengan para Sahabat beliau? Sama saja. Para Sahabat adalah juga orang-orang yang paling takut kepada Allah setelah Baginda Rasulullah Saw. Padahal sebagian mereka telah dijamin masuk ke dalam surga-Nya.

Demikian pula para tabi’in dan generasi sesudah mereka. Kebanyakan mereka adalah generasi yang mengisi hari-harinya dengan amal-ibadah. Malam-malamnya diisi dengan zikir, tilawah Alquran dan qiyamul lail. Siangnya sering diisi dengan shaum sembari tetap mencari nafkah, berdakwah bahkan berjihad (berperang) di jalan Allah SWT.

Namun demikian, rasa takut mereka terhadap Allah SWT begitu luar biasa. Bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sungguh, musibah demi musibah di negeri ini sudah sering terjadi. Mulai dari tsunami, gunung meletus, banjir bandang, kebakaran hutan hingga gempa bumi yang beruntun terjadi. Namun, sepertinya musibah demi musibah itu datang sekadar menimbulkan duka-lara seketika, kemudian setelah itu tak berbekas apa-apa.

Banyak orang kemudian bermaksiat seperti biasa. Melakukan banyak dosa seperti sedia kala. Penguasa dan wakil rakyat tetap menerapkan hukum-hukum kufur. Para ulama pun seolah tetap merasa ‘nyaman’ dengan tidak diberlakukannya hukum-hukum Allah.

Kaum Muslim secara umum juga sepertinya tetap merasa ‘enjoy‘ dengan berbagai kemaksiatan dan kezaliman yang ada.

Padahal Allah SWT berfirman: “Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku”. (TQS al-Mulk [67]: 16-18).

Allah SWT juga berfirman: “Apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya); tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya”. (TQS ar-Ra’d [13]: 41).

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari “Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya” adalah dengan tenggelamnya sebagian bumi, gempa dan berbagai macam bencana. Semua ini, sebagaimana terungkap dalam ayat di atas, adalah semata-mata atas kehendak Allah SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 51).

Harus disadari, segala bentuk bencana alam merupakan bukti kemahakuasaan Allah SWT. Dengan itulah kita seharusnya menyadari. Betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan kemahakuasaan Allah.

Dengan itulah, kita seharusnya menyadari betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan kemahakuasaan Allah.

Harus disadari pula, dengan bencana alam itu Allah sebetulnya hendak menguji kesabaran manusia (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

Lebih dari itu, harus disadari bahwa berbagai bencana dan musibah yang terjadi merupakan teguran sekaligus peringatan agar kita terdorong untuk rajin melakukan muhasabah (introspeksi diri). Muhasabah tentu sangat penting. Dengan itu, setiap Muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT, dan sejauh mana ia benar-benar telah menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dengan itu pula, setiap saat ia akan terdorong untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya.

Tentu, intropeksi/muhasabah wajib dilakukan setiap saat, bukan sekadar saat-saat terjadi musibah, seperti saat ini.

Marilah semua pihak manfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat massal. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak.

Alangkah baiknya di awal tahun ini, kita semua berburu ampunan Allah ta’aala. Terlebih pada masa pendemi saat ini, bisa jadi wabah, musibah ini Allah turunkan sebagai buah dari maksiat serta dosa kita yang telah jauh dari tuntunan agama.

Maka sebaiknya kita ikuti contoh teladan kita, Nabi Muhammad Saw. Beliau dikabarkan tidak kurang dalam sehari semalam mengucapkan kalimat istighfar seratus kali. Padahal beliau telah dijanjikan oleh Allah akan dihapuskan segenap dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Bahkan dalam satu riwayat beliau dikabarkan dalam sekali duduk bersama majelis para sahabat beristighfar seratus kali. Masya Allah…!

Di antara karakter orang bertaqwa ialah sibuk bersegera memburu ampunan Allah ta’aala dan surga seluas langit dan bumi. Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133).

Lebih jauh, marilah kita semua introspeksi diri dengan menjadikan momentum tahun baru ini menjadi titik tolak taubat bersama atas kemaksiatan dalam pengabaian hukum Allah baik bagi pribadi maupun dalam bernegara. Kemaksiatan terbesar adalah saat hukum dan aturan Allah tidak kita terapkan secara kaaffah.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan pencipta-Nya, dirinya dan sesamanya.

Syariah Islam yang terkait pengaturan manusia dengan Tuhannya (seperti ibadah ritual) dan dirinya sendiri (seperti akhlak) ini bisa dilaksanakan oleh individu. Meski demikian, untuk kesempurnaannya harus ada peran negara di dalamnya. Adapun syariah yang terkait pengaturan hubungan manusia dengan sesamanya (muamalah dan ‘uqûbât/sanksi hukum) harus dilaksanakan oleh negara.

Misalnya muamalah yang terkait pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik, keamanan dan sebagainya. Hanya sebagian kecil aktivitas muamalah yang bisa dilaksanakan tanpa peran negara. Syariah Islam yang mengatur masalah ‘uqubat (sanksi hukum) seperti hukum hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat, mutlak harus dilaksanakan oleh negara, tidak boleh dilaksanakan oleh kelompok apalagi individu.

