Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wanita Kembalilah Pada Fitrah

Di bulan desember ini media sosial diramaikan dengan ucapan selamat hari ibu. Ibu merupakan sosok wanita yang sangat mulia karena Ibu menjadi tolak ukur kemuliaan sebuah peradaban manusia. Dari seorang ibulah terlahir generasi penerus peradaban.

Oleh : Emmy Emmalya (Penggiat Literasi)

Di bulan desember ini media sosial diramaikan dengan ucapan selamat hari ibu. Ibu merupakan sosok wanita yang sangat mulia karena Ibu menjadi tolak ukur kemuliaan sebuah peradaban manusia. Dari seorang ibulah terlahir generasi penerus peradaban.

Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para ibu yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum ibu dalam (upaya) memperbaiki masyarakat.

Makna inilah yang pernah diungkapkan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:

“Ibu adalah sebuah madrasah yang jika kamu mempersiapkannya, maka kamu telah menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya.”

Tapi hari ini kita menyaksikan peran wanita sebagai ummu warobatulbait tidak berfungsi lagi, karena wanita didorong untuk menopang ekonomi negara sehingga tugas utamanya untuk mendidik anak, sedikit demi sedikit terkikis dan wanita berbondong-bondong untuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonominya dengan dalih untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Ditambah lagi pengaruh dari para pengiat kesetaraan gender yang selalu melakukan upaya-upaya propaganda untuk mempengaruhi kaum wanita agar tidak mau kalah dengan kaum pria.

Wanita di Indonesia sebenarnya sudah lama dicekoki dengan racun emansipasi wanita yang salah dengan menganggap apabila wanita bekerja maka kehidupan ekonominya akan lebih baik. Padahal pada kenyataannya kemuliaan dan kesejahteraan yang diharapkan oleh kaum wanita itu tidak pernah terwujud hingga hari ini.

Fenomena wanita bekerja dianggap lebih mulia kedudukannya daripada wanita tidak bekerja, sebenarnya sudah terjadi sebelum terjadi krisis ekonomi. Dan sekarang ketika tertimpa pandemi dan ekonomi negara semakin terpuruk, dorongan agar wanita bekerja untuk menopang ekonomi negara semakin digencarkan. Apalagi momen ini dimanfaatkan oleh para pengiat gender yang menginginkan kesetaraan.

Ide-ide tentang pemberdayaan wanita di bidang ekonomi semakin digencarkan lagi oleh pihak-pihak yang mendukung kesetaraan gender dengan cara menghembuskan madu perbaikan ekonomi negara bahwa ekonomi negara akan meningkat apabila melibatkan peran wanita dalam ekonomi.

Hal ini diperkuat dengan apa yang dilansir oleh CNBC Indonesia (18/08/2018), bahwa Indonesia dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga US$ 135 miliar di tahun 2025 atau 9% pertumbuhan ekonomi di atas kondisi normal. jika Indonesia mampu meningkatkan hak-hak atas wanita atau kesetaraan gender serta mengurangi kesenjangan gender di bidang pendidikan. Demikian hasil riset terkini dari McKinsey Global Institute (MGI) bertajuk "Kekuatan paritas: Mempercepat kesetaraan perempuan di Indonesia (The power of parity: Advancing women's equality in Asia Pacific).”

Berdasarkan hal itu maka seruan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP) semakin dideraskan di tengah pandemi ini. Wanita diminta untuk berkontribusi nyata dalam meningkatkan perekonomian negara.

Namun sejatinya mustahil menyelesaikan situasi ini dengan program PEP karena penyebab situasi hari ini adalah cacatnya sistem ekonomi dunia.

Beban berat wanita di saat pandemi hari ini adalah cerminan fakta yang kesekian kalinya bahwa program gender gagal mewujudkan janji kesejahteraan wanita.

Dan juga cerminan fakta peradaban sekuler kapitalistik yang telah memberi ruang hidup yang buruk bagi wanita.

Selain itu dampak dari kritis ekonomi global juga tidak hanya menimpa kaum wanita tapi juga menimpa seluruh lapisan masyarakat. Masalah resesi ekonomi global yang memukul ekonomi era ini adalah sistem ekonomi sekuler yang cacat. Karena dasar ekonomi sekuler berbasis pada riba yang memang tidak pernah stabil.

Ekonomi berbasis riba tidak menghasilkan ekonomi yang produktif sehingga serapan tenaga kerja amat minim. Sementara program mempekerjakan wanita juga terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan ekonomi wanita.

Dengan demikian menjadikan wanita sebagai roda penggerak perekonomian negara merupakan solusi yang tidak berdasar. Karena pada hakekatnya keberadaan kaum wanita di muka bumi ini bukan ditugaskan untuk mencari nafkah tapi sebagai ibu dan pencetak generasi.

Oleh karena itu sudah saatnya wanita kembali kepada fitrahnya sebagai ibu yang memiliki peran strategis dalam mencetak generasi cemerlang dan berkualitas.

Islam Memuliakan Wanita

Islam merupakan agama satu-satunya yang memuliakan kaum wanita. Islam telah menempatkan wanita sesuai dengan fitrahnya. Dalam Islam wanita ditempatkan pada posisi yang sangat mulia yaitu sebagai ibu. Rosulullah saja ketika ditanya oleh sahabatnya siapa yang harus dihormati terlebih dahulu dari kedua orangtuanya, Rosulullah menyebut ibu-mu hingga tiga kali.

Lalu bagaimana Islam menyejahterakan wanita? Islam mewajibkan laki-laki dewasa untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, serta kerabat perempuan yang mampu dia tanggung. Jika tidak ada suami atau ayah yang bisa menafkahinya, maka tugas itu akan diambil alih langsung oleh negara Khilafah Islam.

Sedangkan kebutuhan pendidikan dan kesehatan memang digratiskan negara Islam ke semua rakyatnya. Dengan strategi itu, hak ekonomi perempuan sudah dijamin sejak dia lahir sampai menua.

Wanita juga bisa fokus berkonsentrasi dalam mencetak generasi berkualitas. Wanita juga masih bisa berperan di tengah-tengah masyarakat jika dia menghendaki hal itu.

Dengan strategi demikian, sistem Islam (Khilafah Islam) berhasil menyejahterakan perempuan berabad-abad dan menempatkannya pada posisi dimuliakan dan dihormati semua lingkungan di sekitarnya.

Wallahu’alam bishowab.

Post a Comment for "Wanita Kembalilah Pada Fitrah"