Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demokrasi Mati karena Tirani, Khilafah Janji yang Pasti

Bicara tentang demokrasi, sistem yang selama ini dianggap sempurna dalam menjamin kebebasan seluas-luasnya tersebut pada kenyataannya hanyalah aturan yang rapuh. Bahkan Daniel Ziblatt dan Steven Levitsky mengawali bukunya Democracies Die dengan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu : "Is our democracy in danger?" (Apakah demokrasi kami dalam bahaya?)

Oleh : Ana Mujianah, S.Sos.I

Bicara tentang demokrasi, sistem yang selama ini dianggap sempurna dalam menjamin kebebasan seluas-luasnya tersebut pada kenyataannya hanyalah aturan yang rapuh. Bahkan Daniel Ziblatt dan Steven Levitsky mengawali bukunya Democracies Die dengan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu : "Is our democracy in danger?" (Apakah demokrasi kami dalam bahaya?)

Sebuah pertanyaan yang menurut mereka tidak pernah terpikir untuk ditanyakan. Bahkan mereka bedua telah bekerjasama selama 15 tahun untuk memikirkan, menulis, dan meriset tentang kegagalan demokrasi di berbagai tempat di Eropa dan Amerika Latin hingga akhirnya harus kembali ke negara asalnya yaitu Amerika Serikat, dan mereka pun mengatakan "Yet, we worry" (Namun, kami khawatir) melihat perpolitikan di Amerika yang memperlakukan lawan politiknya sebagai musuh, mengintimidasi kebebasan pers, bahkan menolak hasil pemilu.

Daniel Ziblatt dan Steven Levitsky mengatakan bahwa penyebab demokrasi sekarat sesungguhnya tidak hanya di tangan seorang jenderal yang memiliki kekuatan senjata untuk menggulingkan kekuasaan (at the hands of men with guns), tapi yang merusak demokrasi justru pemimpin terpilih (elected leaders) yang menumbangkan proses yang membawa mereka pada kekuasaan. Pemimpin terpilih inilah yang berpotensi menjadi penguasa tiran atau otoriter yang akhirnya merusak demokrasi itu sendiri.

Menurut Juan Linz (masih dalam buku How Democracies Die), ada 4 indikasi perilaku pemimpin yang otoriter:

1. Menolak demokrasi, baik dengan perkataan atau perbuatan aturan-aturan dalam demokrasi

Ciri-ciri perilaku pemimpin yang seperti ini adalah apakah mereka menolak UUD/ memiliki keinginan melanggar UUD, menolak organisasi tertentu, membatasi hak-hak dasar/hak politik warga negara atau apakah mereka mencoba merongrong legitimasi pemilu dengan menolak hasil pemilu yang kredibel.

2. Menolak legitimasi lawannya atau rivalnya

Cirinya adalah apakah mereka menggambarkan lawan politiknya sebagai subversif dan bertentangan dengan UU yang ada, mengklaim rival mereka sebagai ancaman keamanan negara atau ancaman bagi pandangan hidup negara, dan menganggap rival mereka sebagai kriminal sehinga mereka keluar dari arena perpolitikan.

Selain itu ciri yang lainnya adalah apakah mereka tanpa dasar menunjukkan bahwa saingan mereka adalah agent asing. Atau dengan kata lain menganggap apa yang dibawa lawan politiknya itu ide transnasional.

3. Mentoleransi atau mendukung kekerasan

Ciri behavior authoritarian (perilaku otoriter) yang ke-tiga adalah apakah mereka memiliki kaitan dengan geng bersenjata atau organisasi yang melakukan pendekatan dengan kekerasan/di luar hukum. Atau apakah mereka mensponsori/mendukung tindakan main hakim sendiri. Bahkan mereka mendukung diam-diam kekerasan para pendukung mereka dengan menolak menjelaskan atau menghukum mereka, tetapi malah mengamini. Misalnya, pembiaran terhadap kelompok yang membubarkan pengajian dengan semena-mena.

4. Mengindikasikan keinginan untuk memberangus kebebasan sipil dari lawan-lawan politiknya termasuk media

Ciri perilaku otoriter yang ke-4 ini adalah apakah mereka mensupport kebijakan hukum yang membatasi kebebasan sipil, di antaranya membatasi protes, kritik terhadap pemerintah, organisasi sipil/politik tertentu. Atau apakah mereka mengancam akan mengambil tindakan hukum yang diancamkan kepada para kritikus atau media. Misalnya, menjerat dengan UU ITE bagi rival mereka yang dianggap tidak sependapat.

Masih menurut Daniel Ziblatt dan Steven Levitsky, munculnya para penguasa tiran atau otoriter tersebut karena terpilihnya pemimpin yang "demagog" yaitu pemimpin yang tidak memiliki kemampuan tapi terpilih karena pencitraan. Pemimpin "demagog" ini menyerang kritik terhadap mereka dengan kasar dan istilah provokatif misal sebagai musuh, sebagai subversif, bahkan sebagai teroris. Sehingga pemimpin demagog inilah yang berpotensi menjadi penguasa tiran yang merusak sistem demokrasi itu sendiri.

Lalu bagaimana agar kita bisa keluar dari kekuasaan yang tiran dan semena-mena tersebut? Menurut Timothy Snyder dalam bukunya On Tyranny, untuk menghadapi penguasa tiran seseorang harus berani "stand out" (berbeda). Meskipun akan aneh untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang berbeda tapi tanpa itu tidak akan ada kebebasan.

Timothy Snyder berpesan "Be as couregeous as you can" (Jadilah seberani yang kamu mampu). Jika tidak ada dari kita yang berani mati untuk kebebasan maka kita semua akan mati di bawah tirany atau penguasa yang zalim. Sebagaimana hadits dari Jabir ra, Rasulullah Saw. bersabda : "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh," ( HR. Ath Thabrani)

Kesimpulannya, penulis buku On Tyranny dan How Democracies Die menunjukkan kepada kita semua bahwa rapuhnya demokrasi sejatinya bukan dari faktor eksternal tapi internal, yaitu para penguasa tiran yang terpilih dari proses demokrasi.

Oleh karena itu, butuh solusi sistem yang lain, dengan pandangan hidup yang kokoh dan aturan kehidupan yang sempurna. Sistem ini tentu tidak boleh didasarkan pada pandangan manusia. Karena jika menjadikan pandangan manusia sebagai dasar, kebenaran pun akan bersifat relatif. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada sistem Islam yang diterapkan dalam institusi Khilafah Islamiyyah.

Keberadaan kekhilafahan ini pun digambarkan oleh Mona Hasan dalam bukunya Longing for The Lost Chaliphate (Merindukan Khilafah yang Hilang) dengan sangat objektif. Beliau mengatakan tentang konsep Khilafah ini bahwa artikulasi klasik dari kekhilafahan Islam sebagai keniscayaan kewajiban atau kewajiban hukum dan kewajiban jamaah. Dan beliau pun tidak menemukan pendapat klasik tentang kekhilafahan kecuali sebagaimana pendapat Ibnu Khaldun, Ibnu Hazm, dan Imam Qurtubi, yang sepakat bahwa khilafah itu wajib.

Maka, sungguh benarlah hadits Rasulullah Saw. bahwa setelah masa kekuasaan diktator sebagaimana yang digambarkan oleh Timothy Snyder yaitu para penguasa tiran, akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.

Sebagaimana sabda beliau, "Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR. Ahmad, Shahih)

Wallahu a'lam bish shawab

Post a Comment for "Demokrasi Mati karena Tirani, Khilafah Janji yang Pasti"