Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak Pidanakan Ibu, Model Keluarga Kekinian

Jika sebuah keluarga diibaratkan seperti bangunan, maka orangtua adalah pondasi dalam bangunan tersebut. ketika pondasi itu rapuh, maka sebuah bangunan tidak akan kuat menahan setiap badai yang menerpa. Begitupula dengan sebuah keluarga, jika kedua orangtua tidak sejalan dan bahkan rapuh maka tidak heran ketika banyak sekali permasalahan yang menimpa. Seperti yang terjadi pada sebuah keluarga di Demak.

Oleh: Yulia Putbuha,S.Pd.I

Jika sebuah keluarga diibaratkan seperti bangunan, maka orangtua adalah pondasi dalam bangunan tersebut. ketika pondasi itu rapuh, maka sebuah bangunan tidak akan kuat menahan setiap badai yang menerpa. Begitupula dengan sebuah keluarga, jika kedua orangtua tidak sejalan dan bahkan rapuh maka tidak heran ketika banyak sekali permasalahan yang menimpa. Seperti yang terjadi pada sebuah keluarga di Demak.

Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota. Laporan yang di ajukan sang anak adalah dugaan KDRT. (Detiknews.com,9/1/2001)

Terlepas dari kesalahan yang dilakukan seorang ibu, sungguh miris jika sampai di bawa ke ranah hukum. Karena perjuangan seorang ibu ketika mengandung, melahirkan dan merawat tidak akan pernah bisa terbalas dengan apapun. Namun ternyata kasus seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Jika merunut pada kasus yang sama, kejadian serupa pernah terjadi di Lombok Juni 2020 lalu.

Seperti yang dilansir dari Tribunnews.com, (29/6/2020). Warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor.

Menilik pada kasus pertama, masalah tersebut terjadi karena rapuhnya ketahanan keluarga. Kemudian untuk kasus kedua, Permasalahan terjadi karena materi. Jadi, hubungan antara ibu dengan anak hanya diukur dengan untung rugi. Ketika kahadiran ibu membawa keuntungan maka interaksi ibu dan anak akan berjalan harmonis. Namun sebaliknya, ketika kehadiran sosok ibu hanya membawa kerugian maka hubungan itu akan renggang.

Jika ditarik kesimpulan dari kedua kasus tersebut, permasalahnya adalah jauhnya anak dari nilai-nilai agama. Hal ini disebabkan karena sistem sekuler yang tidak hanya memisahkan ajaran agama dalam kehidupan tetapi juga tertanamnya paham liberalisme dalam jiwa generasi milenial saat ini.

Dari kasus ini jelas, bahwa liberalisme gagal menghadirkan penghormatan terhadap ibu, gagal menghadirkan rasa tenang dan rasa nyaman dalam sebuah Keluarga. Sistem liberal hanya menghasilkan generasi durhaka, generasi yang tak bermoral dan generasi yang miskin akhlak.

Sangat berbeda dengan sistem Islam. Karena Islam adalah agama yang mampu mengatur dari mulai lingkup keluarga, masyarakat dan negara. Semua terdapat aturannya dalam Islam. Bagaimana Islam mengatur sebuah keluarga agar di dalamnya tercipta rasa tentram. Yakni dengan menanamkan akidah dan syari'ah.

Menanamkan akidah kepada keluarga sebagai pondasi keimanan yang dimana jika nilai ini tumbuh maka akan tumbuh rasa takut kepada Allah.

Sedangkan menanamkan syari'ah kepada keluarga, yakni dengan menumbuhkan keterikatannya kepada hukum syara yang terkait dengan perbuatan. Hal ini yang nanti akan menjadi pengendali diri.

Antara akidah dan syari'ah merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Oleh karena itu, ketika menanamkan akidah harus dibarengi dengan penanaman syari'ah.

Selanjutnya adalah peran masyarakat, masyarakat memiliki andil dalam pembentukan perilaku individu, terlebih dalam sistem sekuler seperti saat ini masyarakat kehilangan fungsi kontrol. Amar ma'ruf nahi mungkar dianggap sebagai pengekang Hak Asasi Manusia.

Jadi tak heran, ketika tumbuh generasi yang buruk, dikarenakan akibat dari lingkungan masyarakat yang buruk. Terlebih jika orangtua dalam keluarga tidak memiliki peran dalam pendidikan agama bagi anak. Dengan demikian lingkungan masyarakat Yang Islami sangat diperlukan demi terciptanya generasi mulia.

Selain peran keluarga dan masyarakat, ada peran yang sangat berpengaruh besar dalam membentuk suatu generasi mulia yaitu peran negara.

Saat ini negara menerapkan sistem kapitalisme yang melahirkan sekularisme dan liberalisme yang orientasinya pada materi belaka, akibatnya berpengaruh pada pola relasi antara anggota keluarga. Dan ujung-ujungnya menggoyahkan bangunan keluarga hingga rentan perpecahan. Dan akhirnya generasi tak bermoral yang tercipta. Oleh sebab itu, selama sistem ini diterapkan tidak akan mampu menjadikan keluarga, masyarakat dan negara sebagai relasi yang harmoni apalagi mencetak generasi mulia.

Maka dari itu, kebutuhan terhadap sistem Islam sangatlah urgen untuk diterapkan agar mampu menjalankan tiga pilar. Pilar pertama, pembinaan individu yang mengarah kepada pembinaan keluarga. Pilar kedua, kontrol masyarakat. Dan ketiga, adanya suatu sistem yang terpadu yang dilaksanakan oleh negara.

Dengan demikian, jika tiga pilar tersebut dapat dijalankan maka akan terbentuk individu-individu yang memiliki rasa takut kepada Allah swt, sebagai pengontrol dari setiap perbuatannya. Dalam sistem Islam tidak akan ada pertahanan keluarga Yang rapuh, tidak akan ada hubungan ibu dan anak hanya karena materi dan tidak akan ada anak memenjarakan ibu sebagai gambaran model keluarga kekinian.

Wallahu a'lam bishowab

Post a Comment for "Anak Pidanakan Ibu, Model Keluarga Kekinian"