Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pluralisme Sosiologis vs Pluralisme Teologis

Istilah "Bhinneka Tunggal Ika" yang memberi arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, adalah istilah yang menggambarkan Indonesia yang beragam. Keanekaragaman itu terlihat banyaknya kebudayaan, sosial, ras, bahasa, agama dan banyak lagi, merupakan bentuk dari pluralisme itu sendiri.

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. | Penulis dan Praktisi Pendidikan

Istilah "Bhinneka Tunggal Ika" yang memberi arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, adalah istilah yang menggambarkan Indonesia yang beragam. Keanekaragaman itu terlihat banyaknya kebudayaan, sosial, ras, bahasa, agama dan banyak lagi, merupakan bentuk dari pluralisme itu sendiri.

Jika kita memahami lebih dalam lagi makna pluralisme menurut para ahli seperti Anton M. Moeliono (1990). Menurutnya, pluralisme adalah suatu hal yang memberikan makna jamak (tidak satu), misalnya segi kebudayaan yang berbeda-beda di suatu masyarakat. Menurutnya, arti pluralisme adalah keberadaan akan toleransi keragaman terhadap kelompok kultural dan etnik dalam masyarakat. (brainly.co.id, 1/11/2017).

Pluralisme Sosiologis

Tidak menjadi suatu masalah bagi siapapun termasuk muslim untuk menghormati dan menerima pluralisme sosiologis, yakni, keanekaragaman budaya, adat istiadat, bahasa, warna kulit bahkan apapun yang berkenaan dengan sosiologis dengan ketentuan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Menghormati keanekaragaman dalam hal sosiologis, tidak berhubungan dengan akidah sehingga setuju jika pluralisme sosiologis tidak menjadi masalah, bahkan justru memberikan penghormatan teehadap keanekaragaman ini bagian dari kepatuhan.

Pluralisme Teologis

Agaknya, tidak menjadi masalah jika pluralisme patut kita hormati dengan memahami bahwasanya, Islam pun memandang keanekaragaman sebagai khasanah keilmuan dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum Islam itu sendiri. Menilik pluralisme pada saat ini, yang selalu diarahkan pada pluralisme teologis (keberagaman agama) dan menganggap semua agama sama dan benar, serta harus dihormati melebihi batas toleransi Islam itu sendiri. Maka, hal ini akan memasuki dimensi akidah yang notobenenya bagi muslim wajib membatasi pada penghormatan untuk membiarkan dan mempersilahkan yang berbeda keyakinan untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya masing-masing, sebagaimana firman Allah swt

"Untukmu, agamamu dan untukku, agamaku" (TQS. Al-Kafirun: 6).

Sehingga, tidak diperkenankan untuk memaksakan kehendak memberikan penghormatan lebih dari hal tersebut. Misalnya mengharuskan muslim memberikan ucapan selamat bagi hari besar agama lain, atau menggunakan atribut yang kental dengan ibadah agama lain. Karena dalam Islam, hal ini akan merusak akidah dan tentunya masuk dalam ranah yang diharamkan.

Fenomena umat muslim yang menyerupai kebiasaan umat agama lain bukanlah hal baru. Apa lagi pergantian tahun baru masehi dari 2020 ke 2021 sebagian muslim ikut merayakannya. Bukankah syariat Islam melarangnya dengan tegas, bahkan Rasulullah Saw memberikan peringatan tentang keharaman menyerupai orang kafir dalam sabdanya:

(مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ) رواه أبو داود (4031) وصححه الألباني في صحيح أبي داود .

“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongannya.” (HR. Abu Dawud, (4031) dinyatakan shoheh oleh Albany dalam Shoheh Abi Dawud)

Semoga kita lebih bijak memilah, pluralisme seperti apa yang dapat kita toleransi tanpa merusak akidah. Maka jika kita dituntut untuk menghormati pluralisme, dapat kita katakan bahwa "Jika pluralisme sosiologis maka, dapat kita terima namun jika pluralisme teologis, wajib adanya pembatasan dengan membiarkan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk merayakan dan menjalankannya." WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Post a Comment for "Pluralisme Sosiologis vs Pluralisme Teologis"