Faktanya, walau sebagai negeri muslim terbesar di dunia, namun rangkaian proses sekularisasi yang di adopsi oleh bangsa ini. Penyebaran ide sekularisme itu berjalan seiring dengan penyebaran ide pluralisme dan liberalisme (kebebasan) serta menjadi bagian penting dari demokratisasi di negeri ini.

Perlu dicatat, sekularisasi di negeri ini dan di negeri-negeri Muslim lainnya didukung oleh negara-negara Barat, mereka berkepentingan untuk melanggengkan ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Muslim, sekaligus menyingkirkan ideologi Islam sebagai rival dan ancaman utamanya.

Oleh karena itu pada kesempatan ini, selain perlu dibahas masalah ibadah dan akhlak yang perlu diperbaiki, perlu juga disampaikan dan dikampanyekan secara gencar penerapan syariah Islam yang bersifat menyeluruh.

Hal ini sebagai upaya membersihkan pemikiran umat dari ide sekularisme, sekaligus menyelamatkan umat dari bahaya propaganda sekularisme yang bermuara pada kepentingan negara-negara kapitalis, penjajah di negeri-negeri Muslim.

Islam tidak memisahkan urusan spritual dengan politik karena keduanya diatur dalam syariah Islam. Politik Islam adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri menurut syariah Islam. Karena itu dalam Islam politik merupakan perkara yang mulia. Politik dilaksanakan oleh negara dan umat. Negara secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut.

Pengaturan urusan umat di dalam negeri dilakukan oleh negara dengan menerapkan ideologi Islam dengan syariahnya secara kaaffah.

Pengaturan urusan umat di luar negeri dilakukan dengan cara mengadakan hubungan dengan berbagai negara, bangsa dan umat lain dalam rangka menyebarluaskan ideologi Islam ke seluruh dunia.

Politik Islam, yakni pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam, tidak dapat dipisahkan dengan aspek ritual spiritual Islam.

Islam dan politik merupakan satu kesatuan dalam struktur sistem Islam. Pengertian politik seperti itu disandarkan pada hadis-hadis yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksi penguasa serta pentingnya mengurus kepentingan kaum Muslim.

Politik Islam itu dijalankan langsung oleh para nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw. Sepeninggal Nabi Muhammad Saw., politik Islam secara praktis dijalankan oleh para khalifah.

Karena itu realisasi politik Islam pasca Nabi Muhammad Saw. itu terkait erat dengan keberadan para khalifah dengan sistem Khilafah, seperti yang tampak sejak masa Khulafaur Rasyidin. Hal itulah yang diisyaratkan oleh Rasul Saw. dalam sabda beliau: "Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang ada adalah para khalifah yang banyak". (HR Muslim).

Demikianlah pengertian politik yang syar’i karena diambil dari dalil-dalil syariah. Karena itu kaum Muslim semestinya tidak memisahkan urusan spiritual dengan politik Islam. Maka besar harapannya, musibah silih berganti kali ini dapat menjadi momentum penting yaitu untuk, meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Swt secara totalitas.

Baik dalam aspek ibadah spiritual maupun aspek politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Allah Swt telah menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna (QS al-Maidah : 3) dan mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia (QS an-Nahl : 89). Karena itu tidak ada yang layak untuk mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat kecuali Islam dengan syariahnya.

Allah Swt berfirman: "Jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan hari akhir" (TQS an-Nisa’ : 59).

Sangat jelas, ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah. Artinya, kaum Muslim diperintahkan untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu ketakwaan harus diwujudkan melalui ketundukan pada syariah Islam secara menyeluruh.

Adanya musibah dan rentetan duka di negeri ini, seharusnya mampu memperkuat persatuan umat muslim dengan kembali pada hukum aturan Islam yang sempurna. Karena hanya sistem aturan yang berasal dari Allah Swt yang pasti akan menjadi solusi kehidupan. Ini sudah pernah terbukti selama 1300 tahun sejarah peradaban Islam begitu mulia, mencapai puncak keemasannya, di rasakan oleh Muslim dan Nonmuslim. Dan di akui oleh para cendikiawan, ilmuan barat bagaimana mahsyurnya kepemimpinan Islam memimpin dunia.

Penerapan sistem Islam merupakan keniscayaan untuk mengakhiri berbagai problem dan keburukan yang diderita umat saat ini termasuk dalam menangani dan mengakhiri wabah pandemi Corona.

Maka, momentum duka negeri ini, saatnya introspeksi kita jadikan tonggak untuk kembali pada hukum aturan Ilahi. Insya Allah kejayaan dan kemuliaan umat Islam akan kembali dengan penerapan Islam kaaffah sebagaimana kanjeng Nabi Muhammad contohkan.

Wallahu’alam bis showab

Post a Comment for "Duka Negeri, Saatnya Intropeksi Kembali pada Aturan Ilahi"